Home » Puisi » Sastra » MEMBACA NEGERI » 330 views

MEMBACA NEGERI

Rubrik Puisi/Sastra Oleh

PUISI HADI SASTRA

MEMBACA NEGERI

membaca tentangmu:
aku saksikan gagahnya nenek moyang
dengan jukung-jukung sederhana taklukkan samudera
tak gentar, ajal menganga di depan
berlipat-lipat hitungan waktu
mencapai bibir-bibir pantainusantara

hebatnya sriwijaya pada abad ke-7
negeri bahari, genggam perniagaan;
— sumatera selatan,semenanjung malaya, jawa
kamboja, thailand bagian selatan, vietnam, filipina
irama jalur rempah-rempah;
— selat malaka, selat sunda,selat karimata
laut jawa, laut china selatan

perkasanya majapahit pada abad ke-13
di bawah raja hayam wuruk dan mahapatih gajah mada
negeri raksasa, barikade militer tangguh;
— sumatera, semenanjung malaya,
kalimantan, sulawesi, nusa tenggara, maluku, papua,
tumasik,filipina bagian selatan

kokohnya demak pada abad ke-16
di bawah pati unus dan para wali
teduhkan pelabuhan dan pedalaman
portugis terbirit-birit dari malaka
negeri sejuk bernuansa religi;
— jawa, sunda kelapa dan pajajaran

lalu, saksikan
api berkobar di dada para pemuda
erat pegangan tangan dan serentak maju
pekik perlawanan menembus langit
darah tumpah di setiap titik tanah
enyahkan kolonialisme dan penjajahan
hingga merah-putih tegak berkibar

namun,
kini aku saksikan
negeri ini menjerit
terseok-seok
diombang-ambing badai dahsyat
sampah berserakan di mana-mana
— dari tong-tong sampai gedung-gedung megah
musnah kisah-kisah heroik
— dilumat cerita-cerita hitam dan seram
iblis berpesta pora
— di atas darah dan air mata

sungguh,
aku ingin terus membaca negeri ini
hingga kelak kudapati
matahari pagi bersinar cerah
semilir angin menyapa
bebunga bermekaran
cericit burung bersahutan
senyum lepas merekah
mewarnai ceria anak negeri

Tangsel, Maret 2016
(Dimuat dalam antologi “Pasie Karam”, 2016 dan dibacakan pada saat “Temu Penyair Nusantara” di Meulaboh, Aceh Barat, 2016)
***

MEMBACA NEGERI DARI ATAS AWAN

langit jakarta, lewat 19.00 wib
baru saja lion air menerbangkanku
samar-samar kunikmati senyum kota ini
di antara cantiknya gempitamalam
lalu lenyap dilumatjelaga awan

di atas awan ini
kubaca wajah negeriku
kian hari kian berdandan
ikuti lejit laju zaman

namun,
di balik cermin hias negeriku
masih kulihat segunung beban
banyak rakyatmerintih lapar,
anak-anak tak cicipi buku pelajaran,
pengangguran meroket,
saling sikut berebut kursi,
korupsi makin menggurita,
teroris, sparatis, anarkis,
narkoba, asusila, aborsi,
perampokan, pembunuhan, pemerkosaan,
demonstrasi, intimidasi,premanisme,
carut-marut kehidupan
mencoreng wajah negeri

di dalam kabin ini
hingga mendarat di tanah Lombok
aku terus membaca
dan berdoa bagi negeriku

Kabin Lion Air, 19 Mei 2016

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Puisi

Senja yang Pemalu

Puisi Amber Kabelen Senja yang Pemalu Ina Palang Doni saat malam memalang

KETETAPAN SEMESTA

Puisi Gagas Saman KETETAPAN SEMESTA Bulan pucat pasi kerontang dipuncak hari Menantang

MENGEJA WAJAHMU

PUISI HADI SASTRA MENGEJA WAJAHMU : ilustrasi puisi kucecap malam ini dengan

SEPOTONG PUISI

PUISI HADI SASTRA SEPOTONG PUISI aku tak bisa memberimu apa-apa. hanya sepotong
Go to Top