Home » Puisi » Sastra » HAKIKAT CINTA » 279 views

HAKIKAT CINTA

Rubrik Puisi/Sastra Oleh

PUISI HADI SASTRA

HAKIKAT CINTA

Pada pohon
kubaca, betapa indah alur hayati:
Bermula dari akar yang tak lelah bergerilya
batang rela memikul beban
cecabang dan reranting saling berangkulan
dedaun setia meramu jamuan
bebunga sajikan gemulai tarian
lalu, putik dan benang sari saling berdansa
lahirlah bebiji mungil yang terus mendewasa
hingga buah merayu untuk dijamah
Di sanalah bersemayam hakikat cinta

Pada hujan
kubaca, betapa cantik alur kodrati:
Bermula dari air di punggung lautan
menggeliat oleh sapaan surya
menggumul mewujud awan
angin menuntunnya memayungi daratan
lalu, jelaga menyelaput angkasa
gemuruh saling bersahutan
pecah hujan menyapu tanah
hingga air berpamitan menuju lautan
Di sanalah bersemayam hakikat cinta

Pada waktu
kubaca, betapa elok alur alami:
Bermula dari bulan yang menutup tirai malam
pintu langit mulai terbuka
pagi tiba geliatkan alam
setapak demi setapak surya merangkak
perlahan-lahan cahaya pudar
lalu, warna magenta menjemput senja
bulan hadir menjaga malam
hingga fajar tiba melabur cakrawala
Di sanalah bersemayam hakikat cinta

Pada hewan
kubaca, betapa manis naluriah:
Dari yang lelucu rumahan
liar di jalanan
penjelajah belantara
hingga pengarung samudera
semua tumpahkan kasih dan nyawa
demi anak-anaknya
Di sanalah bersemayam hakikat cinta

Pada diri
kubaca, walau usia telah menanjak
masih merasa belum ada
belum sehuruf pun menyusun kata
namun, niat bertahta dalam dada
akan selalu gelorakan tekad
untuk tetap belajar mengeja
agar kelak turut torehkan nama
Di sini pun bersemayam cinta

Tangsel, 2017

***

INGIN

Aku ingin bernostalgia dengan
cuilan senja yang baru saja kucubit
Mengantarku pada serpihan cerita lama
Cerita yang lalu mengendus memasuki
ruang jingga
Memapahku perlahan-lahan
Menyulam mimpi-mimpi yang
selalu menyelinap dalam tidurku dulu

Aku ingin bercengkerama dengan waktu
Menjuntai tirai yang memisahkan
perjalanan diri
Ketika tak lagi kurasakan dinginnya
udara menyapu kulit
Pekatnya jelaga dari lampu-lampu tempel
Nikmatnya dua potong singkong di atas tikar
Menyisir wajah hangat emak menutup malam

Aku ingin menyobek mimpi
dan menukarnya dengan seribu bintang
di malam ini
dan malam-malam esok lusa

Tangsel, 2017
***

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*