SECANGKIR KOPI DI MEULABOH

Rubrik Puisi/Sastra Oleh

PUISI HADI SASTRA

SECANGKIR KOPI DI MEULABOH

meulaboh. angin senja menemani secangkir kopi
dalam kehangatan dan keakraban di pelataran kedai
persis depan tempat aku singgah. mendulang mimpi
pertama kali puisi mengantarku ke tanah ini. aceh barat
tanah teuku umar: pahlawan yang menancapkan pedang
bagi sejarah panjang perjalanan bangsa

meulaboh. secangkir kopi masih mengepul
langit mulai berjelaga
masih jelas tersimpan, kemarin pagi garuda menerbangkanku
membelah langit jakarta-banda aceh
hingga kakiku menapak di sultan iskandar muda
lalu, bukit barisan begitu kokoh
cantiknya pesisir pantai
— dengan tarian-tarian ombak
dan jalanan seperti ular
menemani selama lima jam
aku terkesima. betul-betul terkesima
terkesima oleh eloknya cuilan negeri ini

meulaboh. kopi tinggal setengahnya
malam bertandang
aku masih memungut serpihan-serpihan tentang kota ini
kota yang baru kuinjak
kota yang pernah luka
— oleh kisah kelam masa silam
yang kini tinggal puing-puing di buku-buku pelajaran sejarah
tentang pergolakan sebagian anak bangsa yang tak puas
— seperti bandelnya anak terhadap bapaknya
tentang dahsyatnya tsunami
— yang meratakan kota
meratakan tanah serambi
mengundang air mata. air mata negeri. air mata dunia

meulaboh. pasie karam
secangkir kopi telah berbicara
tentang kota ini
tentang ramahnya warga
tentang sambutan bupati dan perangkat daerah
tentang jamuan yang tersaji
tentang pawai budaya yang menutup jalanan kota siang tadi
tentang nikmatnya mi aceh
tentang riuhnya para penyair dari seantero nusantara
dan negeri-negeri seberang
saling menyapa
lalu membaur bersama warga
tentang perjalanan kembali esok pagi
kembali memeluk anak dan istri
tentang puisi-puisi yang kelak lahir

meulaboh. secangkir kopi tak bersisa
namun, harumnya masih tersisa
sebuah tanya bersarang dalam dada:
akankah kelak kuseruput lagi kopi di kota ini?

Meulaboh, 28 Agustus 2016

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Puisi

Senja yang Pemalu

Puisi Amber Kabelen Senja yang Pemalu Ina Palang Doni saat malam memalang

KETETAPAN SEMESTA

Puisi Gagas Saman KETETAPAN SEMESTA Bulan pucat pasi kerontang dipuncak hari Menantang

MENGEJA WAJAHMU

PUISI HADI SASTRA MENGEJA WAJAHMU : ilustrasi puisi kucecap malam ini dengan

SEPOTONG PUISI

PUISI HADI SASTRA SEPOTONG PUISI aku tak bisa memberimu apa-apa. hanya sepotong
Go to Top