Pembaruan Sistem Pendidikan Nasional

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh Mi’raj Dodi Kurniawan *)

Tatkala negeri ini masih dikangkangi kejinya praktik kolonialisme dan imperialisme Barat serta pemerintah pendudukan Jepang, luapan harapan untuk mempercepat peningkatan kuantitas dan kualitas pendidikan (baca: sekolah) di nusantara ibarat pungguk merindukan bulan. Hal ini tidak saja sulit dipastikan, melainkan mustahil. Sebab praktik penjajahan itu sendiri berkontradiksi dengan pendidikan. Bukan penjajahan lagi namanya jika di zaman itu, kuantitas dan kualitas pendidikan ditingkatkan dan melahirkan banyak kaum pribumi terdidik.

Belakangan setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia diamini secara de jure dan de facto, keinginan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan nasional tidak saja mungkin, akan tetapi juga, perlahan namun pasti, mulai terlihat tertata dalam realita. Kedua dimensi itu memang belum tercapai paripurna, namun tidak bijak pula untuk menyebutnya masih berada dalam titik nol dengan maksud menihilkan capaian-capaian yang ada.

Sulit untuk mengabaikan kenyataan bahwa kuantitas pendidikan sekarang masih kurang dibandingkan kebutuhan masyarakat dari belahan Sabang sampai Merauke. Begitu pula kualitas pendidikan masih rendah, manakala melakukan komparasi dengan rumusan ideal dan studi banding dengan kualitas pendidikan di negara-negara maju. Namun jika membandingkan dengan pendidikan nusantara dalam tiga setengah abad penjajahan silam, capaian kuantitas dan kualitas pendidikan nasional pasca merdeka pantas diakui dan diberi predikat sangat membahagiakan meski bukan berarti ikhtiar meningkatkan kuantitas dan kualitas pendidikan harus berhenti sampai di sini. Jalan pembaruan sistem pendidikan nasional tak saja masih terpancang ke depan, melainkan pula wajib kita tempuh.

Tiga dasawarsa silam, Prof. Winarno Surakhmad, pakar pendidikan kawakan negeri ini menulis “Problematik Pembaruan Pendidikan” dalam majalah Prisma Edisi 2 Februari 1981. Di sini Prof. Winarno (1981: 6-7) mengutarakan bahwa entah selalu disertai alasan tepat atau tidak, dan apakah didasarkan atas perhitungan-perhitungan teliti atau tidak, kenyataannya di semua negara (maju maupun sedang berkembang), termasuk Indonesia, pendidikan semakin mendapat tempat yang penting – bahkan dapat disebut sektor yang sangat strategis dalam proses pembangunan dan pembinaan ketahanan negara-negara tersebut.

Hingga kiwari pendidikan masih paralel dengan ungkapan kepercayaan dan harapan-harapan. Melonjaknya aspirasi orang tua untuk memberi jenis dan mutu pendidikan terbaik pada anak-anaknya tak selalu didasarkan perhitungan yang nyata akan ‘imbal jasa’ yang pasti segera akan dikenyam, tetapi sebagian atas titik tolak pengharapan mengenai kemungkinan terjadinya suatu proses yang membuktikan bahwa pada akhirnya usaha beroleh pendidikan yang terbaik akan memberikan hasil yang setimpal. Paling tidak, pembenarannya terletak pada satu postulat bahwa berpendidikan adalah sebuah nilai yang selalu lebih baik daripada tidak. Dengan kata lain, berpendidikan dianggap sebagai suatu nilai tersendiri.

Bagi sebagian orang tua, pendidikan jelas mempunyai nilai intrinsik dan akan tetap merupakan investasi yang tidak mudah terganggu oleh pasang surut dinamika sosial, politik dan ekonomi. Mungkin karena inilah, sebagian orang tua tidak terlalu kritis – bahkan siap sedia untuk selalu memaafkan – terhadap ketidakmampuan pendidikan dalam memberi faedah secara langsung. Bagi mereka yang berpendapat begitu, pertanyaan mengenai relevan tidaknya kaitan pendidikan melalui sekolah dengan pekerjaan tertentu bukanlah persoalan pokok. Lebih jauh lagi, inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa pendidikan umum masih selalu dinilai lebih tinggi daripada pendidikan kejuruan (yang hanya diterima dalam keadaan terpaksa). Lewat pendidikan, orang tua mencari jaminan terkuat, yang berlaku paling luas, dan bernilai paling tinggi.

Negara-negara bekas jajahan yang sebelumnya hanya bisa menyekolahkan kelas sosial teratas dari masyarakatnya, kini sedang sibuk melayani keperluan pendidikan seluruh warga negaranya. Disamping kuantitas, telah mulai pula terlihat mantapnya perbaikan-perbaikan kualitas pendidikan oleh karena sejalan dengan usaha pemerataan pendidikan atau proses demokratisasi yang berlangsung secara horizontal, usaha-usaha membuat pendidikan itu lebih relevan dengan kehidupan masyarakat setempat (genious loci) kian diperhatikan. Karenanya pada saat sekarang telah terlihat tanda-tanda bahwa dalam aspek-aspek kuantitas dan kualitas pendidikan sudah berjalan sangat cepat. Sungguh ini prestasi yang baik.

Menurut Prof. Winarno Surakhmad (1981: 11) pula, persoalan mendasar yang akan tetap muncul dalam dunia pendidikan Indonesia sedikitnya di sekitar 3 kondisi hal: [1] relevansi program; [2] produktivitas sistem; dan [3] adekwatnya unsur pendukung. Jurang-jurang yang jelas tampak terus menganga di banyak negara sedang berkembang, termasuk di Indonesia , oleh karena terjadi disparitas antara jumlah, mutu, dan biaya pendidikan, atau lantaran tidak tercapainya perimbangan antara faktor kualitas, kuantitas dan infrastruktur.

Pembaruan Sistem Kependidikan
Antara satu aspek kehidupan kolektif kebangsaan dan bernegara dengan aspek kehidupan lainnya dapat dipisahkan dalam konsep saja, sedangkan dalam praktiknya tidak mungkin. Kenyataannya terjadi saling pengaruh-mempengaruhi dan berelasi kuat antara satu bidang kehidupan dengan bidang kehidupan lainnya dalam arena berbangsa dan bernegara. Karena sifatnya yang menyentuh, bahkan memasuki, hampir seluruh jaringan kehidupan, akhirnya sektor kependidikan tidak berdiri sendiri. Karena itu pula, usaha pembaruan sistem kependidikan yang bersifat nasional tidak dapat berdiri sendiri. Sedikitnya dibutuhkan:
a. Kesadaran profesional dan kemampuan teknis dari para pelaksana untuk berpartisipasi aktif, penuh dan positif dalam proses pembaruan itu dengan tumpuan yang kuat dari ilmu dan teknologi kependidikan;
b. Kepercayaan, perhatian dan kesediaan dari pihak masyarakat luas untuk memberi kesempatan dan – bila diperlukan – memberi dukungan kepada usaha para pelaksana dan penanggung jawab kependidikan;
c. Dukungan prasarana dan sarana yang langsung maupun tidak, memungkinkan terjadinya proses pembaruan secara lancar dan berhasil;
d. Dukungan politik dari para pengambil keputusan (decision makers) dan pengelola, agar dengan demikian tercipta satu kekuatan yang sinkron dengan aspirasi pembangunan nasional.

Semua itu diperlukan sebagai unsur minimal untuk mengembangkan pendekatan ganda yang benar-benar bernilai strategis. Untuk jangka pendek, yang lebih diperlukan adalah terciptanya satu kondisi mental yang positif terhadap urgensi diadakannya perubahan-perubahan kependidikan yang menyeluruh dan terkoordinasi. Kondisi mental ini perlu diperkuat dengan kondisi-kondisi obyektif agar segera mulai nampak adanya perubahan-perubahan bertahap dan terarah pada tingkat institusional dan tingkat nasional, bahkan perlu segera ditingkatkan kaitan perubahan pada tingkat instruksional dengan berbagai tingkatan secara dukung-mendukung. Sementara untuk jangka panjang, perumusan kebijaksanaan dan politik kependidikan perlu ditampilkan lebih jelas sehingga akan lebih terlihat kaitan usaha-usaha jangka pendek dengan usaha-usaha pembangunan yang luas.

Konsep dasar dalam kependidikan juga perlu dimatangkan, diaplikasikan, dan dilestarikan. Namun persoalannya tak jarang konsep dasar itu tidak pernah secara tuntas dikembangkan secara sistemik. Penataran guru-guru yang dibanyak negara memakan biaya sebegitu besar; perubahan kurikulum dari waktu ke waktu sebelum teruji di lapangan; perluasan daya tampung universitas tanpa prospek daya serap modal sosial; pembukaan jalan-jalan kependidikan kemasyarakatan lainnya di samping jalan pokok persekolahan yang tidak jarang menjadi sumber masalah tersendiri; kewajiban belajar matematika modern dan bahasa asing tertentu oleh setiap anak yang setiap harinya tercekam dalam kehidupan stagnan. Semua itu merupakan kenyataan-kenyataan yang perlu dikaji lebih dalam sebelum dikembangkan massif sebagai usaha pembaruan sistem pendidikan nasional.

Sesungguhnya Indonesia sudah memiliki potensi untuk merintis dan menempuh jalan-jalan pembaruan yang baru, dalam arti kata sebenarnya. Di sisi lain, pendidikan nasional juga perlu mengambil jalan-jalan baru dalam rangka menjawab persoalan survival negara-negara itu sendiri, yaitu bagaimana agar dalam waktu sesingkat-singkatnya dapat dihasilkan pendidikan yang sebaik-baiknya kepada sebanyak mungkin anak didik, dengan harga yang juga sesedikit mungkin. Akan tetapi ironisnya, langkah pembaruan kependidikan dewasa ini – meski telah banyak yang dihasilkan – namun pada dasarnya usaha yang semakin padat karya dan padat modal itu masih tetap bergerak sangat lamban, berharga sangat mahal, dan yang kegunaannya tetap dipersoalkan.

Tiba giliran bagi stakeholders kependidikan, utamanya para pengambil kebijaksanaan (decision makers) dalam dunia kependidikan nasional memetakan model pemikiran dan rencana aksi (action plan) yang pernah mengemuka di negeri ini. Dengan begitu akan tercipta pemahaman utuh antar konseptor dari satu generasi ke generasi berikutnya. Gagasan pembaruan sistem pendidikan, dengan demikian, tidak patut diisi dengan perdebatan yang salah paham, Dari sekarang sampai ke depan, yang perlu dilakukan adalah memperluas dan memperdalam cakupan konsep pembaruan pendidikan nasional serta mempertahankan aksi-aksi terbaik sejak masa lampau dan memperkuatnya dengan aksi-aksi terbaru yang masuk akal (reasonable) akan mencapai tujuan ideal pendidikan nasional.

*) Mi’raj Dodi Kurniawan, S.Pd.: Lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Mantan ketua HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Bandung Badan Koordinasi Jawa Bagian Barat. Kini praktisi pendidikan di Kabupaten Cianjur Jawa Barat.

AGUPENA.OR.ID merupakan website resmi Agupena yang diluncurkan pada 10 Oktober 2016. Kehadiran website ini diharapkan bisa menjadi pendukung program Agupena di seluruh wilayah tanah air. Website dikelola oleh Sawali Tuhusetya (Bidang Pengembangan Profesi Agupena).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

PAHLAWAN ZAMAN NOW

Oleh Fortin Sri Haryani Pahlawan diartikan sebagai seorang yang telah berjasa, memberikan
Go to Top