Menulis dengan Landasan Spiritual

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
(STAIN Sorong-Agupena Papua Barat)

Dalam diskusi di seminar yang diadakan Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam (LTMI), sebuah pertanyaan menyeruak “lalu insentif apa yang ditawarkan ke mahasiswa saat mereka mampu menulis?”

Saya tidak menjawab pertanyaan ini secara khusus, karena soal penganggaran di republik kita ditentukan awalnya dan sepenuhnya oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Hanya saja, saya berpandangan bahwa soal insentif sesungguhnya adalah gula-gula. Tidak akan pernah menjadi solusi bagi kehausan. Untuk itu, menulis sejatinya harus dilihat sebagai perjalanan spiritual. Ada refleksi individual yang harus ditumbuhkembangkan sehingga patokan tidak lagi pada soal insentif.

Dengan alasan spirituallah, maka asa untuk terus menulis dapat dirawat sehingga menjadi rirual tersendiri. Jika hanya karena alasan materi, maka suatu saat ketika materi itu sudah digapai, akan abai begitu saja. Maka, tujuan akhir yang bisa dikemukakan bahwa menulis itu adalah ibadah. Sebagai manifestasi ayat yang kali pertama turun, maka urusan membaca tidak akan pernah sempurna tanpa menulis itu sendiri.

Sehingga, perintah untuk membaca sama pentingnya dengan perintah menulis. Tidak akan sempurna keimanan seorang manusia jika tidak menyertakan alasan menulis. Jika pemahaman seperti ini bisa dibangun, tentunya menulis bukanlah sesuatu yang mesti dipaksakan karena secara khusus, semua insan berusaha untuk senantiasa menulis.

Menulis bisa saja menjadi jalan untuk bertemu dengan Tuhan. Kita saksikan para ulama di masa lalu juga menulis. Tidak saja para sastrawan tetapi para pemimpin juga menorehkan dawat. Belum lagi para pujangga meneteskan tinta demi tinta karena cinta. Semuanya, menjadi sarana untuk meneguhkan betapa lemahnya kita sebagai manusia sehingga memerlukan Tuhan. Sementara jalan untuk menemui Tuhan, bisa saja dengan aktivitas menulis.

Jika diadaptasikan dengan kondisi kekinian, maka menulis lebih mudah karena bantuan papan ketik komputer. Demikian pula gawai menawarkan kemudahan untuk mengetikkan ide-ide. Maka, menulis bisa saja berubah dalam peralatan. Tetapi dalam soal spirit, menulis adalah ibadah yang menjadi keperluan bagi seorang hamba. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top