PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU LULUSAN

Rubrik Pendidikan Oleh

PERAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENINGKATAN MUTU LULUSAN MELALUI PENGEMBANGAN BISNIS CENTER/UNIT PRODUKSI SEBAGAI REPLIKASI TEMPAT KERJA PESERTA DIDIK

Oleh: Drs. HA. Sholeh Dimyathi, MF, MM
(Sekretaris Dewan Pembina Agupena)

Pendahuluan

Drs. HA. Sholeh Dimyathi, MF, MM

Kepemimpinan merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah. Banyak model kepemimpinan yang dapat dianut dan diterapkan dalam bebagai organisasi/institusi, baik profit maupun non profit, namun model kepemimpinan yang paling cocok untuk diterapkan di sekolah adalah kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership or leadership for improved learning).

Tentang penerapan kepemimpinan pembelajaran di sekolah, banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa kepala sekolah yang memfokuskan kepemimpinan pembelajaran menghasilkan prestasi belajar peserta didik yang lebih baik dari pada kepala sekolah yang kurang memfokuskan pada kepemimpinan pembelajaran. Ironisnya, kebanyakan sekolah tidak menerapkan model kepemimpinan pembelajaran. Kasus kepala Sekolah Dasar di Malang yang melakukan hukuman setrum listrik pada peserta didiknya merupakan salah satu contoh kepala sekolah yang tidak menerapkan model kepemimpinan pembelajaran.

Hasil penelitian Stronge (1988) menunjukkan bahwa dari seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kepala sekolah, hanya 10 persen yang dialokasikan untuk kepemimpinan pembelajaran. Sampai sekarangpun banyak kepala sekolah yang masih menyeimbangkan perannya sebagai manager, administrator, supervisor, dan instructional leader (kepemimpinan pembelajaran). Adapun alasan yang dikemukakan antara lain kurangnya pelatihan tentang kepemimpinan pembelajaran, kurangnya waktu untuk melaksanakan kepemimpinan pembelajaran, banyaknya kegiatan administratif yang harus dilaksanakan, dan adanya harapan dari masyarakat bahwa peran kepala sekolah utamanya adalah seorang manager (Flath, 1089; Fullan, 1991).

Kepemimpinan pembelajaran sangat cocok diterapkan di sekolah karena misi utama sekolah adalah mendidik semua peserta didik dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk menjadi orang dewasa yang sukses dalam menghadapi masa depan yang belum diketahui dan yang sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. Misi inilah yang kemudian menuntut sekolah sebagai organisasi harus memfokuskan pada pembelajaran (learning-focused schools), yang meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar (asesmen).

Kondisi dan Realita (Studi Kasus di beberapa SMK Jakarta)
Realitas/data pada beberapa SMK Negeri Jakarta menunjukkan terdapat kekurangan dan kelemahan dari sering kalinya pergantian kepala sekolah,disamping kepala sekolah hasil lelang jabatan antara lain:

  • kurang harmonis hubungan dengan guru dan karyawan,
  • kurang bersosiaisasi terhadap warga sekolah,
  • masih lemahnya kontrol terhadap kegiatan belajar mengajar disebabkan percaya penuh kepada wakill-wakinya sehingga kepala sekolah hanya mendapatkan laporan dari wakilnya
  • hasil belajar yang kurang memuaskan belum pernah mendapatkan rangking teratas pada lulusan di wilayah dan provinsi;
  • untuk kompetensi yang sudah tuntas dan sudah dinilai di raport, masih muncul di semester berikutnya. Seharusnya kompetensi yang sudah tuntas tidak muncul lagi pada semeter berikutnya.
  • Adanya rasa sungkan untuk mengganti Ketua Program yang kurang bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya,

Beberapa kelemahan tersebut akan mempengaruhi efektivitas kegiatan belajar dan mengajar, yang pada gilirannya akan mempengaruhi mutu lulusan.Melalui pengembangan unit produksi yang melibat seluruh guru dan karyawan sekolah, akan dapat dibangun kembali kelemahan dan kekurangan yang terjadi selama ini

Pengaruh Bisnis Center/Unit Produksi Sebagai Replikasi Tempat Kerja Peserta Didik Terhadap Peningkatan Mutu Lulusan di Sekolah

Untuk mengetahui pengaruh kegiatan Bisnis Center/Unit Produksi terhadap peningkatan mutu lulusan disekolah antara lain:

Profil Budaya Organisasi Sekolah dibeberapa SMK Negeri  Jakarta
Profil budaya organisasi SMK Negeri  Jakarta pada umumnya memperlihatkan bahwa asas keakraban lebih dominan pengaruhnya dibandingkan dengan asas-asas lainnya. Namun demikian, dilihat dari posisi keseluruhan asas, berada pada posisi baik. Ini berarti, kuatnya asas keakraban dipengaruhi oleh asas-asas lainnya.

Nilai tersebut ternyata mendukung temuan-temuan penelitian sebelumnya, yang menemukan bahwa kecenderungan manusia Indonesia lebih pada “hubungan kekerabatan “. Menurut FrancisL.K.Hsu(1971) seperti dikutip Koentjaraningrat (1987) menyatakan dengan istilah “intimate society” atau “hubungan karib “. Hubungan dimaksud tidak hanya terbatas karena adanya hubungan keluarga, tetapi juga antara Kepala Sekolah dengan guru, karyawan dan peserta didik, serta antara sesama guru, karyawan dan peserta didik tampak akrab, yang diwujudkan dengan saling salam diantara warga sekolah.

Performance (Unjuk Kerja) SMK
Performance sekolah dibagi kedalam dua kelompok yaitu polity dan economic performance. Polity Performance diukur dengan dua indikator. kepercayaan (trust) dan kepuasan (satisfaction) yang diperoleh hubungannya dengan pelanggan. Economic performance diukur dengan indikator efisiensi dan efektivitas dari hubungan tersebut. Sebagaimana Jakarta memperoleh kepercayaan yang cukup tinggj dari Institusi Pasangan (DU/DI). integritas tinggi, dapat dipercaya dan selalu memegang janjinya, memiliki pengetahuan yang baik dalam pengembangan sekolah seutuhnya.

Selanjutnya SMK Negeri  Jakarta juga dianggap memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, loyal serta bersikap bersahabat dalam hubungannya dengan dunia usaha Industri

Sekolah menaruh harapan yang besar dari hubungannya dengan Institusi Pasangan (DU/Dl) yang tercermin dalam kesepakatan kerja sama. Tetapi setelah hubungan ini berjalan, sekolah mulai menyadari bahwa “Long-term oriented” haruslah dijadikan dasar pemikiran dalam hubungannya dengan pihak dunia usaha/dunia industri (DU/DI). Dalam hubungannya dengan pelanggan mencapai peningkatan yang berati, terutama dalam hal penyaluran tamatan dan lowongan kerja (pangsa pasar)

Sekolah seperti yang telah diuraikan diatas, dapat disimpulkan bahwa secara umum sekolah SMK Negeri telah berhasil meraih performance yang baik dalam hubungannya dengan pelangan baik internal maupun ekstemal. Dan ini diperkuat dengan hasil ME (Monitoring Evaluasi)  yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta menunjukkan bahwa kinerja Kepala Sekolah SMK Negeri dan Kinerja  Sekolah AMAT BAlK.

Peningkatan Semangat (Morale) kerja peserta didik
Untuk mengetahui seberapa jauh semangat kerja (morale ) kerja para peserta didik, Sekolah perlu menetapkan standar penilaian yang mencakup faktor-faktor morale ( semangat kerja) yaitu: Kedisiplinan peserta didik, Ketelitian, Kerajinan, Kegairahan, Tanggung jawab dan Ketahanan. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa ITS Surabaya didapat kesimpulan bahwa tingkat kenakalan dan tawuran peserta didik SMK Negeri Jakarta hanya 0,5% dari 63 jumlah SMK Negeri di Jakarta.

Model Pengembangan Bisnis Center/Unit Produksi (UP)
Langkah-Langkah Persiapan

Bisnis Center/Unit Produksi adalah Suatu program peningkatan mutu sekolah dirancang sebagai wadah pengelolaan dan peningkatan kemampuan, Keterampilan sumber daya manusia, mengoptimalkan sumber daya sekolah dan lingkungan serta memberi nilai tambah bagi warga sekolah

Konsep Bisnis Center/Unit Produksi di sekolah telah dikenalkan sejak awal PJP II. Namun demikian penerapan dan kemajuan sangat lambat sekali, dan perjalan mengalami hambatan.

Persiapan yang perlu dilakukan dalam pengembangan unit produksi ini adalah:

  • Membentuk Struktur organisasi Unit Produksi
  • Untuk membuat struktur organisasi tidaklah terlalu sulit, karena sekolah sudah mempunyai struktur organisasi yang telah memiliki karakterristik umum seperti perusahan-perusahan lainnya, apapun interpetasinnya saat ini SMK telah memiliki pegangan yang kuat terbitnya UU No 20 Tahun 2003.
  • Menggerakkan warga sekolah
  • Warga Sekolah harus memiliki kesadaran yang tinggi terhadap kwalitas efesiensi dan produktifitas dan memiliki budaya unggul untuk selalu menciptakan visi baru.
  • Membuat jadwal piket bagi guru pembimbing
  • Ini sangat penting karena peserta didik tanpa didampingi guru pembimmbing belum melaksanaan pekerjaannya dengan kesadaran sendiri
  • Membuat jadwal peserta didik yang terlibat
  • Adanya pemerataan peserta didik yang terlibat semuannya didalam pengeloaan Unit Produksi
  • Mencari pelanggan
  • Mencari Pelanggan berbagai macam caranya misalnya dari mulut kemulut, membuat keaflet

Karakter Pelaku
Bisnis Center/Unit produski di sekolah akan berjalan lancar apabila tersedia pelaku-pelaku yang memiliki jiwa kewirausahaan seperti tersebut di bawah ini:

  • Orang yang bersangkutan bersikap dan berfikir mandiri
  • Tipe orang ini sangat independen, dalam arti tidak selalu mengguntungkan sikap dan fikirannya pada orang lain
  • Sikap berani menanggung resiko, Keberanian resiko demekian tentunnya sudah dilandasi oleh perhitungan-perhitungan yang mantap
  • Orang yang bersangkutan tidak suka mencari kambing hitam
  • Mencari kesalahan orang lain bukanlah penyelesaian yang baik bagi orang lain
  • Wirausahaan selalu berusaha menciptakan dan meningkatkan nilai sumber daya, orang semacam ini selalu memikirkan nilai tambah dari sumber daya aslinya
  • Wirausahaan sangat terbka dengan umpan balik
  • Umpan balik baik positif maupun negatif, akan diterima sebagai unformasi untuk memperbaiki nilai, sikap dan kinerjannya yang akan datang
  • Wirausahaan selalu ingin mencari perubahaan yang yang lebih baik
  • Apabial yang dilakukan hari ini harus lebih baik dari hari kemaren, dan apa yang dilakukan besok harus lebih baik dari hari ini
  • Orang yang mempunyai jiwa kewirausahaan tidak pernah merasa puas dan oleh karenannya terusan improvisasi demi perbaikan menerus melakukan inovasi demi perbaikan selanjutnya
  • Wirausahaan memiliki tanggung jawab moral yang baik, karya yang diberikan bukan untuk kepuasan dirinnya semata tetapi juga berguna untuk orang lain, masyrakatnya, bangsannya dan negarannya

Identifikasi Sumber Internal
Untuk mengarah ke unit produksi yang diharapkan kepala sekolah sebagai pengelola sekolah perlu melakukan identifikasi sumber internal yang meliputi

  • Lokasi tempat pelaksanaan Bisnis Center/Unit Produksi
  • Hubungan Industri / Masyarakat
  • Kemampuan personal yang ada di sekolah
  • Fokus kegiatan Bisnis Center/Unit Produksi yang mendukung kegiatan belajar mengajar
  • Peran dan tanggung jawab personil
  • Tiper penghargaan kepada pengelola dan petugas yang berhasil
  • Gaya kepemimpinan yang di kembangkan
  • Bentuk organisasi Bisnis Center/Unit Produksi

Strategi Pengembangan
Bisnis Center/Unit Produksi sebagai suatu kegiatan usaha memproduksi barang dan layanan jasa dengan cara mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada di sekolah dan dilingkungannya, diharapkan mampu mewadahi kegiatan yang dapat membawa pengalaman luar sekolah yang nyata kedalam sekolah baaik untuk guru maupun untuk peserta didik, disamping dapat memberikan input dalam rangka pengembangan kurikulum, pengembangan bahan ajar dan lain-lain

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka didalam pengembangan Bisnis Center/Unit Produksi disusun strategi pengembangan. Ada tiga langkah yang harus ditempuh:

Merumuskan Fungsi Baku Bisnis Center/Unit Produksi
a. Di Mana posisi kita sekarang
Apa yang terjadi sebelumnnya, keadaan saat ini, situasi yang sedang berjalan, dapat mutu pelayanan jasa, mutu pekerja trainer/karyawan, cara pengelolaan, pemasaran promosi, sumber dana, iklim kerja, keadaan pasar, keadaa pesaing, keadaan lingkungan dsb.

b. Ke Mana Kita akan pergi
Bisnis Center/Unit Produksi harus mempunyai tujuan jangka panjang (Misi), jangka menengah, jangka pendek (goal) sebagai batasan-batasan yang dapat mengarahkan apa yang harus direncanakan dan dilakukan oleh Bisnis Center/Unit Produksi

c. Bagaimana Cara Ke Sana

Cara untuk mencapai tujuan Bisnis Center/Unit Produksi secara umum dapat dilakukan sebgai berikut:

  • Membuat tujuan-tujuan yang spesifik, dapat diukur dan realitas yang dijabarkan menjadi kegiatan-kegiatan yang direncanakan
  • Memilih tekhnik yang tepat pada masing-masing kegiatan
  • Melaksanakan kegitan sesuai prioritas
  • Melakukan monitoring dan evaluasi pada setiap kegitan yang dilakukan

d. Apa Rencana dari rencana di atas kertas
Merumuskan rencana dari setiap tujuan yang akan dicapai dalam bentuk program kerja yang dapat memberikan arah bagi setiap warga sekolah yang terlibat dalam pencapain tujun Unit Produksi

e. Bagaimana pengetahuan yang dilakukan itu benar
Untuk mengetahui apa yang dilakukan sudah mengarah pada tujuan yang ingin dicaai, maka perlu dibuat indikator keberhasilan pada setiap kegiatan yang dirumuskan dalam bentuk instrumen-instrumen yang dapat diukur sewaktu-waktu

Setelah memperoleh jawaban atas pertnyaan-pertanyan tersebut maka perlu dirumuskan fungsi-funsi buku unit Produksi yang meliputi;

  • Inti manjemen: Transparansi, team work dan kualitas
  • Manajemen umum: Personalia, Peralatan /Perbekalan dan keuangan
  • Manajemen spesifik. Promosi pasar, promosi perencanaan, pemasaran, perencanaan produk, bentuk pelayanan jasa

Melakukan Analisa Tingkat Kesiapan Setiap Fungsi Buku Bisnis Center/Unit Produksi
Analisa yang lazim digunakan adalah SWOT Analysis ( Kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman ). Jika ditemukan bahwa suatu fungsi tidak siap, maka ketidaksiapan fungsi inilah disebut persoalan penyebab timbulnya persoalan adalah fungsi yang lemah dan atau sebagai ancaman. Akibat timbulnya persoalan, maka target pada hasil tidak tercapai. Karena itu selagi masih ada persoalan, maka target hasil fungsi tidak tercapai, oleh karena itu perlu ditempuh langkah-langkah yang merubah ketidaksiapan fungsi, langkah itu disebut “ Peniadaan Persolan

Melakukan Strategi Dasar Peningkatan Kwalitas Bisnis Center/Unit Produksi
Untuk merencanakan, mengembangkan, dan menyempurnakan kwalitas dalam rangka memuaskan atau bahkan membahagiakan pelanggan ada 5 strategi dasar yang dilakukan:

  • Menetapkan tujuan yang jelas
  • Memprekasai/ menentukan kembali budaya organisasi
  • Mengembangkan komunikasi yang efektif dan konsisten
  • Melembagakan pendidikan dan pelatihan
  • Mendorong perbaikan terus menerus

Penutup
Bisnis Center/Unit Produksi (UP) adalah suatu program peningkatan mutu sekolah, dirancang sebagai wadah pengelolaan dan peningkatan kemampuan, ketrampilan sumber daya manusia, mengoptimalkan sumber daya sekolah dan lingkungan serta memberi nilai tambah bagi warga sekolah. Prasyarat utama untuk memberdayakan Bisnis Center/Unit Produksi (UP) di sekolah, sehingga dapat berperan dalam perbekalan keterampilan produktif sesuai dengan kebutuhan tenaga keija pasar Industri, diperlukan adaya sistem yang dapat menJamm kepastian, kemanfaatan, keadilan dalam penyelenggaraan Bisnis Center/Unit Produksi (UP), dan adanya budaya keunggulan serta tersedianya pelaku-pelaku yang memiliki jiwa kewirausahaan.

Bisnis Center/Unit Produksi (UP) yang ideal di sekolah harus merupakan “Replikasi” tempat kerja, seperti layaknya yang ada ditempat keija/industri, yang dipadukan dengan proses pembelajaran, dan bukan perusahaan!usaha yang terisolasi dengan sekolah, tetapi menyatu dengan seko!ah sehingga mencakup dua kepentingan yaitu tujuan pendid.ikan dan tujuan perusahaan.

Peningkatan mutu sekolah ditempuh melalui pengembangan Bisnis Center/Unit Produksi (UP) sebagai replikasi tempat kerja peserta didik seperti layaknya yang ada di industri/di tempat usaha. Strategi pengembangannya d.itempuh melalw cara merumuskan fungsi-fungsi baku Bisnis Center/Unit Produksi (UP) sebagai perusahaan, melakukan analisa tingkat kesiapan setiap fungsi baku Bisnis Center/Unit Produksi (UP) dan melakukan strategi dasar peningkatan kwalitas Bisnis Center/Unit Produksi (UP), sehingga Unit.Produksi (UP) dapat mencapai pertumbuhan dan profitabilitas yang besar.

Bisnis Center/Unit Produksi (UP) sebagai replikasi tempat kerja peserta didik yang memadukan kegiatan belajar mengajar dan usaha bisnis dilakukan dalam 3 bentuk kegiatan ; Kegiatan belajar mengajar di kelas, Kegiatan Replikasi Usaha disekolah dan diluar sekolah, Kegiatan mandiri peserta didik telah mampu meningkatkan mutu pendidikan di SMK baik dari segi peningkatan kinerja Kepala Sekolah, kinerja sekolah, kinerja guru dan karyawan, morale (semangat) keija peserta didik, performans sekolah dan perubahan budaya menuju budaya keungulan serta peningkatan mutu tamatan.

Kepala Sekolah bertanggung jawab terhadap terselenggaranya semua komponen dalam sistem sekolah, sebaikya herupaya melakukan pembinaan secara berkesinambungan. Pembinaan yang dapat dilakukan dalam kaitan pengembangan Bisnis Center/Unit Produksi (UP) dengan cara: Menyelenggarakan pelatihan yang dapat menunjang wawasan wirausaha. Memagangkan para pengelola Bisnis Center/Unit Produksi (UP) di SMK yang telah lebih maju Unit Produksinya.

Melihat pentingnya Bisnis Center/Unit Produksi (UP) berfungsi dan berperan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik dan guru dalam mengerjakan pekerjaan praktik yang berorientasi pasar, serta mendorong peserta didik dan guru dalam hal pengembangan wawasan ekonomi dan kewirausahaan, maka pengembangan Bisnis Center/Unit Produksi (UP) di sekolah sangat mendesak untuk dilaksanakan disetiap sekolah, apalagi dalam menghadapi persaingan global dan terbatasnya lapangan pekerjaan dan umumnya daya serap tamatan, maka melalui kegiatan Bisnis Center/Replikasi Usaha akan dapat meningkatkan pendayagunaan sumber daya pendidikan yang ada disekolah sekaligus meningkatkan mutu lulusan. ***

Bekasi, 5 Mei 2017

Drs. H. Ahmad Sholeh Dimyathi, MF., MM. (biasa dipanggil Pak Kyai) lahir di Pati, Jawa Tengah, 17 Oktober 1954. Prestasi yang berhasil dicapainya meliputi pemenang utama Lomba Kreativitas Guru (LKG) tingkat nasional tahun 1997, guru teladan tingkat Jakarta Timur tahun 2000, pemenang II Lomba Kreativitas Guru (LKG) tingkat nasional tahun 2001 dan 2002, guru berprestasi dan berdedikasi luar bisa tingkat nasional tahun 2005, kepala sekolah berprestasi nasional tahun 2006, dan pengawas berprestasi terbaik 2 tingkat DKI Jakarta tahun 2014. Dalam kepangkatan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) berhasil meraih pangkat pembina utama dengan golongan IV E. Pangkat dan golongan ini bagi PNS yang berkarir dari seorang guru, merupakan prestasi yang sulit dicapai. Pada tahun 2004 ia meraih Satya Lencana Pendidikan Guru Berprestasi dan Berdedikasi dari Menteri Pendidikan Nasional. Saat ini menjadi Dewan Pembina Pengurus Pusat Agupena (Asosiasi Guru Penulis Indonesia).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Hidden Kurikulum

Oleh: Fortin Sri Haryani Ada pertanyaan di balik tragedi pembunuhan massal oleh

Mind Map dan Aikido

Oleh: Yudhi Kurnia Bagi para praktisi pendidikan tentunya tidak akan asing lagi
Go to Top