Very Special and Limited Edition

Rubrik Opini Oleh

Oleh: La Ode Mu`jizat (Anggota AGUPENA dari Kota Baubau)

“Berapa banyak Anda membuat baju seperti ini?”, tanyaku pada seorang produsen pakaian. “18 buah”, jawabnya. Saya tersenyum.”Itu berarti akan ada 17 orang yang berpakaian sama denganku jika jadi membelinya”, batinku. Hehehe….

Soal pakaian, adalah wajar jika banyak orang memakai corak yang sama. Sebab produsen pakaian sengaja mencetaknya dalam jumlah banyak untuk dijual. Bahan, daya tahan, komposisi warna, harga dan lain-lain yang seragam.

Tapi manusia, tidaklah seperti itu.Tiap turunan Adam-Hawa adalah very special and limited edition. Mereka diciptakan berbeda antara satu dengan lainnya oleh Sang Maha Pencipta.

Tidak ada yang sama persis. Bahkan kembar sekalipun, mereka berbeda.Demikian juga tentang bakat atau keunikan yang berhubungan dengan Misi penciptaan manusia. Tak sama. Begitulah adanya.

Karenanya jangan pernah memandang kesuksesan orang lain sebagai tolak ukur keberhasilan kita. Cukuplah mereka menjadi tauladan dalam semangat dan kerja keras, sebab sekali lagi, setiap manusia memiliki (fitrah) bakat yang berbeda.Sebuah keunggulan masing-masing.Maka upaya untuk mengetahui bakat diri adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan.

Kita bisa mengambil pelajaran tentang pentingnya pemahaman akan bakat dari juara World Cup 5 (lima) kali Brazil. Keseblasan yang memiliki keunikan tersendiri kala mengolah kulit bundar dan bertanding di lapangan hijau.

Oh iya, dalam seminggu ini, Alhamdulillah Saya berkesempatan menyaksikan 2 (dua) film inspiratif. Keduanya berkisah tentang Olah ragawan legendaris dunia. Jessey Owen, peraih 5 (lima) Medali Emas pada Olimpiade Munchen (1936) dan Pele, sang legenda sepak bola dunia asal Brazil.

Ada kekata menarik yang dikemukakan Pele, kala pertama kali sang maestro bola itu menjuarai Worl Cup di tahun 1958: “….perbedaan kamilah yang membuat kami indah”.

Statement di atas berlatar pada kritikan berbagai pihak terhadap gaya ‘ginga’ yang selalu dimainkan oleh timnas asal Amerika Latin itu. Sesuatu yang dianggap primitif oleh banyak kalangan. Kritikan yang juga menuntut mereka agar menggunakan gaya sepak bola Eropa dalam setiap pertandingan.

Lalu tim Samba mencoba meninggalkan ‘ginga’. Tapi di situlah awal masalahnya. Pele dan kawan-kawan seperti kehilangan dirinya. Bahkan, pria yang kelak menjadi Menteri Olah Raga Brazil itu mengalami cedera karenanya. Itu bukan tim juara lagi….

Hingga mereka kembali ke ‘ginga’.D an tampil sangat menawan. Memukau seisi stadion dan dunia. “Itu melebihi sepak bola”, komentar seorang reporter, mewartakan gerakan meliuk-liuk melewati lawan khas Samba.

Di laga pemuncak World Cup 1958, saat kali pertama dirinya membela Brazil pada ajang bergengsi internasional, pria yang bernama asli Edison Arantes do Nascimento itu, dan timnya sukses membungkam tuan rumah Swedia dengan skor 3 – 1.

Beberapa tahun kemudian, dalam mengenang momentum kemenangan di negeri Skandinavia, sang legenda pun berkata: “…. perbedaan kamilah (ginga) yang membuat kami indah.” ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*