Ikhtiar Merenda Masa Depan

Rubrik Pendidikan Oleh

Ismail Suardi Wekke
(STAIN Sorong-Agupena Papua Barat)

Sejak tamat sekolah dasar, seorang siswa sudah harus meninggalkan pulau tempat kelahirannya. Walau dengan perjalanan pesawat dari ibukota kabupatennya ke kota Sorong, tak lebih dari sejam. Tetapi karena bentangan pulau, diperlukan waktu hampir sehari mengarungi laut. Belum lagi, tidak adanya sarana transportasi yang terjadwal. Semata-mata hanya karena budi baik para nelayan yang memberikan tumpangan.

Mereka harus pindah ke kota Sorong. Di pulaunya tidak tersedia sekolah menengah. Satu-satunya jalan adalah dengan berpisah dengan kedua orang tua dan meninggalkan semua kesenangan di kampung halaman. Hanya karena keinginan untuk menuntut ilmu. Sementara, belasan anak muda lainnya karena kemampuan yang terbatas, memilih untuk mengubur impian dalam-dalam. Mereka tidak bisa lagi melanjutkan pendidikan. Tak berdaya sama sekali, diam dalam senyap, bahkan meratap tanpa tetesan air mata sekalipun. Membantu orang tua untuk melaut merupakan keseharian, padahal mereka memiliki kemampuan yang dibekali dari komsumsi omega 3 sejak masih di kandungan.

Itu potret pendidikan kita. Di tengah gempita pendidikan, medali demi medali diraih para siswa kita di tingkat mancanegara, bahkan di Jakarta sudah tersedia Kartu Jakarta Pintar. Ada saja sekolah yang bahkan tidak memiliki fasilitas perpustakaan. Bahkan buku harus ditumpuk di ruang yang mestinya menjadi jamban. Merekapun hanya diajar oleh dua orang guru untuk enam kelas.

Ini tentang anugerah negara kepulauan. Betapa laut yang membentang justru menjadi pemisah anak-anak bangsa. Ketidaktersediaan fasilitas pendidikan harus menjadi tantangan tersendiri. Masing-masing harus meratapi sendiri nasibnya, tanpa mampu memilih apa-apa. Ada yang beruntung, dibekali keberanian untuk meninggalkan sanak saudara demi impian masa depan.

Pendidikan kita kadang dicitrakan hanya di kota saja. Padahal, tak sedikit putra-putri terbaik bangsa justru lahir dari keterbatasan. Ini juga karena manusia Indonesia bukanlah individu yang cengeng. Mereka memiliki kemampuan untuk bertahan. Ketika seorang anak membangun tekadnya untuk terus melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah, maka tanpa sadar dia sudah berusaha memelihara mimpinya. Di masa depan bahkan, mereka tidak tahu akan menjadi apa dan dimana.

Tak lain hanya karena janji-janji pendidikan yang menjadi tumpuan. Pendidikan dijadikan sebagai ritual untuk menuju posisi tertentu dengan kualifikasi selembar kertas. Sementara untuk mengaksesnya, masih jutaan orang yang tak mampu menikmatinya sama sekali. Renda pendidikan terlihat kusut. Hanya karena ketidakhadiran para jurnalis sehingga kegelisahan mereka tidak tersuarakan. Seolah-olah, Indonesia hanya Jakarta saja. Wilayah lain bahkan tak terlihat lagi. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

PAHLAWAN ZAMAN NOW

Oleh Fortin Sri Haryani Pahlawan diartikan sebagai seorang yang telah berjasa, memberikan
Go to Top