Memulai Menulis: Proses, Kreativitas, dan Konsistensi

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong dan AGUPENA Papua Barat

Keterampilan menulis tidaklah dikuasai sejak lahir, tetapi hanya semata-mata soal latihan. Sehingga untuk pertanyaan “bagaimana memulai menulis?” Jawabannya adalah soal kebiasaan saja. Ini juga bukan soal sekolah dan kecerdasan, sekali lagi hanya berkaitan dengan proses berlatih. Ada proses yang perlu dituntaskan sehingga mampu menghasilkan sebuah karya.

Unsur utama dalam proses penulisan adalah kreativitas. Topik yang sama, bisa saja ditulis berbeda karena menganalisis dari sudut pandang penulis. Mengolah sebuah bahan yang tersedia, diperlukan kemampuan untuk melihat sudut pandang yang unik sehingga bisa menghasilkan sebuah perspektif. Kemampuan untuk melihat suatu obyek dari sudut pandang tertentu adalah menyatukan diri penulis secara emosional dengan obyek yang ditulisnya.

Clifford Geertz saat menulis masyarakat Jawa, memerlukan sepuluh tahun. Sementara antropolog Amerika Serikat yang menulis tentang Wamena, Papua, memerlukan waktu sampai tujuh tahun. Dengan demikian, sebuah karya, jika tidak melalui proses observasi ataupun wawancara, tidak akan menghasilkan gambaran yang mendalam dan komprehensif.

Selanjutnya, menulis juga memerlukan konsistensi. Tulisan yang terbaik adalah karya yang selesai dan dapat dipublikasikan. Jikalau menunggu sampai sempurna, maka tidak akan ada karya yang terpublikasi. Sehingga saat memulai menulis, diperlukan konsistensi untuk menyelesaikan tulisan sampai bisa dipublikasikan. Sebagus apapun tulisan itu, kalau hanya berhenti di ketikan sang penulis, tidak akan memberikan kemanfaatan secara luas.

Menulis juga adalah soal kesenangan. Jikalau itu dinikmati sebagai aktivitas yang menyenangkan, akan mendatangkan sebuah kebahagiaan tersendiri. Dalam banyak hal, aktivitas menulis tidak bisa diukur dengan ukuran finasial. Bahkan kadang penulis justru berkorban untuk menghasilkan sebuah karya. Maka, menekuni pekerjaan menulis tidak bisa ditujukan untuk menghasilkan kekayaan. Walaupun, ada juga orang yang kaya raya dari aktivitas menulis.

Untuk itu, menulis dapat dilakukan bukan karena faktor tunggal. Beberapa faktor yang harus saling menunjang sehingga bisa menghasilkan karya. Ada proses yang harus dijalani dan juga berkaitan dengan kemampuan untuk mengolah sebuah informasi secara kreatif, sampai pada konsistensi untuk menuntaskan proses yang dijalani. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top