NALURI GURU ABAD KE-21

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh M. Nasir Pariusamahu
(Mahasiswa Prodi Manajemen Pendidikan Pasca Sarjana Universitas Pattimura Ambon)

Awal sebelum kemerdekaan, situasi kehidupan carut-marut. Berbagai propaganda devide at impera menjadi benalu dalam kehidupan masyarakat. Roda pemerintahan yang masih menganut sistem kerajaan maupun kesultanan masih menganut tradisi ala hormati priyai, membuat kaum pribumi menjadi sangat tidak diakui status sosialnya di depan umum. Hak kebebasan mereka ada pada kaum bangsawan, mereka hanya menjadi pekerja kasar, alat kompromi antara kaum biru dengan kolonialis.

Di tengah situasi seperti itu, muncullah tokoh-tokoh pribumi. Walaupun, mereka adalah keturunan ningrat. Meski darah mereka darah biru, namun mereka sangat prihatin atas kondisi tersebut. Mereka seakan merasakan hidup pahitnya rakyat jelata di bawah tekanan keluarga raja. Mereka pun berkesimpulan bahwa sesungguhnya akar masalahnya ada pada aspek  ketertinggalan pendidikan yang didapatkan oleh masyarakat. Pendidikan justru hanya dirasakan oleh sanak keluarga kolonialis dan sangat sedikit sekali dari keluarga para bangsawan pribumi.

Keprihatinan beberapa tokoh tersebut akhirnya memunculkan sang pencerah yakni KH. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya. Peran beliau dengan Muhammadiyah di tahun 1912 sebagai jiwa pembaruan pemikiran Islam di nusantara dan berkembang demi kemaslahatan umat. Tentunya kita sangat tau dengan peran Muhammadiyah yang sangat gentol dengan arah perjuangannya yakni pendidikan hendaknya ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat.  Pendidikan Islam hendaknya diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya. Sehingga kita simak, arah perjuangan Ahmad Dahlan kadang bersinggungan dengan situasi dan kondisi zamannya. Namun, khittah KH. Dahlan yang diwarisi oleh Tuhan dengan kekayaan iman dan ilmunya terus menjadi cahaya dalam perbaikan umat dan bangsa dalam dunia pendidikan,

Adapun, satu dekade kemudian sejarah pun melahirkan tokoh yang punya itikad baik seperti pendahulunya yakni Ki Hajar Dewantoro. Taman siswa yang didirikannya di tahun 1922 menjadi angin segar bagi perkembangan pendidikan di Indonesia. Nationaal Onderwijs Instituut (Taman Siswa) bertujuan membangun anak didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Merdeka lahir batin, luhur akal budinya, cerdas dan berketerampilan, dan serta sehat jasmani dan rohaninya Untuk menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya.

Lelaki tamatan Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda) dikenal sebagai penulis handal dan pernah aktif sebagai wartawan dibeberapa perkabaran. Subtansi perjuangan dalam pendidikan membuahkan hasil yang sangat baik. Alhasil, pedoman pendidikan yang dibuatnya menjadi sebuah semboyan bagi dunia pendidikan hingga saat ini, yakni Ing ngarso sung tulodo, Ing madya mangun karso, Tutwuri handayani.

Masih dalam tahun-tahun yang tidak berjeda panjang. Sumatera Barat pun mengenalkan Engku Mohammad Syafe dengan INS Kayu Tanamnya. Pria kelahiran Natan Ketapang, Kalimantan Barat ini telah mencurahkan curah pikirnya yang dalam demi membuka sandera kebodohan di bumi pertiwi ini. Usaha dan tekadnya membaja. Walaupun tidak seterkenal KH. Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara, setidaknya Tuanku Engku telah berhasil menanamkan konsep pendidikan yang perlu kita tiru dan pegang yakni konsep “Tigo Tungku Sajarangan”. Konsep itu meliputi pengaktifan yang utuh antara Otak (Akademik), Hati (Akhlak Mulia), dan Tangan (Keterampilan)

Dari ketiga tokoh yang telah saya paparkan, kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa ketiganya mempunyai naluri perubah. Naluri peubah itu diimplementasikan dalam dunia pendidikan. Keinginanan mereka sama bahwa mereka anti perbudakan pemikiran dan menjadikan pendidikan sebagai alat menuju gerbang kemerdekaan. Hanya satu menurut mereka, kebodohan harus dihapuskan dari muka bumi nusantara dan tanah Indonesia. Mereka adalah educare di zamannya.

Bagaimana dengan naluri guru sekarang?
Menjawab pertanyaan ini, saya akan beberkan berdasarkan pengalaman dan beberapa narasumber yang saya temui. Dari aspek pengalaman, saya menjumpai aneka konflik kebatinan antara mewujudkan cita-cita semasa kecil yakni menjadi guru dengan turbulensi yang ada. Pengalaman menjadi guru yang masih seumur jagung belumlah seberapa bagus ketimbang dengan para senior-senior yang telah lama malang-melintang di dunia pendidikan.

Namun, ada satu hal yang saya sadari sungguh bahwa tugas guru bukan sekedar mengetahui gaya belajar anak didiknya. Acuh tau terhadap tujuan pendidikan. Namun, terpenting juga adalah mengetahui gaya hidup anak didik. Itulah yang disebut pengontemplasian terhadap nilai-nilai tugas guru yakni mengajar dan mendidik.

Tugas mengajar didefinisikan sebagai penguasaan guru terhadap konsep dan kematangan dalam memanajemenkan pembelajaran, yaitu sebagai perencana yang baik, aktualisasi dan pengontrolan yang efektif, dan evaluator yang objektif. Seluruhnya merupakan komponen mengajar dan pengajaran.

Tugas mendidik merupakan tugas diluar kelas. Tugas memahami karakter siswa. Kemajemukan siswa yang ditemui dilapangan membuat kita harus kadang bangga, kadang sedih, kadang berlapang dada. Era keterbukaan menyebabkan kondisi siswa mudah labil. Ada yang berprestasi di bidang Matematika, namun karakternya tak ubahnya maling di pasar, adapula siswa yang dianggap idiot tapi selalu mengemukakan pendapat jika ada guru yang mengajar.

Sehingga pengenalan guru terhadap kemajemukan siswa bukan sebatas kenal nama, kelas berapa. Namun, kondisi psikologis tempat tinggal dan lingkungan sekitar, memengaruhi mereka dalam belajar atau malah terjebak dalam muara keterbukaan yang kebablasan. Maka, harus dipastikan, guru menjadi pengayom bagi mereka yang tak mendapat kasih sayang dirumahnya. Jangan-jangan mereka jatuh cinta dengan sekolah, rela berlama-lama di sekolah, namun setitik titian kasih yang mereka harapkan terendap oleh tingkah guru yang mahaangkuh.

Aspek yang kedua, beberapa guru yang saya ajak berbincang, rasanya saya menjadi wadah curhatan mereka. Saya menemukan ada munculnya rasa pesimis yang akut disebabkan oleh sistem yang diberlakukan. Salah satunya, kejar-kejaran dengan beban mengajar, pendistribusiaan tugas yang tidak mengandung prinsip  the right man in the right place, the right man in the right job, tugas administratif yang berubah akibat berubahnya kebijakan pendidikan, dan sedihnya upah tidak selaras dengan pengabdiaan.

Ada juga berbuah optimis di antara mereka. Bahwa keterlibatan mereka dalam melaksanakan tugas sebagai guru adalah anugrah Tuhan yang harus mereka syukuri. Bahwa menjadi  guru merupakan ladang berbuah pahala. Hasilnya bukan hanya dinikmati saat di dunia melainkan di akhirat kelak. Tak menanam, maka tak akan menuai. Begitulah mata nurani mereka bicara. Sehingga hanya sedikit saja yang benar-benar lulus sebagai guru, padahal ada ratusan ribu sarjana keguruan yang menjadi output lembaga pendidikan.

Kembalikan jalan guru!
Pertama, mengembalikan martabat sang guru. Fenomena menjadi guru zaman sekarang menjadi simalakama. Bekerja separuh waktu. Berdiri berjam-jam di depan kelas. Mengelola rasa akibat tingkah siswa yang jahil. Lalu, pulang anak meminta dibeliin sepeda baru. Dan sang guru hanya  bisa menyeka keringatnya lalu menggendong anaknya ke taman.

Sebenarnya, yang dibutuhkan guru hakikatnya bukan terletak pada materi. Namun, pada sisi rasa keberpihakan yang seadil-adilnya oleh negara terhadap nasib guru di Indonesia ini. Fakta dan data terlalu banyak tersimpan dalam kertas kebijakan maupun regulasi.

Guru juga merupakan manusia. Setidaknya memahami bahwa pekerjaan guru adalah memanusiakan manusia.

Lainnya adalah salah satu kendala bagi guru bahwa mereka terkadang tidak punya harga diri tentang tugasnya karena merasa hanya “mengajar” di sekolah terpencil. Bagaimana mungkin membuat guru punya harga diri, bila segala fasilitas untuk belajar tidak memadai, sementara guur dituntut untuk mengembangkan pendekatan cura personalis bagi anak didiknya.

Dari ulasan tersebut maka saya sungguh sependapat dengan uraian Walgito (2001) bahwa sikap yang ada pada diri seseorang dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu  faktor psikologis dan fisiologis, serta faktor eskternal, yaitu berupa situasi yang dihadapi individu, norma-norma dan berbagai hambatan maupun dorongan yang ada dalam masyarakat.

Kedua, menguatkan kompetensi, hal ini lebih mengarah pada person seorang guru. Bahwa guru merupakan seorang pembelajar seumur hidup (long life of education) dengan begitu, guru senantiasa meng-upgrade  seluruh kompetesinya yang berkaitan dengan nalar keilmuan pendidikan maupun ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan kualifikasi keilmuannya.

Penguatan itu meliputi empat komponen kompetensi yang harus dimiliki guru yakni kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. Keempat komptensi tersebut merupakan dasar bagi khazanah jati diri seorang guru.

Cara mendapatkannya lewat mengikuti pelatihan-pelatihan, workshop, lokakarya yang diselenggarakan oleh instansi pendidikan maupun secara otodidak. Secara otodidak lebih pada penguatan diri dalam menghadapi zaman yang terus berubah. Salah satu contohnya rajin menulis di jurnal ilmiah, penguasaan bahasa asing, riset pembelajaran

Apalagi, zaman ini guru bukan lagi sebagai sumber ilmu. Sehingga guru dituntut semacam itu. Mampu keluar dari problematika tersebut dan berani berkata setiap rumah adalah sekolah, setiap yang kau temui di jalan adalah guru.

Ketiga, revitalisasi kebijakan terhadap guru, berbagai regulasi tentang guru telah diterbitkan. Semuanya merujuk pada menjawab persoalan guru dan masa depan pendidikan. Sebab guru merupakan jantung pendidikan. Sehingga aspek profesionalitas harus mengandung sebab-akibat dari para pengelola kebijakan.

Mengapa demikian? Citra pendidikan harus benar-benar berubah pasca reformasi. Kesadaran baru guru dan kesadaran baru penentu kebijakan harus bahu-membahu selaras dengan visi pendidikan yang tertuang dalam Undang-undang nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1 ayat 1 yakni menyebutkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif pengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Akan tetapi, yang terpenting untuk diperhatikan adalah kesejahteraan guru sebagai ujung tombak bagi kebangkitan sumber daya manusia lewat rumah pendidikan di tanah air kita ini. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*