Home » Opini » Membuka Jendela Dunia » 280 views

Membuka Jendela Dunia

Rubrik Opini Oleh

Oleh: La Ode Mu`jizat
(Anggota AGUPENA dari Kota Baubau)

Ts’ai Lun adalah sosok penemu kertas.Ia hidup di zaman Dinasti Han, dan pada sekitar tahun 105 M memperkenalkan hasil penemuannya itu pada kaisar Ho Ti. Sang kaisar sangat senang dan terkesan.Segera setelah itu, selama abad kedua dan selanjutnya, penggunaan kertas meluas di China. Tak lupa mereka mengekspornya ke wilayah lain di benua Asia.

Selain penduduk Tiongkok sendiri, saat itu dunia belum tahu teknik pembuatan kertas.Sebab negeri Tirai Bambu masih merahasiakannya.Hingga abad ke delapan Masehi, ketika beberapa ahli pembuat kertas menjadi tawanan bangsa Arab. Tak berapa lama kemudian, Baghdad dan Samarkand, dua kota penting umat Islam, mulai memproduksi hasil penemuan Ts’ai Lun. Bangsa Eropa kemudian mempelajarinya dari kaum muslimin.

Sejarah mencatat bahwa sebelum abad kedua Masehi, awalnya kebudayaan barat masih lebih unggul dari Tiongkok.Tetapi tujuh atau delapan abad selanjutnya, usai menemukan kertas, China berhasil melampaui Barat.Catatan-catatan Marcopolo (abad ke-13) menunjukkan bahwa negeri Tirai Bambu jauh lebih makmur dibanding Eropa.Hanya saja, pada abad ke-15, benua biru kembali mengungguli China.

Pertanyaannya adalah mengapa Eropa kembali menjadi lebih unggul? Michael H. Hart, dalam bukunya yang berjudul ‘100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang sejarah’, mengakui bahwa banyak faktor yang mempengaruhinya. Sejak bangsa Eropa mulai menggunakan kertas, mereka mulai berhasil memperpendek jarak perbedaan.Salah satu momentum yang terjadi di abad ke-15, telah membuat Eropa akhirnya mengungguli China.

Hart menulis: “Di Eropa, abad ke-15, seorang jenius bernama Johann Gutenberg mengembangkan sebuah teknik untuk memproduksi buku secara massal. Setelah itu, peradaban Eropa berkembang cepat.Karena China tidak memiliki Gutenberg, masyarakatnya tetap memakai cetak timbul sehingga kebudayaan mereka maju dengan kecepatan relatif lambat.”

Jadi, hadirnya buku yang diproduksi secara massal, mudah, cepat, dan murah serta diikuti dengan minat baca yang tinggi adalah jawabannya.Barat sudah membuktikannya.Eko Laksono dalam karyanya yang berjudul ‘Imperium III’ menjelaskan bahwa salah satu kunci terpenting Renaisans Eropa adalah mesin cetak Gutenberg.Sebuah temuan yang dengannya buku-buku bisa dibuat dengan mudah dan murah.Benua biru lalu mengalami revolusi kecerdasan setelah itu.Meninggalkan bangsa China jauh di belakang.

“Buku membuat kita bisa menyerap ilmu-ilmu terhebat dan paling unggul di dunia dengan biaya yang sangat murah.Dari buku kita bisa belajar tentang peradaban-peradaban terhebat, tokoh-tokoh terhebat, rahasia orang-orang paling kaya, dan kemajuan sains-teknologi yang paling mutakhir. Kalau ada perpustakaan yang lengkap dan menyenangkan, akan lebih bagus lagi. Berjuta-juta orang, tidak melihat kaya atau miskin, anak konglomerat atau anak buruh bangunan, akan menyerap ilmu-ilmu terhebat di dunia itu tanpa biaya sama sekali alias gratis. Anak miskin yang menjadi penguasa industry baja Amerika.Masa kecilnya banyak dihabiskan dengan membaca buku dan berada di perpustakaan.” Jelas Eko.

Dari sini maka benarlah pernyataan yang sering kita dengar: “buku adalah jendela dunia, dan membaca adalah kuncinya.” Buku memberikan informasi tentang seluruh aspek kehidupan manusia, baik sosial-budaya, politik, ekonomi, kesehatan, pengembangan diri, pertahanan keamanan dan lain sebagainya. Membaca akan memperluas wawasan, mencerdaskan hati dan otak, sehingga dapat menghadirkan inspirasi untuk menggenggam masa depan.

Nah, bagaimana dengan perbukuan di Indonesia saat ini? Hanif Ridho Ansyoro dalam tulisannya yang berjudul “Menumbuhkan Minat Baca sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia” menyebutkan bahwa walaupun belum ada data pasti tentang jumlah buku baru yang terbit dalam setahun, namun mengacu kepada jumlah buku yang diterima jaringan toko buku besar, seperti Gramedia dan Gunung Agung, setidaknya Indonesia mampu menerbitkan 12.000 judul buku baru dalam setahun. Jumlah tersebut tidak termasuk buku yang cetak ulang dalam tahun yang sama. Dengan rata-rata tercetak untuk satu judulnya 3.000 eksemplar, maka setidaknya para penerbit Indonesia mampu menghasilkan 36.000.000 eksemplar buku dalam setahun.

Sayangnya, minat baca orang Indonesia rata-rata masih rendah.Direktur Jenderal Pendidikan Dasar, Hamid Muhammad, sebagaimana dilansir oleh Tribun Network (17 Agustus 2015) menyebutkan bahwa berdasarkan hasil studi UNESCO pada tahun 2013, hanya satu orang dari 1000 orang yang suka membaca.

“Survei BPS di Indonesia di tahun 2013 menunjukkan bahwa orang Indonesia paling gemar nonton televisi, yakni sebanyak 91,68 persen. Sedangkan yang membaca surat kabar hanya 17,6 persen. Berdasarkan data bank dunia, Indonesia memiliki minat baca paling rendah di antara negara Asia Tenggara. Indeksnya hanya 21,7 persen. Dibandingkan Filipina dan Singapura yang lebih dari 70 persen minat bacanya.” Jelas Hamid.

Data tentang minat baca ini tentu saja memprihatinkan kita semua.Hal ini juga menjadi salah satu jawaban mengapa kita tertinggal begitu jauh dari negara-negara maju.Tapi, kita tidak perlu terlalu larut dalam masalah ini.Yang perlu kita lakukan adalah terus berupaya meningkatkan minat baca anak bangsa.Bagaimana caranya?Beberapa diantaranya adalah adanya promosi yang elegan, massif dan terus menerus tentang pentingya membaca. Adanya reward dari pemerintah bagi tiap insan atau lembaga yang menumbuhkan minat baca bagi masyarakat. Serta tersedianyafasilitas perpustakaan dan bahan bacaan yang berkualitas.

Belum lama ini, ada anjuran untuk melakukan gerakan membaca 25 lembar perhari yang didengungkan oleh sebuah lembaga kemahasiswaan nasional sebagai hadiah 70 tahun Indonesia merdeka.Menurut pendapat saya, ini adalah sebuah gerakan yang sangat baik.Salah satu upaya dari ribuan usaha yang pernah dan terus dilakukan untuk melanggengkan budaya membaca. Saya mendukung dan ayo membaca. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top