Konvoi, Corat-coret? Sudah Tak Keren Lagi!

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Wijaya Kurnia Santoso
(Praktisi Pendidikan, Tim Yuk Ngaji Nganjuk)

Tepat 2 Mei 2017, bersamaan dengan perayaan Hari Pendidikan Nasional, pengumuman kelulusan tingkat SMA/MA/SMK dilaksanakan. Walaupun Ujian Nasional sudah tidak lagi digunakan sebagai penentu kelulusan namun hasil yang dicapai dalam Ujian Nasional masih menjadi kebanggaan. Perayaan kelulusan juga dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari syukuran, konvoi, corat-coret baju hingga perayaan yang berbau maksiat maupun tindak kriminal. Puluhan pelajar SMA/SMK gabungan dari Klaten, Jawa Tengah dan Sleman, DIY merayakan kelulusan dengan aksi konvoi di jalanan wilayah Kabupaten Klaten, Selasa (2/5/2017) dan konvoi tersebut berujung anarkis dengan melakukan perusakan hingga penganiayaan terhadap warga (krjogja.com). Bahkan, keganasan para peserta konvoi di Klaten tersebut melukai belasan orang (mediaindonesia.com). Di Garut, Polisi membubarkan konvoi kelulusan SMA karena dinilai meresahkan warga dan pengguna jalan karena ugal-ugalan di jalanan (detik.com). Perayaan kelulusan juga berakhir tragis terjadi di Magetan, sebanyak dua orang tewas dalam kecelakaan lalu lintas setelah sepeda motor yang dikenderai masing-masing terlibat kecelakaan saat konvoi merayakan kelulusan tingkat SMA (antaranews.com).

Pemerintah, melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pun telah mengimbau agar menyambut pengumuman kelulusan dengan bijak dengan tidak mencorat-coret seragam, tembok, atau apa pun. Selain itu, juga imbauan untuk donasi seragam kepada yang membutuhkan dan memanfaatkan waktu yang ada dengan belajar persiapan masuk perguruan tinggi. Namun, tidak semuanya menggubris himbauan tersebut dan menganggap bahwa konvoi dan corat-coret baju adalah sebuah tradisi. Miris bukan?

Kelulusan itu berkah, mensyukurinya itu wajib. Namun, kalau mengekspresikan rasa syukur itu harus ada panduannya, jangan dibiarkan menuruti nafsu belaka. Corat-coret baju atau aksi vandalisme saat kelulusan adalah sikap dan aktivitas yang tak keren. Apalagi sikap yang seperti itu bertentangan dengan agama kita, yakni Islam. Vandalisme adalah suatu sikap kebiasaan yang dialamatkan kepada bangsa Vandal, pada zaman Romawi Kuno, yang budayanya antara lain perusakan dan penistaan terhadap mutu segala sesuatu yang indah atau terpuji. Maka, jika masih ada yang menganggap bahwa kelulusan harus dirayakan dengan konvoi dan corat-coret itu sudah kuno serta tidak keren.

Islam sebagai agama sempurna, hadir menyelesaikan segala persoalan manusia. Entah masalah orang tua, masalah negara, masalah pemuda hingga masalah jomblo sekali pun akan selalu bisa diselesaikan oleh Islam. Termasuk islam memberikan panduan bagaimana cara yang paling tepat untuk mensyukuri nikmat-Nya. Makna bersyukur adalah menampakkan nikmat dengan menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan kehendak pemberiNya. Cara mensyukuri nikmat Allah berupa kelulusan bisa dengan memperbanyak ucapan hamdalah dan selalu berpikir positif (husnuzhan) terhadap semua nikmat Allah SWT, karena sesungguhnya nikmat atau karunia yang Allah berikan kepada kita pada dasarnya adalah sebuah ujian, apakah kita pandai bersyukur ataukah tidak. Selain memperbanyak kalimat pujian sebagai bentuk syukur, mensyukuri nikmat Allah bisa dilakukan dengan amal perbuatan, yakni dengan melakukan ketaatan kepada Sang Pencipta. Menjalankan semua syariatNya serta menjauhi apa yang telah dilarang dan diharamkan oleh Allah dan RasulNya.

Ketika kita pandai untuk bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat kepada hamba-hamba-Nya. Mau kan bila nikmat yang diberikan oleh Allah ditambah? “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim : 7). Bersyukur itu juga sebenarnya bukan untuk siapa pun. Hakikat bersyukur sesungguhnya adalah bersyukur atas diri sendiri karena Allah adalah Maha Kaya Lagi Maha Terpuji. Allah swt berfirman yang artinya: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah) maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa tidak bersyukur, sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. Luqman (31) : 12).

Sudah saatnya kita bertindak lebih mengedepankan akal bukan lagi asal-asalan. Lebih baik lakukan hal mulia daripada hina. Ayo selalu melakukan kegiatan yang manfaat dan jauhi aktivitas sia-sia dan maksiat. Daripada merayakan kelulusan dengan corat-coret yang tidak jelas manfaatnya atau konvoi yang tidak ada tujuannya, lebih baik melakukan aktivitas yang membanggakan orang tua dan agama serta meraih ridho-Nya. Buat yang lulus, selamat ya, semoga berkah. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Mind Map dan Aikido

Oleh: Yudhi Kurnia Bagi para praktisi pendidikan tentunya tidak akan asing lagi
Go to Top