Segudang Alasan Guru Tak Mau Menulis

Rubrik Literasi Oleh

Oleh: Hamli Syaifullah
Dosen Manajemen Perbankan Syariah, Fakultas Agama Islam-Universitas Muhammadiyah Jakarta/FAI-UMJ, dan Wakil Sekretaris Agupena DKI Jakarta, Serta Blogger di Strategikeuangan.com

Menulis bagi seorang guru, sebenarnya menjadi salah satu media yang cukup efektif untuk menyebarkan ilmu pengetahuan. Karena jangkauan manfaatnya, akan menyebar ke seantero jagad raya. Sehingga, semua orang akan mendapatkan manfaat, dari apa yang ditulis oleh seorang guru—entah untuk peserta didik yang diajarnya, ataupun masyarakat  secara luas.

Artinya, guru yang mau menulis—entah tulisan opini, esai, jurnal ilmiah, buku, blog, dan lain sebagainya, secara garis besar akan memberikan dua manfaat, yaitu: mengajar anak-anak di kelas (sekolah atau kampus) dan mengajar masyarakat secara umum melalui tulisan-tulisan yang disebarkan.

Dengan demikian, guru yang mau menulis, berusaha membangun peradaban manusia dari skala yang paling kecil—yaitu  anak-anak di kelas, hingga skala yang cukup besar—yaitu masyarakat umum secara luas. Tujuan akhirnya ialah, membangun manusia yang lebih berkualitas dan beradab secara komprehensif.

Dan guru yang menulis, akan terus melakukan pembangunan manusia secara komprehensif (skala kecil dan skala besar). Dirinya, akan terus menelorkan ide-ide cemerlang dan ide segar, untuk membangun peradaban manusia, melalui tulisan-tulisan, yang bisa dinikmati dan diamalkan oleh siapa saja yang membacanya.

Berbeda halnya, bagi seorang guru yang hanya mengajar saja di kelas (sekolah atau perguruan tinggi), tanpa mau menulis. Sang Guru, hanya bisa melakukan transfer of knowledge dan sharing of knowledge bersama murid-murid di kelas. Sehingga, jangkauan manfaat yang diterima tak luas, yaitu hanya lingkup kelas dan sekolah saja.

Artinya, guru yang tak mau menulis, kemanfaatan ilmu pengetahuan yang dimiliki, hanya bisa dirasakan oleh murid-murid atau peserta didik yang diajarnya saja di kelas ataupun di sekolah. Sedangkan masyarakat luas, tak kebagian ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Dengan demikian, guru yang tak mau menulis, hanya berusaha membangun manusia dari skala yang kecil, yaitu individu-individu di kelas (sekolah dan perguruan tinggi). Bila individu yang menjadi peserta didik meninggalkan kelas (sekolah dan perguruan tinggi), maka proses pembelajarannya pun akan terhenti. Itulah, salah satu kelemahan proses pembelajaran bagi guru yang tak mau menulis.

Perlu digarisbawahi, pengertian guru dalam tulisan ini, lebih menitik-beratkan kepada guru secara formal, seperti guru di sekolah dan dosen di perguruan tinggi. Namun tak menutup kemungkinan, bagi guru non-formal, seperti guru les, guru ngaji, dan lain sebagainya, jika merasa bermanfaat, silahkan untuk diamalkan.

Sekadar Sharing Pengalaman Pribadi
Mengapa saya sering mengajak atau bahkan memprofokasi guru-guru (guru di sekolah dan dosen di perguruan tinggi) untuk mau menulis. Tentu, tak terlepas dari manfaat yang saya rasakan selama ini. Dan mungkin, hingga ke depannya manfaat tersebut akan terus saya rasakan.

Di mana, saya merasakan manfaat kebaikan yang diperoleh dari seorang guru yang mau menulis, salah satunya adalah Prof. Rhenald Kasali, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis-Universitas Indonesia. Beliau seorang guru yang sangat aktif menulis. Mulai dari menulis buku, menulis opini di media massa, menulis kolom komentar di media massa, dan lain sebagainya.

Saya sangat kagum pada beliau, karena mau menulis dan menyebarkan ilmu pengetahuan melalui tulisan. Walaupun saya bukan tercatat sebagai mahasiswa Universitas Indonesia, saya bisa merasakan manfaat pengajaran yang diberikan olehnya, melalui tulisan-tulisan yang dihasilkan.

Artinya, untuk mendapatkan ilmu manajemen dari Prof. Rhenald Kasali, saya tak usah membuang-buang uang ataupun waktu dengan masuk kuliah formal di Fakultas Ekonomi dan Bisnis-Universitas Indonesia. Cukup dengan membeli buku-buku beliau, ataupun ulasan beliau di surat kabar, maka saya telah mendapatkan saripati ilmu dari beliau.

Tentunya, ini cukup efektif, efisien, dan langsung bisa diterapkan dalam kehidupan saya sehari-hari. Entah kehidupan saya sebagai seorang dosen, ataupun sebagai penulis buku, dan juga sebagai blogger. Tanpa terasa, dengan banyak membaca tulisannya, saya akan banyak mendapatkan ilmu darinya.

Dan mungkin, bukan hanya saya saja yang merasakan manfaatnya. Akan tetapi, masyarakat luas pun telah merasakan manfaat dari tulisan-tulisan yang beliau hasilkan. Bahkan, bukan hanya masyarakat luas, dunia industri pun ikut merasakan manfaat pemikiran beliau, yang disebarkan melalui tulisan. Dan saya berharap, semoga beliau terus mampu hasilkan tulisan-tulisan yang mencerahkan bagi masyarakat Indonesia.

Saya mulai bermimpi, jika setiap guru yang ada di Indonesia, mulai dari guru di sekolah (KB/TK, SD, SMP, SMA/SMK) dan guru di perguruan tinggi mau menulis, seperti yang dilakukan oleh Prof. Rhenald Kasali, tentu akan banyak manusia-manusia yang tercerahkan.

Semenjak itulah, saya sering mengajak kepada teman-teman yang berprofesi guru, baik guru di sekolah ataupun dosen di perguruan tinggi untuk mau menulis. Entah mengajak secara terang-terangan, ataupun secara sindiran. Namun sayang, hanya sedikit saja yang mau menulis.

Ketika saya mengajak mereka para guru untuk menulis, ada saja alasan yang dilontarkan. Mulai dari sibuk mengajar, sibuk dengan aktivitas di luar sekolah dan kampus. Dan bahkan, ada yang melontarkan, tugas seorang guru itu bukan menulis, akan tetapi fokus mengajar dan mendidik. Dan masih banyak alasan lainnya, yang mereka lontarkan.

Lantas, bila coba dibandingkan dengan  Prof. Rhenald Kasali yang tentunya sangat sibuk. Seperti menyampaikan kuliah di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kemudian memberikan ceramah di instansi pemerintahan dan institusi bisnis. Hingga mengurus Rumah Perubahan (sebuah lembaga pengembangan SDM) yang dimilikinya di Bekasi. Tapi, beliau masih sempat menulis buku, opini, dan ulasan di beberapa media massa.

Jika demikian, para guru yang mengatakan tak sempat menulis karena sibuk, sebenarnya itu hanya alasan yang dibuat-buat. Mereka, lebih nyaman bersembunyi dengan segudang alasan, dari pada mau memulai untuk menulis.

Tiga Alasan Guru Tak Mau Menulis
Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, sebenarnya banyak alasan seorang guru tak mau menulis. Namun, secara garis besar, ada tiga alasan besar, mengapa seorang guru tak mau  menulis. Dan, yang sering dilontarkan oleh seorang guru yang tak mau menulis.

Alasan Pertama, tugas guru hanya mengajar dan mendidik. Mengajar dan mendidik, diartikan oleh guru-guru yang tak mau menulis, dengan pemaknaan yang cukup sempit. Yaitu, mengajar dan mendidik peserta didik di dalam kelas dan sekolah saja.

Pemaknaan sempit tersebut, berimplikasi pada pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, selepas mereka melaksanakan aktivitas pengajaran dan pendidikan di lembaga pendidikan formal (sekolah dan perguruan tinggi), maka tugas mengajar dan mendidik telah selesai.

Sehingga, tak mengherankan bagi guru-guru yang tak mau menulis, ketika dirinya disuruh menulis sebagai sarana mengajar dan mendidik masyarakat secara luas, mereka enggan. Karena, yang ada di balik batok kepala mereka ialah, mengajar dan mendidik ialah di kelas atau di sekolah saja.

Sedangkan di luar kelas atau luar sekolah, bukan tanggung jawab dirinya sebagai seorang guru. Mungkin, alasan tersebut juga benar. Seorang guru tak memiliki tanggung jawab di luar lembaga pendidikan tempatnya mengajar.

Namun perlu diketahui bersama, tanggung jawab moril sebagai seorang pendidik, bukan hanya di dalam kelas. Di luar kelas pun, mereka bertanggung jawab. Nah, dengan menulis, maka setidaknya seorang guru telah menunaikan tanggung jawabnya secara moril, untuk mendidik masyarakat secara luas.

Alasan Kedua, terlalu sibuk. Bila kita renungkan, siapa sih yang tidak sibuk. Mungkin, semua orang memiliki kesibukan masing-masing. Mulai dari kesibukan yang bersifat pribadi, hingga kesibukan berkenaan dengan tugas-tugas pekerjaan di kantor masing-masing.

Hanya saja, apakah kesibukan tersebut, menjadi alasan untuk tidak mengerjakan aktivitas lainnya. Misalnya, seorang ibu rumah tangga yang sibuk mengurusi anak-anaknya di rumah. Lantaran sibuk, dirinya tak pernah bersosialisasi dengan tetangga sebelahnya. Sehingga membuat dirinya terasingkan di lingkungannya sendiri.

Seorang guru yang sangat sibuk mengajar, membuat dirinya lupa makan siang karena kesibukannya. Sehingga, membuat dirinya gampang sakit. Yang pada akhirnya, dirinya tak bisa mengajar lagi karena sakit.

Seorang pebisnis yang sangat sibuk, sehingga membuat dirinya lupa membayar gaji karyawannya. Karena lupa membayar gaji karyawan, maka karyawannya lebih memilih resign. Pada akhirnya, dirinyalah yang dirugikan karena tak memiliki karyawan lagi. Dan masih banyak, contoh lainnya.

Tentu, kesibukan-kesibukan tersebut, bukan menjadi alasan untuk tidak melakukan aktivitas lainnya. Karena tak melakukan aktivitas lainnya, maka dirinya yang sebenarnya akan rugikan dengan alasan kesibukan tersebut.

Pun begitu dengan seorang guru, dengan alasan sibuk, dirinya tak mau menulis. Padahal, dengan menulis, bukan saja dirinya bisa mendidik masyarakat secara luas. Akan tetapi, ada keuntungan secara finansial yang akan didapatkan, dan beberapa keuntungan non-finansial lainnya.

Jika tulisan yang dihasilkan berbentuk buku, maka akan mendapatkan keuntungan finansial berupa royalty per buku yang terjual. Dan jika tulisan yang dihasilkan berupa opini, resensi buku, ataupun kolom khusus, akan mendapatkan keuntungan finansial berupa honorarium.

Artinya, dengan menulis, akan banyak hal yang didapatkan oleh seorang guru. Yang intinya, keuntungan tersebut akan kembali pada diri guru itu sendiri. Maka dari itu, berhentilah mengeluh “SIBUK”, dan mulailah untuk menulis.

Alasan Ketiga, menjadi guru sebagai pelarian. Nah, alasan ini yang cukup miris. Di mana, dirinya menjadi guru, karena sudah tidak diterima bekerja di tempat lain. Mulai dari perusahaan yang ber-gaji tinggi, hingga perusahaan dengan gaji rendah. Tak diterima, disebabkan kemampuan dirinya tak sesuai standar kualifikasi perusahaan.

Kemudian, dirinya memutuskan menjadi guru. Karena, hanya dengan menjadi guru, dirinya diterima bekerja. Nah, orang-orang seperti hal tersebut, pasti akan memiliki etos kerja (mengajar dan mendidik) yang minim. Karena, dirinya terjun ke dunia pendidikan karena sebagai pelarian, bukan karena panggilan jiwa.

Ketika dirinya disuruh menulis, tentu akan banyak alasan dilontarkan. Ya maklum saja, terjun ke dunia pendidikan, kan hanya sebagai pelarian saja. Bukan berasal dari panggilan hati, untuk mengajar dan mendidik anak-anak bangsa.

Maka dari itu, rasanya susah menyuruh tipe guru seperti itu, untuk menulis. Jangankan disuruh menulis, disuruh mengajar saja kadang tidak becus. Dan inilah, yang membuat kita merasa miris, pada guru-guru yang hanya menjadikan profesi guru sebagai pelarian belaka.

Mari Berkontemplasi Sejenak
Sebelum menutup tulisan ini, mari kita berkontemplasi sejenak. Kemudian, introspeksi diri masing-masing, mengapa diri kita yang berprofesi guru tak mau menulis, dan lebih mengedepankan segudang alasan.

Mungkin, bukan saatnya lagi kita mengeluh dengan segudang alasan untuk tidak menulis. Akan tetapi, yang harus kita lakukan ialah, meluangkan waktu sejenak menulis setiap hari. Umpamanya, menulis selembar setiap hari. Kalaupun tak bisa, setengah lembar sehari juga tak apa-apa.

Kalaupun dipaksakan tak bisa untuk menulis selembar ataupun setengah lembar sehari, paksakanlah untuk menulis satu paragraf setiap hari. Saya berkeyakinan, dengan menulis satu paragraf setiap hari, dalam waktu  satu bulan, akan jadi sebuah tulisan yang utuh.

Jika hal tersebut dilakukan oleh setiap guru yang ada di Indonesia, saya membayangkan ilmu pengetahuan akan berkembang pesat di Indonesia. Karena, pemicunya ialah kerelaan guru untuk menulis.

Sebelum menutup tulisan ini, saya memohon maaf dari hati yang paling dalam, kepada para guru yang tersinggung. Niat saya, bukan untuk menyinggung Anda yang tak mau menulis. Hanya saja, saya hanya mengajak kepada setiap guru yang ada di Indonesia untuk mau menulis.

Udah, itu saja niat saya. Terimakasih…! ***

Hamli Syaifullah, lahir di Sumenep-Madura, Jawa Timur. Senang menulis sejak Nyantri di Ponpes Al-Amien Prenduan Sumenep Madura. Kemudian bergabung dengan Agupena DKI Jakarta, demi menjaga semangat untuk menulis. Pendidikan S-1 diselesaikan di UMJ tahun 2013 dan S-2 di STIE AD Jakarta, tahun 2016. Aktivitas saat ini sebagai dosen Manajemen Perbankan Syariah di UMJ. Tulisannya telah menyebar di beberapa koran lokal dan nasional. Juga aktif menulis buku populer dan Buku Biografi. Dan saat ini, aktif Nge-Blog di Strategikeuangan.com

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top