Pendekar Naga: Adab Sebelum Ilmu

Rubrik Opini Oleh

Oleh: La Ode Mu`jizat (Anggota AGUPENA dari Kota Baubau)

“Shifu….”, ucap Poo lembut dan penuh penghormatan pada Sang Guru, sambil tubuhnya agak membungkuk dan kedua telapak tangan menyatu di depan dada. Guru Shifu menatap Pendekar Panda dengan penuh kebanggaan, lalu membungkuk pula menjawab hormat Sang Murid.

Hari itu, mereka baru saja melewati ujian terakhir untuk Poo. Berebut Bak Pao dalam sebuah piring.Saat itu bukan sekedar uji kehebatan kungfu, tapi lebih kepada soal kerendahan hati dan penghormatan pada Sang Guru. Dan Si Panda lulus dengan baik.

Berbeda dengan Tai Lung Si Harimau yang sangat sombong dan arogan, kerendahan hati dan penghormatan pada guru yang dimiliki Poo Si Panda-lah, yang membuat Guru Ooghway menunjuk pendekar endut dan lucu itu menjadi pewaris Gulungan Naga.

Sesungguhnya gulungan naga adalah lembaran kosong tak bertulis. Tapi ia seperti cermin, yang menangkap bayang wajah setiap yang melihatnya. Hanya dengan kerendahan hati dan ketenangan batin, hingga pesan dari gulungan naga itu bisa terbaca.Tanpanya takkan dapat.

Itulah yang dialami Poo akhirnya.Sang pendekar menemukan pesan bahwa segala hal yang dapat menjadikannya sebagai jagoan kungfu terbaik di daratan Tiongkok ada dalam dirinya.Ia menemukan keunikan penciptaannya, maka Sang Panda tahu potensi dan kekuatannya.

Sahabat, ini tentang adab sebelum ilmu. Imam Malik berpesan: “Pelajarilah adab sebelum ilmu”. Sebab, kata Yusuf bin Al Husain: “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Adab itu soal Akhlaq, Rasulullah berdoa: “Ya Allah, tunjukilah padaku akhlaq yang baik, tidak ada yang dapat menunjukinya kecuali Engkau dan palingkanlah kejelekan akhlaq dariku, tidak ada yang memalingkannya kecuali Engkau.” (HR. Muslim)

Adriano Rusfi (Psikolog) berkata: “Puncak dari seluruh ikhtiar pendidikan adalah pembentukan hikmah atau kebijaksanaan.” Tapi hikmah hanya bisa diperoleh jika seseorang memiliki adab terlebih dahulu.Seperti Poo Si Panda yang bisa membaca pesan dari gulungan naga yang tak bertulis.

Semasa mahasiswa dahulu, saat belajar tentang andragogy, dosen Saya menggambar sebuah teko dan sebuah gelas berisi air sampai setengahnya.Beliau berpesan, bahwa mengajar pada orang dewasa bukanlah ibarat menuangkan air pada gelas kosong.Sebab mereka sudah berisi. Ini soal metode….

Tapi seorang ibu berpesan pada Saya: “Jika engkau sedang belajar pada seorang guru, jadikanlah dirimu seperti sebuah gelas kosong. Biarlah ilmu itu masuk ke dalam wadahmu.Janganlah pernah berkata bahwa kau sudah pernah mendengarnya, atau merasa diri sudah atau paling tahu.Sebab itu adalah kesombongan yang menutup pintu hikmah.”

“Cintailah ilmu dan hormatilah Sang guru. Hanya dengan begitu, engkau akan mendapatkan hikmah”.Itulah adab.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top