PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA BERBASIS QUANTUM LEARNING

Rubrik Esai/Sastra Oleh

Oleh Yuni Susilowati
(Pengurus Agupena Jawa Tengah)

Tujuan akhir pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yaitu penumbuhan dan peningkatan apresiasi sastra pada subjek didik. Aspek apresiasi ini merupakan aktivitas individu ketika terlibat kontak dengan karya sastra (Andayani, 2008: 15). Namun, tujuan pembelajaran apresiasi sastra ini belum tercapai. Belajar bahasa dan sastra Indonesia saat ini tak semenarik belajar bahasa Inggris dan Matematika. Apalagi bicara tentang sastra, pasti yang terbayang adalah karya-karya lama yang sudah tidak relevan dengan kehidupan zaman sekarang (Lailatul Rosida dalam http://malangraya.web.id/2008/10/30/belajar-bahasa-indonesia-tak-menarik-lagi/). Pendapat ini diperkuat oleh Taufik Ismail (2000: 3) bahwa pembelajaran sastra di sekolah Indonesia pada enam dekade terakhir sejak 1945 hingga 2002 kurang membawa pencerahan bagi siswa. Tampaknya, pembelajaran sastra memang pembelajaran yang bermasalah sejak dahulu. Keluhan-keluhan para guru, siswa, dan sastrawan tentang rendahnya tingkat apresiasi sastra selama ini menjadi bukti konkret adanya sesuatu yang tak beres dalam pembelajaran sastra di lembaga pendidikan formal.

Padahal, pembelajaran sastra di sekolah sangat bermanfaat bagi siswa. Burhan Nurgiyantoro (2005a: 35) mengungkapkan ada dua nilai yang dapat diambil dari pembelajaran sastra, yaitu nilai personal dan nilai pendidikan. Nilai personal ini meliputi perkembangan emosional, intelektual, imajinasi, pertumbuhan rasa sosial, dan pertumbuhan rasa etis dan religious. Adapun nilai pendidikan ini mencakup: (1) eksplorasi dan penemuan, (2) membantu keterampilan berbahasa (3) mengembangkan cipta dan rasa atau nilai keindahan, (4) menanamkan wawasan multikultural, dan (4) penanaman kebiasaan membaca. Dalam kaitannya dengan bahasa, sebuah karya sastra dapat meningkatkan keempat kemampuan berbahasa seperti medengarkan, berbicara, membaca, dan menulis untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan deskripsi di atas, dipandang perlu adanya pengembangan berbagai pendekatan, strategi, dan metode pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Pendekatan pembelajaran yang dapat menambah motivasi berprestasi siswa dan menumbuhkan pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dialogis, kreatif dan dinamis sebagaimana tuntutan Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Belajar bermakna diartikan sebagai proses mengaitkan informasi-informasi baru pada konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Pembelajaran harus berpusat pada siswa sehingga pembelajaran yang berpusat pada guru harus ditinggalkan

Quantum learning adalah pembelajaran yang mengoptimalkan belajar siswa dan motivasi beprestasi siswa. Pendekatan ini diibaratkan seperti mengubah energi menjadi cahaya, seperti halnya pada teori kuantum (DePorter dan Hernacki, 2008: 14). Dari proses inilah, quantum learning menciptakan konsep motivasi, langkah-langkah menumbuhkan minat, dan belajar aktif. Membuat simulasi konsep belajar aktif dengan gambaran kegiatan seperti: “belajar apa saja dari setiap situasi, menggunakan apa yang Anda pelajari untuk keuntungan Anda, mengupayakan agar segalanya terlaksana, bersandar pada kehidupan.” Gambaran ini disandingkan dengan konsep belajar pasif yang terdiri dari: “tidak dapat melihat adanya potensi belajar, mengabaikan kesempatan untuk berkembang dari suatu pengalaman belajar, membiarkan segalanya terjadi, menarik diri dari kehidupan.” (Akhmad Sudrajat dalam http://akhmadsudrajat.wordpress.com).

Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dengan pendekatan quantum learning ini akan membawa siswa dalam situasi pembelajaran yang santai, menyenangkan, menakjubkan, dan menggairahkan. Pendekatan pembelajaran yang semacam ini akan menumbuhkan motivasi yang tinggi pada siswa untuk belajar (Nyoman S. Degeng, 2005: 4). Dalam hal ini, guru dituntut untuk menciptakan lingkungan kelas yang dinamis yang tidak terpaku pada tempat duduk yang statis, namun senantiasa menyenangkan bagi siswa. Ditambahkan olehnya, bahwa dalam orchestra belajar, segalanya bicara, segalanya bertujuan, siswa ikut mengalami, menghargai setiap usaha siswa, dan kelas harus merayakan keberhasilan siswa (2005: 5).

DePorter, Reardon, dan Nourie (2008: 6) menyebutkan bahwa pendekatan quantum learning berlandaskan pada konteks dengan “suasana menggairahkan, landasan kokoh, lingkungan yang menyenangkan, dan pembelajaran yang dinamis”. Dengan konteks seperti itu, motivasi dapat dibangun dan di samping itu, juga tumbuh sense of belonging antarsiswa dan ada interaksi antara siswa dengan guru, siswa dengan kurikulum, siswa dengan keterampilan belajar, dan antara siswa dengan life skills (Nyoman S. Degeng, 2005: 6).

Pada dasarnya, quantum learning adalah suatu konsep belajar dengan membiasakan belajar dengan suasana nyaman dan menyenangkan. Dalam kaitan itu, quantum learning mengonsep tentang “menata pentas: lingkungan belajar yang tepat.” Penataan lingkungan ditujukan kepada upaya membangun dan mempertahankan sikap positif. Sikap positif merupakan aset penting untuk belajar. Peserta didik dikondisikan ke dalam lingkungan belajar yang optimal baik secara fisik maupun mental. Dengan mengatur lingkungan belajar demikian rupa, para pelajar diharapkan mendapat langkah pertama yang efektif untuk mengatur pengalaman belajar.

Penataan lingkungan belajar ini dapat dilakukan dalam lingkungan mikro. Lingkungan mikro ialah tempat peserta didik melakukan proses belajar (bekerja dan berkreasi). Quantum learning menekankan penataan cahaya, musik, dan desain ruang, karena semua itu dinilai mempengaruhi peserta didik dalam menerima, menyerap, dan mengolah informasi. Ini tampaknya yang menjadi kekuatan orisinalitas quantum learning. Akan tetapi, dalam kaitan pengajaran umumnya di ruang-ruang pendidikan di Indonesia, lebih baik memfokuskan perhatian kepada penataan lingkungan formal dan terstruktur seperti: meja, kursi, tempat khusus, dan tempat belajar yang teratur. Target penataannya ialah menciptakan suasana yang menimbulkan kenyamanan dan rasa santai. Keadaan santai mendorong siswa untuk dapat berkonsentrasi dengan sangat baik dan mampu belajar dengan sangat mudah. Keadaan tegang menghambat aliran darah dan proses otak bekerja serta akhirnya konsentrasi siswa.

Orkestra atau musik menjadi hal yang penting dalam menciptkan lingkungan yang nyaman dan menyenangkan. DePorter, Reardor, dan Nourie (2008: 73) menyebutkan bahwa musik dalam pembelajaran berfungsi sebagai penata suasana hati, pengubah keadaan mental siswa, dan pendukung lingkungan belajar. Pendapat ini diperkuat oleh Campbell, Bruce Campbell, dan Dee Dickinson (2006: 149), ketika memutar musik yang lembut yang menjadi ”latar belakang” pada saat siswa memasuki kelas, musik memiliki kemampuan untuk memfokuskan perhatian siswa dan untuk meningkatkan tingkat energi fisik. Karena sewaktu memasuki ruang kelas siswa memiliki banyak pikiran, musik akan membantu siswa fokus pada pelajaran, bekerja lebih baik dan mengingat lebih banyak. Sebagaimana hasil peneitian Dr. Georgi Lozanov (dalam DePorter, Reardor, dan Nourie, 2008: 73) bahwa relaksasi yang diiringi dengan musik membuat pikiran selalu siap dan mampu berkonsentrasi. Melalui orkestra atau musik yang khusus siswa dapat mengerjakan pekerjaan mental yang melelahkan sambil tetap relaks dan berkonsentrasi.

Dalam quantum learning, dapat dipadukan kedua jenis musik tersebut. Hal ini dapat menambah variasi dalam tempo, irama dan dinamika. Instrumen-instrumen dengan tingkat nada atas membawakan nada yang lebih ringan, yang dapat digunakan dalam belajar pagi dan sore. Untuk merelaksasikan siswa setelah situasi penuh stres, dapat diperdengarkan bunyi piano, biola, cello. Musik juga membantu menutupi suasana yang gaduh dan menciptkan lingkungan yang mendukung dan berkesinambungan.

Langkah-langkah pembelajaran dengan quantum learning adalah dengan konsep TANDUR (tumbuhkan, alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan). Sebagai contoh pembelajaran apresiasi dongeng. Pada tahap awal, tumbuhkan minat dan perhatian siswa terhadap dongeng dengan memperdengarkan musik klasik. Pada tahap ini guru memberi penjelasan contoh-contoh dongeng. Selanjutnya, salah satu dongeng tersebut dibaca oleh siswa dan disangkutpautkan dengan kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini merupakan tahap alami kemudian siswa dapat menamai watak-watak tokoh dalam dongeng tersebut. Sewaktu mereka mengaitkan isi dongeng dengan kehidupan sehari-hari, guru dapat memperdengarkan musik. Tahap berikutnya, demonstrasikan, siswa memerankan tokoh-tokoh dalam dongeng tersebut. Agar penampilan lebih hikmat, dapat diiringi dengan musik. Pada tahap ini, siswa sekaligus mengulangi pembelajaran apresiasi dongeng. Kelompok yang mampu memerankan dengan baik diberi penghargaan (rayakan).

Dari paparan di atas, seyogyanya pembelajaran apresiasi sastra yang dilakukan oleh guru dapat menyenangkan dan menarik perhatian siswa. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah mengorkrestasi lingkungan belajar yang berbasis quantum learning. ***

AGUPENA.OR.ID merupakan website resmi Agupena yang diluncurkan pada 10 Oktober 2016. Kehadiran website ini diharapkan bisa menjadi pendukung program Agupena di seluruh wilayah tanah air. Website dikelola oleh Sawali Tuhusetya (Bidang Pengembangan Profesi Agupena).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Esai

NASIB SASTRA KITA

NASIB SASTRA KITA Oleh: Cut Januarita *) Menyikapi opini Saudara Mustafa Ismail
Go to Top