Ujian yang Sebenarnya

Rubrik Kegiatan/Pendidikan Oleh

Oleh: Fortin Sri Haryani

Selasa, 2 Mei 2017 Euforia kelulusan dirayakan oleh seluruh siswa SMA hingga ke pelosok negeri. Rasa bangga, haru, dan gembira lebur terekspresikan dengan sujud syukur. Guru dan orang tua pun turut bahagia.

Kelulusan ditentukan oleh sekolah,berdasarkan hasil rapat pleno dewan guru dengan mengevaluasi   hasil  proses pembelajaran selama 3 tahun, sedangkan UN sebagai salah satu syarat siswa lulus dan oleh Kemdikbud dijadikan sebagai data pemetaan kemampuan siswa SMA di Indonesia.

Kelulusan SMA adalah bukti pencapaian target pembelajaran sekaligus tiket masuk ke gerbang perguruan tinggi. Tak heran bila kelulusan adalah adalah moment yang didamba oleh siswa dan orang tua.

Pemberian Penghargaan kepada Siswa
Foto bersama dengan para Siswa Berprestasi
Upacara Hari Pendidikan-Nasional di Aula SIT Fajar Hidayah

Kelulusan adalah istimewa, saking istimewanya, banyak yang mempersiapkan agenda kegiatan di hari kelulusan. Seperti di sekolah kami, para orang tua membuat acara tasyakuran sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas lulusnya putra-putri tercinta. Ada juga yang mengungkapkan rasa syukurnya dengan membagikan nasi kotak ke orang-orang di jalan.

Namun betapa mirisnya bila tujuan utama sekolah hanya terpaku pada pengumuman kelulusan, kurang memaknai proses yang dijalani sehari-hari. Hingga  berlebihan dalam merespon kelulusan dengan berbagai perilaku negatif yang mengabaikan  norma seperti  mencoret-coret baju, kebut-kebutan hingga tawuran.

Bila ini yang terjadi betapa hakekat utama tujuan pendidikan terdangkalkan dari makna yang sesungguhnya.

Kelulusan adalah akibat dari rangkaian proses yang dijalani selama 3 tahun dan  menyadarkan kita bahwa sejatinya pencapaian tujuan pendidikan  ada di hari-hari ketika menjalani proses pembelajaran di sekolah. Mampu berkreasi meski dalam keterbatasan, mampu mengendalikan diri bila sedang emosi, mampu mencari solusi disaat kerumitan menghampiri, berpositif thinking disaat ujian terberat melanda, bertekad tuk terus mengupgrade skill  adalah contoh karakter yang mampu mengantarkan siswa kita menjadi pemenang dalam kehidupan.

Membentuk karakter siswa diibaratkan seperti menamam tanaman. Memastikan  tercukupi kebutuhan air dan nutrisinya setiap hari. Faktor yang mempengaruhi juga patut diperhatikan seperti cahaya, suhu dan kelembaban. Dan proses perawatan itu ditelateni hingga membuahkan hasil. Proses perawatan sehari-hari yang baik akan lebih berpeluang manghasilkan buah yang baik, dibandingkan bila perawatannya hanya di ujung waktu ketika mau berbuah.

Perlu dibangun kesamaan tujuan dan persepsi antara guru dan siswa. Bahwa hari-hari di sekolah sebagai usaha untuk untuk meningkatkan kapasitas bukan hanya otak tapi juga ruhiyahnya. Sehingga indikator keberhasilan pendidikan tidak terpaku pada keberhasilan di ranah akademis-kognitif namun juga keberhasilan di ranah kepribadian atau karakter.

Terbangunnya sikap yang baik memerlukan keteladanan guru secara konsinten dan berkesinambungan. Pendidikan, pengajaran,dan  keteladanan senantiasa berjalan beriringan. Mempersiapkan mental siswa agar lebih mampu memaknai bahwa proses pendidikan adalah bagian dari pembentukan diri untuk menuju pribadi insan kamil.

Mengawali hari dengan niat baik,  melakukan yang terbaik, mengharap ridha dan berkah Allah SWT semata tuk menunaikan amanah guna mencetak generasi penerus bangsa menjadi  para juara kehidupan adalah tugas mulia para guru saat ini. ***

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Kegiatan

Di Balik Nama Danau Asmara

Danau Asmara, merupakan penyebutan lain dari Danau Waibelen. Terletak di antara Desa Waibao
Go to Top