MENULIS ADALAH “SYARIAT” GURU PROFESIONAL

Rubrik Literasi Oleh

Oleh: Ari Kristianawati *)

YB Mangunwijaya (alm) seorang novelis, budayawan, rohaniawan, arsitek pernah mengungkapkan seuntai kalimat yang memiliki kedalaman makna dan sarat pesan: “ pahlawan yang diakui dan disanjung tinggi oleh negara (bangsa) selama 32 tahun mayoritas adalah mereka yang memanggul senjata dan gugur di medan perjuangan. Namun. yang terlupakan adalah mereka (pahlawan) yang berjuang melalui guratan pena. Guratan pena yang justru sebenarnya yang membangun republik ini”.

Jika ditelaah secara kritis dan bijak apa yang dipesankan Romo Mangun di atas akan menemukan dimensi kebenaran aktual dan ideal saat ini dan episode sejarah yang berlalu. Para pahlawan pena, adalah pemikir yang berdebat dalam kerangka ilmiah serta dilandasi spirit nasionalisme yang melahirkan teks asli Proklamasi kemerdekaan, konstitusi republik (UUD 45) serta berbagai maklumat politik era perjuangan kemerdekaan.

Para pahlawan pena adalah juga kalangan aktivis pergerakan yang konsisten dalam menegakkan keyakinan akan pentingnya kemerdekaan para inlander dari hegemoni kolonial. Mereka aktivis dan sekaligius pemikir. Mereka negarawan yang juga penulis teori membumi. Mereka organisatoris sekaligus perancang konsepsi. Para pahlawan pena tidak akan dilahirkan dalam zaman yang berulang. Sosok Ir Soekarno yang kumpulan pemikirannya dikompilasi dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi”, Tan Malaka dalam berbagai tulisan “ideologis” seperti Madilog dianggap sejarawan terkemuka. Hary A Poeze sebagai sosok pemikir muda yang memahami zaman pergerakan.

Indonesia saat ini boleh disebut mengalami “inflasi” para politisi, para guru besar (professor), para konsultan ekonomi maupun politik, pengusaha, jawara-jawara “kontes” lomba olimpiade, sampai kandidat capres/cawapres, Namun mayoritas bukan kandidat pahlawan pena. Pahlawan yang menyumbangkan pemikiran, gagasan, kejujuran autentiknya bagi kemajuan bangsa tanpa secuil pamrih.

Sayang sekali para pahlawan pena kini belum lagi hadir di republik ini selama berpuluh-puluh tahun. Tidak hadirnya pahlawan pena, mengakibatkan kondisi stagnan bagi kemajuan pemikiran sosial bangsa sehingga harapan akan perubahan nasib kemakmuran-keadilan jauh panggang dari api.
****

Lantas apa hubungan emosional dan psikologis antara kisah pahlawan pena dengan kaum guru. Kaum “oemar bakrie” yang kini tidak lagi mengendarai sepeda “pancal” dengan gaji pas-pasan? Apakah para guru bisa menjadi pahlawan pena? Ataukah para guru harus menjalankan peran kesejarahan seperti para pahlawan pena yang menjadi the founding fathers republik ini?

Para guru kini menghadapi lembaran sejarah baru dan juga berhak menerima label hasil uji portofolio sebagai kaum “professional”. Menjadi kaum (guru) professional para guru dituntut oleh realitas objektif untuk memiliki standar kompetensi sosial, kompetensi akademik dan kompetisi profesi. Salah satu kompetensi akademik adalah kemampuan untuk menerjemahkan gagasan/pemikiran keilmuan dalam berbagai karya ilmiah. Karya ilmiah yang tidak hanya dalam imajinasi atau ungkapan verbal namun harus dimonumenisasikan dalam sebuah tulisan yang bisa ditafsir bacakan oleh orang lain.

Karya ilmiah yang dimonumenisasikan oleh para guru mencerminkan konstruksi kesadaran untuk membangun tradisi ilmiah dan aktifitas intelektual (intellectual exercise). Guru posisi dan fungsi sosialnya setara dengan scientist (ilmuwan/pengabdi ilmu), semacam dosen, peneliti, pengkaji ilmu pengetahuan. Karena guru bekerja untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan kepada komunitas pembelajar (siswa) dengan berbagai kreasi model pembelajaran, Kreasi model pembelajaran yang dituntut oleh dinamika perkembangan ilmu pengetahuan.

Nilai lebih guru dibanding komunitas “pengabdi ilmu” yang lain adalah guru bukan hanya “mengajar” namun mendidik. Mendidik komunitas pembelajar (siswa) dengan berbagai cakrawala pengetahuan teoritik dan pengalaman aktual dalam kehidupan. Cakrawala pengetahuan dan pengalaman hidup yang mengandung nilai-nilai filosofis, etik humaniora, serta prinsip kebaikan. Yang seharusnya bisa dinarasikan menjadi bahan ajar yang bisa dibaca dan dipelajari secara “utuh” oleh komunitas pembelajar.
*****

Aktivitas intelektual yang niscaya dijalani oleh guru yang terlanjur ‘dibabptis” sebagai kelompok professional, salah satunya menulis. Menulis tentang sumber bahan ajar, menulis pengalaman aktual yang berrelasi dengan ilmu pengetahuan, menulis karya ilmiah atau menulis artikel populer diruang media bagi mayoritas guru –diakui atau tidak– masih dianggap sesuatu yang “baru”, ”asing”, “berbeban berat”.

Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yang diasumsikan sebagai handicap (rintangan) yang sulit di-“takluk”-kan:
Pertama, masih rendahnya inisiatif personal dan komunal dikalangan guru untuk menjadikan “budaya” menulis –menulis apa saja– sebagai sarana penyampaian idea/gagasan/konsep kreatif. Guru masih “terpenjara” budaya lisan dalam kegiatan pembelajaran. Budaya demikian telah terpatri dalam kurun waktu berpuluh-puluh tahun karena politik kekuasaan dibidang pendidikan yang bercorak developmentalis. Menjadikan guru sekadar sebagai “agen” penyampai pesan ilmu pengetahuan yang diremote by control oleh kekuasaan.

Guru ditempatkan sebagai penyampai ilmu pengetahuan yang terkonstruksi oleh kurikulum pembelajaran yang tidak ada dimensi kebebasan akademik dan mimbar akademik. Saat era keterbukaan dan liberalisasi sektor pendidikan, mayoritas guru tergagap menghadapi fungsi aktualnya yang kini tidak lagi sekadar sebagai pendidik namun juga sebagai kaum professional dibidang fasilitas ilmu pengetahuan.

Kedua, minimnya stimulasi struktural dilingkungan otoritas pendidikan yang mampu menjadi pendorong bagi kaum guru, untuk benar-benar “terpaksa” dan bersedia menjadi penulis yang kreatif, inovatif dan penuh dengan orisinalitas konsep. Stimulasi struktural selama ini terbatas kepada kepentingan proyek anggaran seperti anggaran penyusunan bahan ajar yang sesungguhnya materi dasarnya statis karena dibatasi skema kurikulum yang senantiasa berubah. Serta kepentingan menyusun bahan ajar klasik semacam LKS, Modul, syllabus yang format dan materinya boleh dikatakan “membosankan”.

Baru pada beberapa tahun terakhir otoritas pendidikan mulai dan semakin tanggap akan kepentingan untuk meningkatkan kualitas SDM (human resources) para guru dengan berbagai program peningkatan standar kompetensi guru semacam training penulisan ilmiah bagi guru. Serta adanya penghargaan penulisan karya ilmiah –populer dan riset– dalam skema angka kredit yang memadai.

Ketiga, masih melekatnya ego pragmatisme dikalangan guru. Ego pragmatis dalam mempersepsikan diri mereka sebagai sekadar “tukang” penyampai bahan ajar dan menjalankan peran fungsional hanya sebagai pendidik diruang kelas. Para guru masih banyak yang enggan menjadi perangkai cerita keilmuan dalam wacana tulis (writing narrative) dan pengembang riset mikro dengan menjadikan “ruang kelas” sebagai objek penelitian inovatif.

Bahkan bagi sebagian besar guru tumbuh pameo negatif: “ngapain susah-susah belajar dan menulis lha wong tidak menulis kalau lulus uji portofolio sertifikasi standar gaji dan tunjangan profesinya juga sama.”
****

Pemerintah akhirnya telah menekan PP yang mengatur gaji dan tunjangan fungsional bagi guru/dosen. Amanat yang pokok –yang menarik bagi guru– adalah tentang kewajiban pemerintah (negara) memberikan gaji guru (PNS/CPNS) minimal 3 juta rupiah per bulan. Meski produk hukum dan kebijakan tersebut akan menimbulkan kecemburuan bagi mayoritas “sahabat” guru yang masih berstatus Tenaga Honorer/wiyata bhakti/GTT atau kalangan guru swasta yang tidak berlabel sekolah swasta unggulan.

Penghargaan profesi guru dengan standar gaji yang memadai tersebut seharusnya menjadi “cambuk” penyadaran bagi guru, bahwa jenis dan lingkup pekerjaan mereka kini menjadi terhormat ditengah masyarakat. Masyarakat yang masih menganggap standar kesejahteraan ekonomi sebagai indikator martabat seseorang.

Para guru harus mulai mengembangkan sensitifitas diri, ketika kini bergaji tinggi (ukuran kota kecil dan didaerah) dan di-“baiat” dengan label professional. Caranya Cuma satu: Para guru harus mampu dan mau, mengembangkan potensi diri (self development) sesuai karakter sosiologisnya sebagai pengajar-pendidik-pengembang ilmu pengetahuan.

Pengembangan potensi diri yang bisa dihargai publik adalah dengan meningkatkan inisiatif dan kegiatan intelektual. Membaca—meneliti-menguji konsepsi ilmu yang produknya bisa dikenali bahkan diimplementasikan dalam lingkup internal dan dalam relasi sosial masyarakat. Untuk bisa dikenali publik harus disampaikan dengan formula dan bahasa tulisan.

Menulis kini seharusnya menjadi “syariat” atau kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan oleh para guru yang telah masuk dalam lingkaran profesionalisme yang nyata. Menulis adalah kewajiban dan “ritual” pokok para guru ketika menjalani kehidupannya sebagai kaum professional.

Menulis tidak lagi sekadar dijadikan kegemaran personal atau sebagai unjuk eksistensi beberapa guru yang diasumsikan memiliki talenta sebagai sosok penulis tematik. seperti kolumnis media, cerpenis, novelis, esais diberbagai media populer. Namun menjadi prosesi kegiatan awal kaum guru professional yang mengabdikan diri dalam dunia ilmu pengetahuan dan pembelajaran masyarakat.
****

Selama ini banyak anggapan menulis adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Demikian anggapan berbagai kalangan guru, sering menganggap menulis adalah bukan termasuk “tupoksi” (tugas pokok dan fungsi) sebagai pendidik. Sehingga tidak dijadikan matra pembelajaran pribadi, untuk meningkatkan kemampuan.

Bagi mereka yang belum mencoba atau tidak pernah mencoba, menulis dianggap sebagai beban yang memberatkan diluar kewajiban pokok untuk mengajar siswa. Hal tersebut jelas adalah pandangan yang keliru, sebagaimana pandangan yang keliru yang menganggap ‘syariat” agama sulit dijalankan oleh para penganut agama yang sholeh.

Arswendo Atmowiloto dalam Buku “Menulis Cerpen, Yuk!” (1997) mengatakan bahwa menulis adalah pekerjaan yang menyenangkan. Ibarat rekreasi yang banyak faedahnya. Resep sederhana untuk menjadi “penulis” atau setidaknya bisa menulis adalah belajar mengutarakan isi hati, pikiran, pendapat dengan tulisan. Tulisan ala kadarnya yang diulang-ulang. Sehingga akhirnya ketika menjadi kebiasaan, akan mudah merangkai kalimat untuk mensistematiskan pemikiran melalui guratan “pena”. Menulis ibaratnya seorang petani yang karena terbiasa mencangkul disawah tidak akan terasa capek.

Dalam rangka mengembangkan kapasitas kepenulisan, guru “professional” memiliki kewajiban untuk melakukan langkah-langkah praktis:
Pertama, kewajiban yang menyenangkan untuk menggali berbagai informasi dan pengetahuan dari berbagai sumber, baik buku, media massa, media internet, sharing tokoh, pernyataan rekan sejawat, pengalaman hidup, maupun hasil riset. Kuncinya adalah rajin membaca apa saja yang bermanfaat bagi menggerakkan “sendi-sendi” otak kanan.

Kedua, “memaksakan” diri dengan senang hati, untuk mencurahkan gagasan/idea atau menyimpulkan (menafsirkan) apa yang diketahui dan dipahami melalui tulisan. Tulisan dalam bentuk dan format apa saja. Entah esai, artikel, cerpen, prosa, puisi, dan sebagainya. Hal tersebut merupakan bagian dari dasar creative writing.
Ketiga, berani mempublikasikan guratan pemikiran/idea dan penafsiran apa yang didapatkan dari sumber pengetahuan dalam berbagai bentuk/jenis tulisan dalam ruang media publik atau akademik. Dalam upaya (ikhtiar) untuk mempublikasikan jangan terlampau berharap untuk mendapatkan kehormatan untuk terpilih dalam pemuatan. Jangan pula berkecil hati jika belum bisa dimuar, dan jangan pula terjebak dalam arogansi pribadi ketika dihargai untuk disiarkan melalui media publik atau media akademik.

Justru hal tersebut menjadi cambuk untuk bergiat dalam menggali idea/wacana/gagasan dalam pengembangan “karir” kepenulisannya. Kerja penulisan bagi kalangan guru jika dilakukan atas kesadaran professional akan memberikan manfaat lebih. Menulis dan kerja kepenulisan akan menciptakan ruang dialektika pemikiran bagi guru, sehingga para guru tidak akan gagap ketika meresponsi perkembangan ilmu pengetahuan dan dinamika perubahan masyarakat.

Guru profesional yang menjalankan “syariat” menulis akan cenderung memiliki paradigma sosial yang selalu “baru” dalam berbagai momentum yang terjadi. Guru professional akan mampu mengembang tanggung jawab edukatif dan sekaligus memainkan fungsi sebagai intelektual organic. Sebagai intelektual organik melalui karya tulis yang dipublikasikan kepada publik menjadi sebuah “sumbang saran” bagi perbaikan keadaan baik dalam dimensi sosial-ekonomi-budaya maupun investasi ilmu pengetahuan. ***

Referensi:
1. Paulo Freire , Pendidikan yang membebaskan (LP3ES, 1985)
2. Moeslim Abdurrahman, Islam dan Transformasi sosial (LP3ES, 1987)
3. Arswendo Atmowiloto “ayo menulis cerpen” (Gramedia, 1997)

*) Ari Kristianawati, Guru SMAN 1 Sragen, Anggota Agupena Jawa Tengah, Penulis produktif di berbagai media massa lokal-nasional. Berbagai tema tulisan dimuat sporadis di Kompasjateng, Wawasan, Suara merdeka, Suara Karya, Sinar Harapan, Koran Tempo, Gema Rakyat, dsb.

Tags:

AGUPENA.OR.ID merupakan website resmi Agupena yang diluncurkan pada 10 Oktober 2016. Kehadiran website ini diharapkan bisa menjadi pendukung program Agupena di seluruh wilayah tanah air. Website dikelola oleh Sawali Tuhusetya (Bidang Pengembangan Profesi Agupena).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*