SEBUAH PENCARIAN MAKNA KEHIDUPAN

Rubrik Opini Oleh

Oleh Ainun Zaujah, S.Sos.,M.Si
(Dosen Sosiologi Fisip Unidayan, Anggota Agupena Kota Baubau, SULTRA)

Kerinduan akan kehidupan yang tenang dan damai membuat perfilman Indonesia menampilkan sebuah Film di RTV “ Sikabayan anak sekolahan” yang tayang bulan November 2016.Semua orang ingin berlibur ke desa, menikmati senja dan panorama alam, merindukan kicauan burung, menyapa mentari yang muncul di ufuk timur, mandi di sungai, bermain di pematang.

Kita semua rindu kehidupan sosial yang dulu pernah kita nikmati saat melewati masa kecil dengan penuh tawa dan riang gembira. Membuat segala permainan dari bahan-bahan yang tersedia di alam semesta dan melahirkan kreativitas dalam imajinasi kita, ketika hujan turun saya sangat suka mengambil daun pisang dan berjalan kaki ke sekolah, ketika ingin main mobil-mobilan saudaraku yang lelaki cukup mengambil kulit jeruk untuk dibuatkan mobil mainan. Masa kecil yang kita rasakan dulu, sangat jauh berbeda dengan kehidupan anak-anak kita. Mereka dibesarkan dalam suara deringan, kilatan cahaya, game online yang merampas begitu banyak waktu mereka, ketimbang bersenda gurau dengan keluarga.

Akibat positif dan negative kehidupan modern saat ini, menimbulkan berbagai pandangan teoritis tentang masa depan masyarakat manusia. Salah-satu pandangan itu bersumber dari iklim optimis dan progresivitas sosiologi klasik dan mengikuti kerangka teoritis evolusionisme. Pandangan ini menyatakan bahwa kebanyakan keadaan masa kini adalah menguntungkan, dan kecenderungan ini akan berlanjut di masa depan dan modernitas akan mengalami perubahan menurut arah yang sama, akan mencapai bentuk lebih matang, lebih sempurna (Sztompka, 2004).

Sedangkan, pandangan yang melihat sisi negatif kehidupan modern beranggapan bahwa masyarakat ditandai oleh sifat antikemanusiaan, sehingga memberikan pandangan alternatif yang bersumber dari penemuan kembali adanya aspek menyenangkan dalam masyarakat tradisional. Ada sejumlah seruan untuk membangun kembali kehidupan komunitas, pemakaian kembali ikatan sosial primordial, menghidupkan kembali kelompok dan hubungan primer. Ada pula seruan yang sama kuatnya untuk menyelamatkan dan memulihkan lingkingan alam dan memerangi pencemaran, kerusakan ekologi, dan eksploitasi sumber daya alam, gagasan ini dan gagasan serupa lainnya menyediakan landasan untuk memicu gerakan sosial yang kuat.

Jutaan orang di Amerika berpaling ke buku-buku How to untuk mencari solusi sederhana guna menghadapi rumitnya kehidupan mereka.  Elaine St.James, penulis lima buku laris Simplify Your Life ( Sudah dicetak 2,5 juta eksemplar) menawarkan sejumlah cara, langkah demi langkah untuk menarik diri dan menurunkan irama derap kehidupan modern. Gerakan sukarela perihal kesederhanaan menembus ke dalam masyarakat Amerika dan menggalakkan spiritualitas serta paham yang menjunjung lingkungan. Gerakan menuju kesederhanaan mulai digalakkan, gerakan menuju kesederhanaan adalah tentang mendapatkan kembali kehidupan kita dan meraih lebih banyak dari sesuatu yang benar-benar kita anggap bernilai (Barbara Brandt, penulis Whole Life Economics: Revaluing Daily Life).

Seorang penulis Amerika Karen Metzger berusia 33 tahun menggambarkan kehidupan sehari-harinya sebagai sebuah contoh Extrem dari gerakan “Kesederhanaan sukarela” yang hingga sekarang ini telah mengilhami 10-12 % penduduk Amerika untuk menurunkan derap kehidupannya. Karen memilih meninggalkan “perkemahan mewah” di Amerika dan pindah ke daerah pegunungan dengan menikmati hembusan angin yang kencang, malam yang dipenuhi bintang, mentari tenggelam yang memikat, jatuhnya salju yang merdu, menyelimuti kehidupannya dalam suasana yang tidak terganggu oleh pembangunan, lalu lintas ataupun belitan kabel listrik.

Dengan melengkapi hidup kita dengan berbagai peralatan otomatis yang lebih canggih, kegiatan dan bahasa kita pun berubah. Mengirim surat lewat email bukan lagi ke kantor Pos, Kerinduan lewat video call nggak mesti bertemu, Anak-anak kita bermain bukan lagi di pematang sawah menikmati alam raya yang luas dekat dengan alam, sebagai penyedia udara psikologis yang sehat, berupa kelapangan dada dan kejernihan pikiran, tetapi mereka disibukkan dengan permainan elektronik seperti video game, bermain ke timezone, dalam hiruk-pikuk kilatan cahaya selfie, ketenangan adalah kata yang sudah jarang digunakan dewasa ini, stress menumbuhkan kosakata kita. Dan kita bermimpi berlibur ke desa. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*