Sastra dalam Gerakan Literasi Sekolah

Rubrik Esai/Sastra Oleh

Oleh: Washadi, S.Pd, MM.Pd.
(Guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 12 Kota Tangerang Selatan Provinisi Banten; Ketua Bidang Humas dan Kerja Sama Antarlembaga AGUPENA Pusat)

Pengertian Sastra
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sastra adalah: bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari); tulisan; huruf. Ensiklopedia Wikipedia menyatakan bahwa sastra berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.

Dalam arti kesusastraan, sastra dibagi menjadi sastra tertulis dan sastra lisan (sastra oral). Sastra tidak hanya berhubungan dengan tulisan, tetapi juga berhubungan dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.

Banyak definisi tentang sastra, antara lain:

  1. Menurut A. Teeuw, sastra adalah segala sesuatu yang tertulis; pemakaian bahasa dalam bentuk tulis.
  2. Menurut Ahmad Badrun, sastra atau  kesusastraan adalah kegiatan seni yang mempergunakan bahasa dan garis simbol-simbol lain sebagai alai, dan bersifat imajinatif.
  3. Rene Welleck dan Austin Warren, memberi definisi sastra dalam tiga hal, yakni:
  4. Segala sesuatu yang tertulis
  5. Segala sesuatu yang tertulis dan yang menjadi buku terkenal, baik dari segi isi maupun bentuknya
  6. Sebagai karya seni yang imajinatif dengan dominan unsur estetis dan bermediumkan bahasa.

Sastra merupakan perwujudan pikiran dalam bentuk tulisan bersifat abstrak/imajinatif yang menjadi bagian dari budaya masyarakat yang dipelihara secara turun-temurun oleh para penulis, penikmat, kritikus sastra dan masyarakat secara umum. Yang termasuk kategori sastra adalah puisi, prosa dan drama. Seiring perjalanan waktu, ketiga jenis sastra ini mengalami perkembangan periodesasi, cakupan kontekstual dan segmentasinya.

Ciri-ciri karya sastra di antaranya: isinya menggambarkan manusia dengan berbagai persoalannya; bahasanya indah dan tertata baik; dan gaya penyajiannya menarik dan berkesan di hati pembacanya. Fungsi karya sastra adalah: 1) fungsi rekreatif, memberikan kesenangan atau hiburan bagi pembacanya; 2) fungsi didaktfi, memberikan wawasan pengetahuan mengenai seluk-beluk kehidupan manusia bagi pembacanya; 3) fungsi estetis, mampu memberikan keindahan pembacanya; 4) fungsi moralitas, memberikan pengetahuan bagi pembacanya mengenai moral yang baik dan buruk; dan fungsi religius, menghadirkan karya yang di dalamnya mengandung ajaran agama yang diteladani pembacanya.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS)
Menurut KBBI Online, literasi berarti kesanggupan membaca dan menulis. Sedangkan menurut kamus online Merriam-Webster, literasi berasal dari istilah latin ‘literature’ dan bahasa inggris ‘letter’. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun, makna literasi juga mencakup melek visual, yang artinya “kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar).”

National Institute for Literacy, mendefinisikan literasi sebagai “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini memaknai literasi dari perspektif yang lebih kontekstual.

Menurut UNESCO, pemahaman orang tentang makna literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya, dan pengalaman. Pemahaman yang paling umum dari literasi adalah seperangkat keterampilan nyata –khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis– yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dan dari siapa memperolehnya. UNESCO menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan menjadi dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga dan masyarakat. Karena sifatnya yang multiple effect (dapat memberikan efek untuk ranah yang sangat luas), kemampuan literasi membantu memberantas kemiskinan, mengurangi angka kematian anak, pertumbuhan penduduk, menjamin pembangunan berkelanjutan, dan terwujudnya perdamaian.

Literasi tidak dapat dilepaskan dari bahasa. Seseorang dikatakan memiliki kemampuan literasi apabila ia telah memperoleh kemampuan dasar berbahasa, yaitu membaca dan menulis. Jadi, makna dasar literasi sebagai kemampuan baca-tulis merupakan pintu utama bagi pengembangan makna literasi secara lebih luas. Cara yang tepat digunakan untuk pengembangan literasi adalah melalui pendidikan.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. GLS memiliki tujuan, yaitu:

  1. Tujuan umum, menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam GLS agar menjadi pembelajar sepanjang hayat.
  2. Tujuan khusus, yakni: 1) menumbuhkembangkan budi pekerti; 2) membangun ekosistem literasi sekolah; 3) menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran (learning organization); 4) mempraktikkan kegiatan pengelolaan pengetahuan (knowledge management); dan 5) menjaga keberlanjutan budaya literasi.

 

Sastra Dalam GLS

Pembelajaran sastra yang dalam kegiatan belajar-mengajar dimasukkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia seyogyanya harus betul-betul memosisikan sastra sesuai dengan porsinya. Hal ini penting, mengingat selama ini pembelajaran sastra hanya dijadikan sebagai elemen pelengkap atau tambahan dalam muatan mata pelajaran Bahasa Indoensia, sehingga pemahaman siswa terhadap sastra tidak dapat maksimal. Akibatnya, sastra yang semestinya dapat mendorong dunia literasi sekolah tidak berjalan dengan baik.

Sastra dalam kapasitasnya sebagai muatan pembelajaran dan bagian dalam pembelajaran dapat disinergikan dengan GLS. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengorelasikan sastra dan GLS, di antaranya dengan aktivitas membaca dan menulis sastra di dalam maupun di luar kegiatan belajar-mengajar di sekolah.

Sekolah harus selalu melakukan kajian dan inovasi berkelanjutan agar dapat menjadi wadah/tempat yang baik bagi upaya menghidupkan sastra dan GLS. Keberhasilan sekolah dalam hal ini akan membawa perubahan bagi perkembangan pengetahuan siswa –termasuk guru– dalam dunia literasi. Membimbing siswa dalam dunia literasi tidak ubahnya seperti membawa mereka memasuki taman bunga, terasa nyaman dan menyenangkan. Pembelajaran sastra dalam GLS dapat menyenangkan apabila guru dan sekolah mampu menyajikannya secara menyenangkan pula. ***

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*