Urgensi Membentuk Struktur Masyarakat yang Kuat di Era Globalisasi

Rubrik Opini Oleh

Oleh Ainun Zaujah, S.Sos.,M.Si
(Dosen Sosiologi Fisip Unidayan, Anggota Agupena Kota Baubau, SULTRA)

Globalisasi merupakan sebuah fenomena multidimensional yang tak dapat dielakkan  dalam kehidupan manusia dewasa ini. Globalisasi diartikan sebagai proses yang menghasilkan dunia tunggal (Robertson, 1992:396). Hal ini sangat dimungkinkan oleh kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi. Sebagai sebuah proses, globalisasi pada akhirnya akan membawa seluruh penduduk menjadi saling tergantung di semua aspek kehidupan. Cakupan saling ketergantungan ini benar-benar mengglobal. “Tak ada satu negarapun di dunia yang mampu mencukupi kebutuhannya sendiri” (Chirot, 1977:ix).

Popularitas ide globalisasi, berkaitan erat dengan tesis “kita semua sekarang hidup dalam satu dunia” (semacam global village ala McLuhan). Terhadap tesis itu, ternyata masih menyimpan sebuah keraguan yang mendasar, khususnya yang berkaitan dengan mekanisme bagaimana sistem kehidupan seperti itu bisa terbangun, dan apakah pemikiran seperti itu adalah sesuatu hal yang valid? Terdapat sejumlah pemikir yang secara tegas berlawanan dalam mengapresiasi gejala globalisasi ini.

Anthony Giddens seorang sosiolog menulis buku berjudul Run way a word. Dalam buku tersebut, Giddens mengatakan:keliru, jika menganggap bahwa globalisasi hanya berkaitan erat dengan sistem-sistem yang besar. Globalisasipun mempengaruhi tatanan mikro kehidupan manusia”. Demikianlah globalisasi sebagai sebuah rangkaian proses yang kompleks, dan semuanya berlangsung dalam wujud yang kontradiktif.

Fenomenana globalisasi akan  merambah ke Kota Baubau. Hal ini akan berdampak pada perubahan tatanan sistem social di masyarakat. Terlepas dari dampak positif dan negatif yang ditimbulkan oleh globalisasi, yang perlu dicermati  adalah bahwa globalisasi mempunyai kecenderungan paradoksal.          Konsekuensi dari arus globalisasi mendorong munculnya pusat-pusat budaya tandingan sebagai sebuah reaksi terhadap globalisasi yang berlebihan. Sebagai contoh dalam bidang budaya misalnya, kita melihat menguatnya glokalisasi di daerah-daerah. Munculnya tokoh-tokoh sekaliber walikota bahkan bermetamerfosa menjadi presiden RI seperti yang terjadi pada kasus Jokowi di Solo.

Menguatnya glokalisasi dalam merespon fenomena globalisasi yang berlebihan nampak lewat maraknya komunitas yang mengatasnamakan gerakan-gerakan yang ingin mengembalikan kehidupan social sebagaimana yang diidam-idamkan. Contohnya tahun 2014 setelah terbentuknya komunitas home education based akhlak and talents (HEbAT) di Jakarta yang dipelopori oleh bu Septi peni dan mas dodik, komunitas ini begitu cepat menyebar ke seluruh Indnesia, dan tahun 2016 kmunitas ini dibentuk di kota Baubau. Fasilitator komunitas ini bernama Dini khalisah nasution. Seorang ibu kreatif dengan segudang ide yang berdomisili di kota Baubau. Bu dini telah mendatangkan 3 pembicara nasional sekaligus para pakar di bidangnya ke kota Baubau untuk mensosialisasikan visi-misi dan konsep pendidikan yang familiar dengan istilah “pendidikan berbasis fitrah”. Semangat beragama juga nampak berjalan massif. Tumbuhnya spiritualitas di kampus-kampus negeri dan swasta, lewat maraknya kegiatan dakwah dan syiar islam, tidak ketinggalan Unidayan sebagai kampus swasta terbesar di Sulawesi Tenggara, berkedudukan di kota Baubau lewat Lembaga Dakwah Kampus Fastabikul Khairat. Hal ini diperjelas dengan analisis Ali said Damanik (2002), bahwa ada dua factor penting yang mengkonstruksi pola baru aktivitas keislaman mahasiswa. Pertama, munculnya kelompok anak muda yang memiliki semangat tinggi dalam mempelajari dan mengamalkan islam. Kedua, adanya sebuah public sphere (ruang public) yang relatif lapang, yang bernama masjid atau mushalla kampus, tempat dimana idealisme kaum muda islam itu mengalami pernyemaianideal dan pengecambahan secara cepat.

Diduga bahwa globalisasi menghasilkan serangkaian peristiwa kontak cultural, tetapi mahasiswa yang tergabung sebagai anggota Lembaga Dakwah Kampus Fastabikul Khairat berada pada tahap kedewasaan sesuai teori yang dikemukakan oleh Hannerz dengan teori Ecumene Culturenya. Seiring dengan Makin besarnya peluang berpendidikan tinggi, mahasiswa sebagai kelompok menengah baru tumbuh menjadi komunitas kritis dan well informed di tengah masyarakat. Hal inilah yang disinggung oleh Eep (Hidayatullah, edisi 01/Th.XI Muharram 1419) ketika menganalisa bahwa pertemuan antara masjid sebagai ruang “suci” dan penuh nuansa religius spiritual  dengan kampus simbol intelektualitas dan pencetak tenaga pembangun bangsa.

Dalam hubungannya dengan tumbuhnya semangat religiusitas di kampus-kampus, dalam bukunya ESQ Power, Ary Ginanjar menulis tentang istiah spiritual pathology. Ary Ginanjar mengutip hasil penelitian yg dilakukan Daniel goleman dalam buku Goleman berjudul “bekerja dengan kecerdasan emosi” menulis tentang orang-orang yang sukses di usia muda, tetapi merasakan kehampaan yg luar biasa dalam kehidupannya. Mereka sukses tetapi tidak bahagia QS. Al-Jaatsiyah ayat 24 menceritakan tentang manusia yang  merasa menjadi budak waktu. Maka, seorang psikolog dari Harvard business school menangkap kebutuhan ini dan mendirikan program refleksi diri bernama odyssey di Amerika.

Alqur`anpun  menjelaskan tentang empat tipe manusia yaitu pertama, mereka yang mengumpulkan kekayaan dan harta. Kedua,golongan yang berbangga-bangga dengan banyaknya anak dan asset yg dimiliki. Ketiga, golongan yang membuat kerusakan/fitnah. keempat, golongan mu`minin yaitu golongan yang di pundaknya ada tugas mulia yaitu bermanfaat bagi orang lain. Golongan manusia yang ke-4 inilah golongan manusia yang beruntung, karena menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain.

Banyak orang sukses yang bermanfaat secara social dan ekonomi, tetapi kehilangan makna spiritual dalam dirinya. Kisah tentang seorang top eksekutif Indonesia  yang ditemukan mati bunuh diri karena terjun bebas dari sebuah apartemen di Jakarta berlantai 56, membuat kita harus merumuskan kembali tentang makna kesuksesan. Karena sebagai seorang muslim, kita bisa menjadikan QS.Thaha ayat 124 sebagai rujukan untuk mendefinisikan tentang kebahagiaan. Kebahagiaan yang bersumber dari dalam hati, karena hati dipenuhi oleh Cinta yang bersumber dari Sang pemilik cinta. Cukuplah surat ini menjadi peringatan bagi kita semua, “Barang siapa yang berpaling dari peringatan Allah, maka baginya kehidupan yang sempit, dan mereka akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Fakta terkini juga dikemukakan oleh pakar gaya hidup  dr. Phaidon L.Toruan. Phaidon mengungkapkan bahwa bukan hanya fashion dan gadget yang mengalami perubahan cepat, pergeseran tren penyakitpun demikian. 20 tahun lalu yang mewabahnya penyakit karena infeksi, sekarang yang menjadi momok baru adalah  penyakit degenerative khususnya masyarakat perkotaan. Penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah seperti jantung, stroke, hipertensi yg bermula dari tingginya kadar kolesterol dalam darah. Tren baru yg ditemukan adalah hiperkolesterolemia atau kolesterol tinggi. Dulu, terjadi pada usia 50 tahun ke atas, namun penelitian menunjukkan usia smakin muda 25-34 tahun.

Kolesterol tinggi dalam darah dipengaruhi oleh fakor genetic, factor usia, makanan, stress, kurang olahraga/aktivitas fisik, buruknya kualitas makanan, polusi lingkungan . gaya hidup masyarakat abad 21 ini membuat semua orang harus waspada ungkap Phaidon. Olahraga dapat meningkatkan kadar kolesterol baik 3-6%, di dalam tubuh dan menurunkan kolesterol jahat 10 %, stress dampaknya pada kerja sistem organ, saat stress tubuh mengeluarkan hormone kortisol. Memicu pembebasan lemak ke dalam darah dan menyebabkan kadar  kolesterol meningkat dalam darah. Hasil Riset Universits California , orang harus memperhatikan kadar kolesterol  sejak usia 20-an.

Ada temuan yang sangat baik tentang pentingnya gaya hidup positif yang berefek pada rahasia umur panjang dan terbebas dari penyakit jantung, dalam buku Malcomm Gladwel  berjudul outliers tentang hasi survey di Roseto. Warga Roseto adalah bangsa italy yang melakukan imigrasi ke Amerika Serikat.

Apa rahasianya? Rahasianya adalah kesehatan yang melibatkan komunitas ( Penelitian dr. Wolf dari Universitas Oklahoma dan sosiolog John Bruhn Thn 1950-an) saat epidemi penyakit jantung sedang mewabah di Amerika. Warga Roseto menciptakan sebuah struktur sosial yang hebat dan protektif yang mampu melindungi mereka dari tekanan dunia modern. Warga Roseto hidup sehat karena tempat asal mereka, karena dunia yang telah diciptakan untuk mereka sendiri di kota kecil mungil di perbukitan.

Rahasianya adalah terdapat pada gaya hidup berikut ini:

  1. Warga Roseto memiliki perkumpulan spiritual yang dipimpin oleh seorang pemuka agama.
  2. Menyisihkan halaman belakang rumahnya untuk menanam sayuran, buah-buahan dan memelihara binatang.
  3. Saling berkunjung satu sama lain dengan tetangganya.
  4. Saling menyapa dengan tetangganya ketika bertemu di jalan.
  5. Memasak untuk tetangganya di belakang rumahnya.
  6. Tinggal 1 rumah sampai 3 generasi.
  7. Penghargaan luar biasa pada kakek-nenek ( jika ingin bahagia melalui masa tua pindahlah ke Roseto).
  8. Tempat ibadah dijadikan efek pemersatu dan penenang setiap pekan.
  9. Terdapat 22 organisasi kemasyarakatan yang hidup berdampingan dengan damai.
  10. Etos egaliter di masyarakat, yang mendorong orang-orang kaya untuk tidak memamerkan kekayaannya dan menolong orang-orang yang kurang sukses untuk mengubur kegagalannya (kekuatan kata positif, saling mendukung, memotivasi). Inilah rahasia umur panjang warga Roset yang tinggal di daerah perbukitan yang indah.

Itulah pentingnya membentuk struktur masyarakat yang kuat di era Globalisasi. Dengan menciptakan sebuah kehidupan yang harmoni dan tetap menjadikan agama sebagai pedoman hidup. Agama harus menjadi pondasi dasar dalam membentuk struktur sistem social di masyarakat. Agama akan menjadi sumber pemersatu dalam bingkai kehidupan sosial untuk hidup berdampingan secara damai. Kehidupan yang penuh dengan kebijaksanaan dan melahirkan ketenangan, karena merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta. Sebagaimana yang diungkapkan oleh CIRILL BARRET GURU besar filsafat dari Inggris “Kesenyapan menyuburkan pikiran, perenungan mengembangkan kebijaksanaan, mendengarkan menghasilkan kemanusiaan. Manakala tak ada kesenyapan, tak akan ada ruang untuk berpikir, kita sudah begitu terbiasa dengan kebisingan sehingga kita tidak lagi terganggu olehnya. Dalam dunia yang dipenuhi suara bip-bip, deringan, kilatan cahaya ini tidak lagi mengherankan bahwa 77 juta manusia yang lahir pada 1950-an mencari-cari makna kehidupan”. ***

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*