PERLINDUNGAN PROFESI GURU

Rubrik Pendidikan Oleh

PERLINDUNGAN PROFESI GURU
(Bentuk Penegasan Otoritas Akademik Guru di Kelas)
Oleh: Maksimus Masan Kian, S.Pd.
(Ketua Agupena Flotim)

Maksimus Masan Kian, S.Pd.

Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 pasal 1 tentang Guru dan Dosen menyatakan Guru adalah pendidik profesional dengan tugas untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Kurang lebih ada empat (4) kompetensi yang melekat pada guru di antaranya: kompetensi profesional, kepribadian, pedagogik, dan kompetensi sosial.

Di pundak guru melekat tugas dan tanggungjawab yang strategis dalam menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang cerdas, terampil, dan berperilaku baik. Hal ini sejalan dengan proses pendidikan yang meliputi ranah pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik) dan sikap (afektif).

Dari generasi ke generasi, sejak bangsa ini berdiri dan berkembang, peran guru tetap diperhitungkan sebagai aktor perubahan bangsa. Aktivitas seorang guru setiap hari di kelas, secara langsung menanamkan pengetahuan dan nilai –nilai kehidupan kepada anak sebagai generasi penerus bangsa. Apapun profesi yang akan diemban oleh anak dikemudian hari, peran guru sangat menentukan.

Atas kerja tulusnya, profesi guru dikenal dengan profesi yang mulia. Guru tidak hanya mengorbankan pikiran, waktu, dan tenaga, tetapi juga mengorbankan perasaannya. Sapaan “pahlawan tanpa tanda jasa” sepertinya menegaskan bahwa guru bekerja dengan penuh pengorbanan tanpa menuntut penghormatan yang lebih. Di tengah penghasilan yang minim, guru tetap eksis dalam perannya sebagai pengajar dan pendidik.

Zaman berganti, gurupun diperhadapkan dengan masalah yang berhubungan dengan pelanggaran hak asasinya sebagai manusia. Ada resiko secara hukum yang berpotensi menghantar guru harus mendekam dibalik jeruji besi.

Terbitnya Undang–undang nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, seolah menjadi senjata yang melumpuhkan guru dalam perannya sebagai pendidik. Munculah masalah di mana- mana yang menjerat guru akibat tindakan yang diambil dalam konteks mendidik namun dipelintir oleh orang tua sebagai bentuk kekerasan. Sebut saja; guru harus mendekam di penjara setelah mencubit siswanya yang merupakan anak seorang pejabat, guru dipukul oleh orang tua akibat tidak terima anaknya dimarahi karena bolos dari sekolah, guru yang mencukur rambut siswa dengan tujuan merapihkan rambutnya yang panjang, justru mendapat balasan dari orang tua dengan kata –kata kasar.

Pasal 54 Undang–undang nomor 23 Tahun 2002  yang menyatakan “anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelolah sekolah atau teman–temannya di dalam sekolah yang bersangkutan atau lembaga pendidikan lainnya”, seolah menjadi amunisi orang tua untuk menghakimi guru secara sepihak.

Ini realita yang sedang terjadi. Padahal, jika dilihat secara komprehensif tentang tugas guru sebagai pengajar dan pendidik, sesungguhnya guru memiliki otoritas akademik di kelas dan di sekolah dalam menegakkan disiplin sehingga target atau tujuan pembelajaran bisa tercapai.

Tentang perlindungan profesi seorang guru, sudah jelas–jelas disebutkan pada pasal 39 ayat (1) Undang–undang Nomor 14 Tahun 2005 “pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam melaksanakan tugas. Selanjutnya pada pasal 39 ayat (2) disebutkan bahwa “perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perlindungan hukum, perlindungan profesi, serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.

Guru patut dilindungi secara hukum karena selain menjalankan peran profesi yang profesional, guru adalah warga negara yang patut mendapat perlindungan. Perlindungan hukum terhadap guru, berkorelasi positif memberi kenyamanan bagi guru dalam menjalankan tugas dan tangungjawabnya secara demokratis. Butuh komitmen lintas komponen terkait, untuk melakukan sosialisasi hak dan kewajiban guru dalam perannya mendidik anak di sekolah. Hal ini penting untuk diketahui oleh segenap kalangan masyarakat terlebih orang tua yang telah menitipkan anaknya di lembaga pendidikan untuk diajar menjadi pintar dan dididik  menjadi baik oleh guru. Orang tua dan guru mestinya menjalin hubungan kemitraan yang harmonis demi tumbuh kembangnya iklim akademik yang kondusif dan mampu meningkatkan kualitas pendidikan. Anak adalah mutiara terindah di mata orang tua di rumah dan guru di sekolah. Jika ada kekeliruan guru dalam pendampingan anak didik, ruang komunikasi menjadi jembatan emas memadukan pikiran dan hati mencarikan solusi bersama untuk kepentingan anak,sebagai  generasi penerus bangsa. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

PAHLAWAN ZAMAN NOW

Oleh Fortin Sri Haryani Pahlawan diartikan sebagai seorang yang telah berjasa, memberikan
Go to Top