MODEL TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM) DI SEKOLAH

Rubrik Pendidikan Oleh

MODEL TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM) DI SEKOLAH YANG BERORIENTASI PELANGGAN (COSTUMER SATISFACTION)
Oleh: Drs. HA. Sholeh Dimyathi, MF, MM
(Sekretaris Dewan Pembina Agupena)

Latar Belakang
Sekolah merupakan lembaga yang mempunyai peranan yang sangat penting di dalam pembangunan bangsa, yang akan mewarnai profil masyarakat dan atau mutu SDM di dalam kehidupan masyarakat. Fungsi dan tanggung jawab sekolah tidak hanya pada pengembangan kecerdasan dan keterampilan kerja semata, tetapi juga menyangkut nilai-nilai moral,karakter dan nila-nilai spiritual keagamaan sebagai realisasi dari tujuan pendidikan. Oleh karena itu penyelenggaraan pendidikan di sekolah dikembangkan program akademik,non akademik dan program-program unggulan misalnya; Talent Mapin, Life Skill/Kecakapan Hidup,Tahfidzul Qur’an dan Pendidikan Karakter harus dilakukan secara serius oleh tenaga-tenaga professional.

Mutu pendidikan dan mutu SDM masyarakat kita sekarang ini masih rendah, tertinggal dari kemajuan negara tetangga ataupun negara-negara lain. Hal itu dapat dilihat dari kondisi tatanan kehidupan masyarakat yang belum menunjukkan karakter yang bermutu, masih kurangnya karya keilmuan dan teknologi yang dihasilkan, juga masih rendahnya nilai standar kelulusan yang ditetapkan pemerintah pada Ujian Nasional.

Dengan kondisi mutu pendidikan dan SDM yang masih rendah, tidak akan mungkin bangsa kita dapat membangun masyarakat yang sejahtera sebagaimana yang kita cita-citakan. Agar kita dapat menjadi bangsa yang mampu bersaing di era global terutama dalam persaingan di bidang industri,jasa,perdagangan dan pariwisata yang semakin hari semakin ketat, tidak ada cara lain yang lebih efektif kecuali dengan membangun mutu SDM melalui peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

Pembangunan tersebut harus dilakukan secara terpadu dalam satu manajemen mutu dengan memperhatikan segala aspek dan unsur yang ada di dalam penyelenggaraan pendidikan difokuskan untuk membangun karakter positif yang unggul,santun dan professional.mewujudkan sistem pendidikan,pelatihan dan keterampilan secara berkelanjutan, dan membekali peserta didik dengan kemampuan berinovasi di bidang IPTEK, keterampilan kerja, dan jiwa kewirausahaan.

Dalam dunia usaha dan industri telah dikenal adanya suatu konsep manajemen mutu yang disebut Total Quality Management (TQM) atau “manajemen mutu terpadu”. Penerapan konsep manajemen mutu tersebut telah membawa keberhasilan dalam pengelolaan, peningkatan mutu, dan meraih keuntungan perusahaan. Manajemen mutu terpadu merupakan manajemen yang berfokus pada upaya perbaikan secara terus-menerus untuk memenuhi kepuasan pelanggan. Hal yang sama juga harus dilakukan oleh sekolah agar kita dapat menjadi bangsa yang mampu bersaing di era globalisasi.

Upaya peningkatan mutu pendidikan hendaknya dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan segala aspek dan unsur yang ada di dalam penyelenggaraan pendidikan, yang difokuskan untuk mewujudkan sistem pendidikan dan pelatihan secara berkelanjutan, yang diharapkan dapat membekali para generasi muda bangsa dengan kemampuan atau penguasaan dan inovasi-inovasi di bidang IPTEK, keterampilan kerja, jiwa kewirausahaan, dan terutama untuk membangun karakter positif yang unggul.

Untuk memperoleh hasil pendidikan yang bermutu dituntut penyelenggaraan pendidikan yang bermutu pula. Cara-cara lama dalam penyelenggaraan pendidikan yang kurang memperhatikan faktor mutu dan kurang pula memperhatikan prinsip-prinsip pendidikan yang seharusnya ditegakkan, perlu segera diperbaiki untuk menuju penyelenggaraan pendidikan yang berwawasan mutu dan keunggulan melalui penerapan manajemen mutu yang disebut “Total Quality Management (TQM) atau Manajemen Mutu Terpadu”.

Fungsi Dan Tujuan
Penyelenggaraan pendidikan pada sekolah diharapkan memiliki wawasan mutu dan keunggulan, yang secara terus-menerus melakukan penjaminan dan pengendalian mutu dengan mengukur mutu perencanaan, proses, dan hasil pendidikan berdasarkan standar kurikulum dan tuntutan dunia kerja atau tuntutan global yang pengukurannya diarahkan pada tingkat produktivitas dan mutu hasil kerja.

Penulisan buku panduan pelaksanaan kegiatan penjaminan dan atau pengendalian mutu kegiatan belajar mengajar pada sekolah ini diharapkan dapat berfungsi sebagai acuan bagi sekolah beserta pihak terkait dalam penyelenggaraan pendidikan agar para pengelola sekolah yang bersangkutan dapat:

  • Memahami konsep dasar penyelenggaraan pengendalian mutu pendidikan;
  • Menerapkan pembentukan unit kendali mutu pendidikan di sekolah;
  • Melaksanakan proses penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan secara umum dan mutu penilaian hasil belajar secara khusus;

Dengan dilaksanakannya konsep manajemen mutu pada sekolah diharapkan hasil pendidikan dapat memenuhi tuntutan kebutuhan dunia kerja pada khususnya dan tuntutan pembangunan bangsa pada umumnya.

Manajemen Mutu Pada Sekolah
Mengelola sekolah dengan pendekatan “Manajemen Mutu” berarti pengelolaan sekolah berorientasi pada upaya meningkatkan mutu pendidikan secara terus-menerus dan berkesinambungan.Tentang ”mutu”, orang dapat memandangnya dari satu sisi pengertian atau dapat pula memandang dari banyak sisi pengertian, yaitu antara lain dengan memandang arti mutu dari sisi selera pelanggan, sisi kehandalan hasil produk, sisi kebermanfaatan, sisi daya tarik tampilan, sisi pembiayaan, ataupun memandang dari banyak sisi secara terpadu (total).

Terdapat beberapa pendapat tentang pengertian mutu, yaitu sebagai berikut:

  • Mutu adalah apapun yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen. (W.Edwards Dening).
  • Mutu adalah sesuatu yang nihil cacat, sempurna, dan sesuai persyaratan.   (Philip B. Crosby).
  • Mutu adalah sebagai kesesuaian terhadap spesifikasi. (Yoseph M.Juran).
  • Mutu merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. (Davis Goetsch).

Sekolah Berorientasi Mutu
Suatu sekolah yang berorientasi pada ”mutu” dituntut untuk selalu bergerak dinamis penuh upaya inovasi, dan mengkondisikan diri sebagai lembaga atau organisasi pembelajar yang selalu memperhatikan tuntutan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Untuk itu sekolah dituntut untuk selalu berusaha menyempurnakan design atau standar proses dan hasil pendidikan agar dapat menghasilkan ”lulusan” yang sesuai dengan tuntutan masyarakat. Sehubungan dengan upaya peningkatan mutu, terdapat lima kekuatan pokok yang dapat mendorong gerak lembaga sekolah mencapai ”mutu” pendidikan yang diharapakan yaitu: (a) Kepemimpinan yang efektif; (b) Design/standar yang tepat; (c) Sistem yang efektif; (d) Kesadaran dan motivasi personal; (e) Lingkungan yang kondusif.

  1. Kepemimpinan sekolah, yaitu pihak penyelenggara dan pengelola sekolah atau kepala sekolah dituntut untuk dapat melaksanakan fungsinya secara efektif, pandai memimpin, memahami prinsip pendidikan, serta berwawasan mutu. Bila unsur pimpinan sekolah dapat melaksanakan fungsinya secara baik maka dapat dipastikan sekolah yang bersangkutan akan lebih cepat mencapai kemajuan. Terbukti telah banyak sekolah yang semula kurang bermutu tetapi setelah dipimpin oleh kepala sekolah yang efektif ternyata sekolah itu dapat bergerak maju, semakin meningkat mutunya. Sehubungan dengan itu banyak orang berpendapat bahwa lebih dari 50% kemajuan sekolah dipengaruhi oleh faktor kepala sekolahnya.
  2. Design/standar yang tepat, yaitu kurikulum dan perangkat pendidikan lainnya tentu dituntut untuk memenuhi standar mutu yang sesuai dengan harapan masyarakat. Mengingat kondisi masyarakat yang dinamis maka design/standar itu pun harus selalu disesuaikan dengan kedinamisan tuntutan kebutuhan masyarakat tersebut, sehingga sekolah dapat selalu tampil unggul.
  3. Sistem yang berjalan efektif, maksudnya adalah hal-hal yang menyangkut pelaksanaan birokrasi yang berlaku yaitu pelaksanaan ketentuan, peraturan, prosedur, dan juga kriteria dapat berjalan efektif sesuai dengan azasnya. Sebagai sebuah sekolah yang memberikan layanan pendidikan tentu dituntut untuk melaksanakan fungsinya secara tertib dan tersistem. Proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian yang dilakukan secara tertib, konsisten, dan konsekwen sesuai design/standarnya akan dapat menjamin tercapainya mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan sebagaimana yang diharapkan. Sebagaimana peran kepala sekolah, faktor penerapan sistem yang efektif juga sangat berpengaruh terhadap suksesnya layanan sekolah dan pencapaian peningkatan mutu pendidikan.
  4. Kesadaran dan motivasi personal, maksudnya setiap individu yang terlibat dalam kegiatan di sekolah baik peserta didik, guru, maupun personal lainnya perlu menyadari bahwa mereka memiliki kebutuhan pribadi terhadap keberadaan sekolah, sehingga mereka dituntut memiliki tanggung jawab terhadap kelancaran penyelenggaraan sekolah. Dengan adanya kesadaran pribadi untuk saling bekerjasama dan bertanggung jawab atas fungsi masing-masing yang didorong oleh kebutuhan pribadi tersebut, maka hal itu akan menjadi faktor pendorong gerak maju sekolah. Tanpa adanya faktor pendorong ini maka sekolah akan tutup karena tak ada lagi yang mau mengajar dan belajar di sekolah tersebut.
  5. Lingkungan yang kondusif, artinya dengan terwujudnya suatu lingkungan sekolah yang nyaman menyenangkan tentu akan memberikan dorongan terhadap peningkatan mutu kegiatan pendidikan di sekolah. Semakin baik dan lengkap fasilitas sekolah tentu akan semakin membantu dalam peningkatan mutu dan pencampaian tujuan pendidikan.

Ke-lima (5) faktor pendorong terhadap gerak majunya sekolah tersebut di atas satu dengan yang lainnya akan saling pengaruh-mempengaruhi, artinya bila terjadi peningkatan mutu di salah satu faktornya maka akan meningkatkan mutu pada faktor lainnya. Dan, sekolah hendaknya memperhatikan benar terhadap ke-lima faktor penentu peningkatan mutu tersebut. Dengan diterapkannya manajemen mutu sekolah dalam bentuk pelaksanaan program peningkatan mutu secara berkesinambungan diharapkan sekolah akan memperoleh kemanfaatan-kemanfaatan antara lain sebagai berikut:

  • Focus sasaran akan lebih jelas, dengan tujuan dan standar yang jelas;
  • Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan kegiatan lainnya akan lebih efektif, terhindar dari adanya kesalahan-kesalahan;
  • Mengurangi pemborosan waktu, tenaga, dan biaya;
  • Menghasilkan lulusan yang memenuhi standar/bermutu;
  • Nama baik sekolah dan kepercayaan masyarakat meningkat; dan
  • Kesejahteraan personal meningkat.

Dimensi Mutu Sekolah
Didasari oleh konsep yang dikemukakan oleh Yoseph S.Martinice tentang dimensi mutu suatu barang produk maka dapat dikemukakan di sini beberapa dimensi mutu sekolah atau kriteria-kriteria mutu sekolah sebagai berikut:

Dimensi Mutu Barang Produk

(Yoseph S.Martinice)

  Dimensi Mutu Sekolah
 

1.Bermanfaat, tepat, sesuai fungsinya.

1.Sekolah melaksanakan kegiatan sesuai fungsinya sebagai lembaga pendidikan.
 

2.Memiliki keistimewaan.

2.Sekolah memiliki nilai kelebihan/ keunggulan.
3.Handal, tahan lama / tidak cepat rusak 3.Terpercaya sebagai sekolah yang baik, yang menghasilkan tamatan bermutu.
4.Memiliki kemudahan dalam  penggunaan/ pemakaian. 4.Fasilitas memenuhi standar dan  kondisi sekolahnya nyaman, me- nyenangkan.
5.Penampilannya manarik. 5.Penampilan fisik dan kegiatan sekolahnya menarik.
6.Mengesankan 6.Profil sekolah mengesankan, favorit.

 

Sasaran Peningkatan Mutu
Sebagaimana tahapan atau pun unsur kegiatan yang ada di dalam proses produksi pada umumnya, maka di dalam sistem penyelenggaraan pendidikan di sekolah pun terdapat tiga tahapan atau unsur kegiatan utama yaitu tahapan perencanaan/persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian /pengujian, atau dapat terbagi pula atas unsur masukan, proses, dan hasil.

  • Unsur ”masukan” pada kegiatan sekolah terdiri dari: (1) Segala fasilitas sekolah; (2) Kurikulum dan standarnya; (3) Ketenagaan; (4) Peserta didik; dan (5) Lingkungan sekolah.
  • Unsur ”proses” terdiri dari: (1) Pengorganisasian/manajemen; (2) Kegiatan belajar mengajar dan evaluasi; (3) Hubungan kerjasama dengan masyarakat dan dunia usaha; dan (4) Unit produksi/kegiatan usaha sekolah atau Bisnis Center.
  • Unsur ”hasil” adalah tingkat ketercapaian tujuan pendidikan yang diukur dari mutu lulusan.

Dalam upaya meningkatkan mutu sekolah, perlu memperhatikan seluruh komponen yang ada di samping melakukan kegiatan peningkatan mutu secara sinergi di semua kegiatan sekolah baik pada unsur ”masukan” maupun pada ”proses” guna memperoleh ”hasil” yang diharapkan. Dari seluruh komponen yang terdapat pada unsur manajemen sekolah tersebut di atas, sasaran utama di dalam upaya peningkatan mutu pendidikan yang perlu mendapat perhatian secara lebih serius dan khusus adalah pada aspek profesionalisme guru dan mutu kegiatan belajar mengajar.

Antara aspek profesional guru dan aspek mutu KBM terdapat kaitan yang sangat erat. Pada aspek profesionalisme guru, selain terdapat unsur kompetensi penguasaan materi pelajaran dan ketrampilan sesuai tuntutan mata pelajaran yang diajarkan, juga dituntut untuk menguasai ilmu-ilmu keguruan, serta memiliki sikap selaku seorang pendidik. Sedangkan pada aspek kegiatan belajar mengajar, sasaran peningkatan mutunya diarahkan pada efektifitas perencanaan dan pelaksanaan belajar mengajar, serta pada pelaksanaan evaluasi/pengujiannya.

 Standar Mutu Pendidikan
Sasaran utama yang harus dicapai oleh sekolah dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan adalah menghasilkan ”Tamatan/Lulusan yang bermutu”, karena itu sekolah harus memiliki tenaga pendidik serta melaksanakan proses pendidikan secara bermutu pula. Untuk dapat mengendalikan dan menjamin mutu penyelenggaraan pendidikan tersebut maka sekolah dituntut untuk melakukan langkah-langkah konkrit yang mampu mendeteksi perkembangan proses dan hasil pembelajaran para peserta didiknya secara rutin/berkala.

Untuk dapat melakukan pendeteksian dan pengukuran efektifitas proses dan keberhasilan pendidikan yang diselenggarakan, maka diperlukan adanya ”Standar mutu atau standar design” pendidikan. Standar inilah yang akan dipakai sebagai tolok ukur tingkat keberhasilan dari suatu penyelenggaraan pendidikan atau kegiatan layanan lainnya. Standar mutu tersebut tentunya tidak harus bersifat tetap, tetapi dapat dikembangkan sesuai tuntutan kebutuhan atau harapan masyarakat konsumen.

Pada kegiatan sekolah, standar mutu atau standar design tersebut berupa tuntutan kurikulum, yang antara lain telah dirumuskan dalam bentuk rumusan kompetensi ataupun kriteria kinerja/indikator ketercapaian, serta segala ketentuan tentang penyelenggaraan pendidikan yang diberlakukan. Instrumen dan alat ukur yang digunakan dalam proses ”Pengendalian/ penjaminan mutu” dapat memakai instrumen penilaian pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan pelaksanaan evaluasinya, serta alat tes untuk mengukur kemajuan penguasaan kompetensi para peserta didik, baik dalam ranah kognitif, psykomotorik, maupun afektif.

Pelaksanaan kendali mutu hasil produk dan jasa pada hakekatnya akan mengendalikan semua aspek kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan/ lembaga yang bersangkutan, dari mulai pengendalikan mutu program, mutu proses termasuk mutu SDM dan mutu manajemen, sampai pada mengendalikan mutu hasil. Jadi, bilamana lembaga sekolah mampu melaksanakan proses pengendalian mutu terhadap semua komponen dan aspek kegiatannya secara tepat, maka sekolah tersebut akan mampu memberikan penjaminan efektifitas proses pendidikan serta pencapaian mutu tamatan/lulusan sesuai tujuan/standar yang telah ditetapkan.

Mutu Penyelenggaraan Kegiatan Pembelajaran
Terdapat tiga tahapan pokok dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran yaitu tahap perencanaan atau persiapan, tahap pelaksanaan belajar mengajar, dan tahap evaluasi atau penilaian hasil pembelajaran. Sehubungan dengan itu, maka agar pelaksanaan pengendalian mutu proses pembelajaran dapat terlaksana secara efektif hendaknya pengendalian dilakukan terhadap ketiga tahapan kegiatan yang dimaksud, sehingga perkembangan kemajuan kegiatan pembelajaran dapat terdeteksi dari mulai awal pelaksanaan hingga akhir, dengan begitu akan dapat dihindari kemungkinan kegagalan dalam pencapaian mutu.

Penjelasan tentang ketiga tahapan proses pembelajaran serta faktor-faktor yang perlu dikendalikan adalah sebagai berikut:

  • Pengendalian Mutu Perencanaan/Persiapan

Yang dimaksud dengan perencanaan/persiapan di sini adalah materi kurikulum dan segala sesuatu yang menyangkut persiapan guru mengajar, antara lain standar kompetensi dan materi pelajaran sesuai tuntutan kurikulum, program semester, satuan pelajaran, dan alat evaluasi. Materi itu semua perlu dinilai faktor kesesuaiannya dengan standar kurikulum dalam rangka untuk mencapai tujuan pembelajaran/kompetensi yang hendak dicapai. Kontrol terhadap penyusunan perencanaan/persiapan ini tentunya harus dilakukan serius oleh pihak yang memahami benar tentang persyaratan isinya.

  • Pengendalian Mutu Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan kendali mutu terhadap pelaksanaan pembelajaran dapat dilakukan melalui kegiatan observasi kelas, pengecekkan terhadap jurnal kemajuan kelas, serta alat ukur/tes yang dipersiapkan. Dalam proses pengontrolan terhadap kegiatan ini tidaklah ringan, dalam kegiatan ini diperlukan ketekunan, ketelitian, dan pemahaman terhadap aspek-aspek penting dalam kegiatan pembelajaran, serta harus menggunakan instrumen yang tepat untuk setiap sasaran supervisi.

  • Pengendalian mutu Hasil

Pengendalian mutu terhadap pelaksanaan penilaian hasil proses pembelajaran merupakan kegiatan yang paling penting dan menentukan keberhasilan suatu proses pengendalian mutu secara keseluruhan. Bila kurang serius atau kurang efektif dalam melaksanakan pengendalian mutu pada tahapan ini maka akan dapat memperkecil makna atau menggagalkan hasil pengendalian mutu pada tahapan sebelumnya. Pengendalian mutu pelaksanaan penilaian hasil belajar ini tidak hanya dilakukan pada waktu akhir pendidikan saja, tetapi dilakukan secara rutin/berkala pada setiap tahapan belajar per kompetensi.

Pelaksanaan kontrol terhadap penyusunan perencanaan/persiapan mengajar, serta pelaksanaan observasi kelas pada saat guru mengajar, maupun pada saat pelaksanaan evaluasi belajar, sudah merupakan kegiatan rutin yang telah dilakukan di banyak sekolah. Namun kegiatan pengontrolan tersebut pada umumnya kurang berjalan  secara efektif untuk mampu mengendalikan mutu proses menuju ketercapaian hasil yang sesuai dengan standar mutu yang dipersyaratkan secara berkelanjutan.

Di semua sekolah praktik pengukuran hasil belajar peserta didik melalui kegiatan evaluasi hasil belajar dalam bentuk pemberian tes/ujian atau semacamnya selalu dilakukan. Tetapi pada banyak sekolah hasil pelaksanaan tes/ujian tersebut masih belum berfungsi efektif sebagai alat kendali mutu yang handal. Bilamana terjadi perolehan nilai hasil tes/ujian tersebut ternyata masih belum memenuhi nilai standar, nampaknya hal itu belum menyadarkan kepada pihak sekolah secara umum bahwa pendidikan yang mereka laksanakan itu sebenarnya belum berhasil baik, atau mutunya masih rendah, atau mungkin juga telah gagal. Padahal bila hal seperti itu telah terjadi pada suatu perusahaan yang bergerak di bidang produk barang ataupun jasa tentu telah terjadi suatu kerugian besar yang dapat membawa kebangkrutan pada perusahaan yang bersangkutan.

Bilamana selama ini pelaksanaan evaluasi hasil belajar dalam bentuk tes/ujian hasil belajar di sekolah pada umumnya hanya dilakukan oleh guru, dan penanganan tindak lanjutnya pun diserahkan sepenuhnya kepada guru tanpa adanya kejelasan bagaimana upaya peningkatan mutunya, maka dengan penerapan manajemen mutu sekolah hendaknya sekolah sudah harus memulai menggunakan sistem tes/ujian tersebut sebagai salah satu sarana sekaligus sebagai sasaran program kendali mutu yang dilaksanakan secara khusus oleh TIM kendali mutu.

 Mutu Kinerja Guru
Nilai yang diperoleh peserta didik dari hasil tes/ujian tidak hanya sekedar menunjukkan tingkat keberhasilan peserta didik dalam belajar, tetapi juga menujukkan tingkat keberhasilan guru dalam mengajar. Cara pandang yang menyatakan bahwa guru yang baik itu adalah guru yang rajin hadir mengajar di sekolah haruslah digeser ke arah cara pandang bahwa guru yang baik itu sebenarnya adalah guru yang berhasil membangun karakter positif dan meningkatkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang berprestasi. Dalam kata lain penilaian kinerja guru bukan sekedar didasari oleh faktor kehadiran mengajarnya tetapi lebih dititik beratkan pada mutu hasil mengajarnya. Dalam rangka pengendalian mutu proses dan hasil belajar, hendaknya sekolah lebih berani mengambil sikap untuk menetapkan mutu kinerja guru yang didasari oleh tingkat keberhasilan para peserta didiknya dalam menjalani tes/ujian.

Hasil pelaksanaan penilaian kinerja guru yang didasari oleh prestasi para peserta didiknya dalam menguasai kompetensi materi pelajaran yang diajarkannya merupakan informasi penting yang harus dijadikan dasar dalam memberikan ”perlakuan” terhadap guru yang bersangkutan. ”Perlakuan” terhadap guru dimaksud dapat berupa pemberian penghargaan, atau pemberian pembinaan peningkatan kompetensi mengajar, ataupun sampai pada pemberian sanksi. Adanya keberanian sekolah untuk menerapkan ”perlakuan” terhadap guru sebagaimana tersebut di atas merupakan faktor kunci keberhasilan dalam mencapai peningkatan mutu sekolah.

Untuk menilai mutu kinerja guru secara obyektif tentu tidak semudah menilai hasil belajar peserta didik. Karena itu untuk melaksanakan program kendali mutu pendidikan yang sasarannya tidak hanya ditujukan pada mutu hasil belajar para peserta didik tetapi yang diarahkan pula untuk menilai mutu kinerja guru, perlu dipahami dan didukung oleh semua pihak yang terkait. Penyelenggaraan dan tindak lanjut dari hasil tes/ujian yang juga sebagai proses pengendalian mutu haruslah dilaksanakan secara konsisten dan konsekwen sesuai ketentuannya. Begitu pula proses pemberian penghargaan bagi guru-guru yang telah berhasil/berprestasi, serta pemberian kesempatan bagi guru yang memerlukan peningkatan kompetensinya, maupun proses penggantian guru pengajar yang dinilai gagal, perlu dilaksanakan secara konsekwen sesuai kesepakatannya.

Dengan diterapkannya program kendali mutu pendidikan pada sekolah-sekolah, diharapkan para guru akan tergerak untuk selalu berusaha meningkatkan mutu mengajarnya, atau meningkatkan mutu KBM melalui caranya mereka masing-masing. Upaya peningkatan mutu mengajar dapat dilakukan secara mandiri dengan inisiatif sendiri, ataupun dengan mengikuti program pelatihan yang diselenggarakan oleh sekolah. Dengan demikian maka gerak laju peningkatan mutu kegiatan pembelajaran dan mutu sekolah akan dapat terlaksana secara berkesinambungan.

Gugus Kendali Mutu Pada Sekolah
Pada sistem manajemen yang diterapkan di berbagai perusahaan atau lembaga, baik yang bergerak di bidang produk ataupun jasa terdapat suatu kegiatan yang dilakukan oleh suatu unit yang disebut ”Gugus kendali mutu”. Kegiatan pada unit ini merupakan kegiatan yang sangat penting artinya bagi perusahaan/lembaga yang bersangkutan, karena tanpa adanya kegiatan ”kendali mutu” ini maka segala produk barang atau jasa yang mereka kerjakan atau hasilkan akan menjadi tidak terukur, tidak jelas mutunya, sehingga tidak jelas pula pencapaian sasaran/standarnya. Sesuai konsep pengendalian mutu, maka karakteristik dari pelaksanaan pengendalian mutu pendidikan pada sekolah adalah sebagai berikut:

  • Ada TIM Gugus Kendali Mutu di dalam managemen sekolah;
  • Ada standar, alat ukur, dan prosedur pengendalian yang jelas;
  • Dilaksanakan secara serius, dan obyektif;
  • Dilaksanakan secara bertahap, per jenjang, serta rutin/berkala;
  • Ada tindak lanjut, pemberian penghargaan dan sanksi;
  • Ada program pembinaan/pelatihan peningkatan kompetensi guru;
  • Dilaksanakan konsisten dan konsekwen yang berorientasi kepada peningkatan mutu pendidikan yang berkelanjutan.

Quality Assurence Dan Quality Control
Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan maka pada setiap sekolah atau khususnya pada sekolah perlu segera dibentuk Tim kerja pengendali mutu pendidikan atau dapat disebut sebagai ”TIM Gugus Kendali Mutu”. Tim Gugus Kendali mutu ini pada dasarnya bertugas melaksanakan pengendalian pada semua aspek kegiatan pendidikan di sekolah, namun kegiatannya akan lebih difocuskan pada upaya pengendalian terhadap proses pelaksanaan evaluasi/tes/ujian yang dilaksanakan oleh guru dalam kegiatan penilaian prestasi hasil belajar pada setiap kompetensi, serta terhadap pelaksanaan ujian akhir pendidikan yang dilaksanakan oleh sekolah.

Pengendalian mutu pada proses evaluasi/tes/ujian pada setiap kompetensi dimaksudkan untuk dapat memberikan penjaminan tingkat pencapaian standar kompetensi yang telah dipersyaratkan. Sedangkan pengendalian mutu tamatan/lulusan yaitu yang dilakukan pada proses evaluasi/tes/ujian pada akhir pendidikan dimaksudkan untuk memperoleh keyakinan bahwa peserta didik telah benar-benar menguasai kompetensi sesuai standar tamatan/lulusan sekolah dan telah memenuhi persyaratan tuntutan dunia kerja.

Untuk melaksanakan pengendalian mutu terhadap kedua macam proses penilaian hasil belajar tersebut maka unsur pengendali mutu pada sekolah terbagi dalam dua kelompok yaitu Tim verifikasi internal atau Quality Assurence (QA) dan Tim verifikasi eksternal atau Quality Control (QC).

  • Quality Assurence (QA)

Anggota Tim Quality Assurence(QA) terdiri dari unsur internal yaitu unsur manajemen sekolah beserta guru-guru, antara lain unsur:

  • Wakil kepala sekolah;
  • Ketua program keahlian; dan
  • Guru/instruktor, yang ditetapkan oleh Kepala Sekolah.

Anggota Tim QA hendaknya dipilih dari personal sekolah yang memiliki kesanggupan untuk melaksanakan tugas serta memenuhi ketentuan antara lain sebagai berikut:

  • Memahami kurikulum, tujuan pembelajaran/kompetensi yang harus dicapai, atau kriteria/indikator kinerja yang harus dikuasai peserta didik;
  • Memahami alat tes yang baik, yang tepat untuk pengukuran ketercapaian tujuan/kompetensi yang hendak dicapai;
  • Memahami prosedur-prosedur penyusunan alat pengujian, pelaksanaan pengujian, maupun penilaian, baik untuk pengujian aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap;
  • Mampu melaksanakan pemantauan terhadap kegiatan penilaian yang dilakukan oleh para guru;
  • Mampu memverifikasi hasil penilaian dengan berdasarkan pada standar kompetensi;
  • Melaksanakan pengujian terhadap para peserta didik secara sampling melalui bukti fisik fortofolio;
  • Mampu bekerja serius, teliti, konsisten, jujur dan obyektif;
  • Dapat menyusun umpan balik dari hasil verifikasi internal;
  • Mengkonfirmasikan hasil verifikasi internal kepada Tim QC (external verifier).
  • Quality Control (QC)

Anggota Tim Quality Control(QC) adalah unsur eksternal seperti dari lembaga sertifikasi independen yang relevan atau unsur dari perusahaan/lembaga pendidikan yang memenuhi syarat untuk melakukan pengujian dan sertifikasi kompetensi.

Unsur pelaksana verifikasi ini hendaknya pihak yang telah memahami tentang tujuan pendidikan pada sekolah maupun kompetensi yang harus dikuasai peserta didik, serta memahami pula kaidah-kaidah dalam sistem penilaian.

Pelaksanaan Pengendalian Mutu
Sebelum dilaksanakannya proses pengendalian mutu pendidikan pada suatu sekolah, terlebih dahulu sekolah yang bersangkutan harus menyusun suatu sistem manajemen mutu sekolah yang antara lain berisikan:

  • visi dan misi;
  • tujuan sekolah;
  • azas/sistem/mekanisme penyelenggaraan sekolah;
  • standar design format-format yang dipakai;
  • standar proses/prosedur setiap kegiatan; serta
  • standar mutu hasil yang ingin dicapai.

Seluruh proses kegiatan di sekolah mulai dari persyaratan dan prosedur penerimaan siswa baru, proses/prosedur administrasi dan pelayanan pendidikan, sampai dengan prosedur dan persyaratan dalam penetapan kelulusan bagi peserta didik, diuraikan secara jelas, disepakati, dan distandarkan. Dalam penyusunan sistem manajemen mutu sekolah ini, seluruh prosedur kerja/prosedur layanan baik pada bidang administrasi maupun proses pembelajaran satu persatu diuraikan serta ditetapkan standarnya secara resmi. Ketetapan sistem manajemen mutu sekolah itu selanjutnya dipakai oleh seluruh warga sekolah sebagai acuan serta sebagai standar pelaksanaan maupun sebagai standar mutu hasil dari seluruh kegiatan di sekolah.

Bilamana sekolah dapat melaksanakan sistem manajemen mutu secara konsekwen, maka seluruh proses kegiatan di sekolah akan dapat berlangsung lebih tertib serta terpola secara jelas, sehingga selain akan dapat terwujud suatu proses layanan pendidikan yang lebih efektif dan efisien, juga tingkat ketercapaian tujuan kegiatan akan dapat lebih terukur.

Pengendalian Mutu Manajemen
Sasaran pengendalian mutu manajemen sekolah ini terutama diarahkan  kepada aspek Administrasi sekolah dan pembinaan kedisiplinan warga sekolah dalam bekerja/belajar, yaitu:

  • Administrasi sekolah, yaitu meliputi tertib administrasi ketenagaan, kesiswaan dan penerimaan siswa baru, sarana/prasarana, keuangan, hubungan industri dan pelaksanaan praktik kerja, serta administrasi lainnya. Sesuai dengan tuntutan sistem manajemen sekolah, maka pengendalian terhadap mutu pelaksanaan manajemen ini menjadi kewajiban dan tanggung jawab pimpinan sekolah, yang dapat diatur dan didelegasikan pelaksanaannya kepada personal yang ditunjuk/ditugaskan untuk itu. Pelaksanaan pengendalian harus dilaksanaakan secara rutin dan berkala, serius dan teliti, serta menggunakan instrumen dan atau catatan pengendalian yang disepakati bersama.
  • Kedisiplinan kerja dan belajar, yaitu menyangkut pembinaan guru, pegawai, dan peserta didik dalam rangka menjaga dan meningkatkan mutu kinerja mereka. Proses pengendalian pada aspek ini dilakukan melalui pendataan/pencatatan yang akurat dan terbuka, dengan penerapan tata tertib yang konsekwen, disertai adanya sistem pemberian penghargaan dan sanksi sejalan dengan tata tertib sekolah yang berlaku. Khusus untuk pembinaan guru dan pegawai diperlukan adanya buku catatan pembinaan yang diberlakukan secara konsisten dan berfungsi.

Pengendalian Mutu Kegiatan Pembelajaran
Pelaksanaan pengendalian mutu kegiatan pembelajaran hendaknya dilakukan secara rutin berkala, dengan standar mutu/standar design yang telah ditetapkan, serta dengan instrumen/alat ukur yang telah disusun dan disepakati bersama. Dengan dilaksanakannya proses kendali mutu kegiatan pembelajaran, maka akan dapat diikuti perkembangan kemajuannya dan akan dapat diperkecil kemungkinan kesalahan dalam proses serta kemungkinan kegagalan dalam mencapai mutu tamatan/lulusan sesuai yang diharapkan. Pelaksanaan pengendalian mutu kegiatan pembelajaran ini ditujukan terhadap tiga sasaran kegiatan yaitu pengendalian mutu terhadap: (a)perencanaan/persiapan, (b)pelaksanaan belajar-mengajar, (c)pelaksanaan pengujian dan penilaian.

Pelaksanaan pengendalian mutu pada aspek ini menyangkut pengendalian pada isi/materi susunan:

  • Silabus kurikulum;
  • Program semester;
  • Rencana program pembelajaran;
  • Alat tes hasil belajar.

Kegiatan pengendalian mutu perencanaan/persiapan kegiatan pembelajaran ini dilakukan untuk memperoleh jaminan mutu program, bahwa:

  • Program yang disusun telah sesuai dengan tuntutan pencapaian standar kompetensi/kompetensi dasar yang telah ditetapkan;
  • Perencanaan waktu pembelajaran telah sesuai dengan kalender pendidikan dan memenuhi tuntutan jumlah waktu belajar setiap kompetensinya;
  • Materi pelajaran telah sesuai dengan tuntutan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik;
  • Rumusan tujuan/sasaran penguasaan materi pelajaran telah sesuai dengan tuntutan kriteria kinerja/indikator yang harus dicapai;
  • Rencana kegiatan pembelajaran telah mengandung penerapan strategi dan metode yang tepat sesuai karakteristik materi pelajaran, dengan mengedepankan cara belajar siswa aktif serta penerapan kontekstual learning menuju peningkatan kecakapan hidup;
  • Materi alat tes(soal) telah mengacu pada seluruh kriteria kinerja/ indikator pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan dalam silabus, dengan jumlah yang cukup dan bentuk soal yang valid dan reliabel.

Pelaksanaan pengendalian mutu pada kegiatan ini dapat dilakukan    langsung oleh Kepala sekolah atau oleh unsur manajemen sekolah yang ditugaskan untuk itu. Proses penilaiannya menggunakan instrumen khusus yang telah disiapkan, dan dilaksanakan secara rutin, konsisten, serta serius. Sedangkan perolehan hasil penilaiannya harus ditindak lanjuti.

Pengendalian Mutu Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran
Pelaksanaan pengendalian mutu pada kegiatan ini menyangkut segala  aktivitas proses belajar mengajar yang meliputi:

  • Aktivitas guru mengajar;
  • Antusiaisme siswa belajar;
  • Kelengkapan buku, media, dan fasilitas belajar lainnya;
  • Kondisi lingkungan belajar, serta faktor pendukung lainnya;
  • Pemanfaatan/penggunaan waktu belajar.

Pengendalian mutu terhadap pelaksanaan kegiatan pembelajaran ini dilakukan untuk memperoleh penjaminan mutu pelaksanaannya, bahwa:

  • Guru tampil mengajar dengan disiplin, bersemangat, dan menarik;
  • Materi yang diajarkan dan metode yang digunakan sesuai dengan program yang telah disusun dan disetujui;
  • Guru mengajar dengan menggunakan fasilitas dan media yang tepat;
  • Peserta didik belajar secara aktif, penuh antusias;
  • Peserta didik belajar menggunakan buku pelajaran serta peralatan belajar/praktik yang cukup dan memadai;
  • Kondisi ruang belajar dan lingkungannya cukup kondusif;
  • Pemanfaatan/penggunaan waktu belajar efisien dan efektif;
  • Standar nilai minimal lulus kompetensi tercapai.

Pelaksanaan pengendalian mutu kegiatan ini dilakukan melalui observasi kelas yang telah dikenal oleh para pengelola sekolah pada umumnya. Namun pelaksanaan observasi kelas kali ini harus dilakukan lebih serius, konsisten, dan efektif, dengan menggunakan instrumen observasi yang handal, dan yang dilaksanakan secara rutin/berkala oleh Kepala sekolah atau oleh unsur manajemen sekolah yang ditugaskan khusus untuk itu.

Pengendalian mutu pelaksanaan pengujian dan penilaian
Pelaksanaan pengendalian pada kegiatan pengujian dan penilaian ini merupakan pengendalian yang paling penting dan sangat menentukan bagi keberhasilan pengendalian mutu KBM secara keseluruhan. Karena itu proses pengendalian pada aspek ini perlu dilakukan secara lebih serius dan terencana dengan baik, karena adanya kekurangan atau kegagalan pada proses kegiatan ini akan berdampak terhadap penurunan mutu pelaksanaan pada bagian kegiatan KBM lainnya.

Pelaksanaan pengendalian mutu pada kegiatan ini dilakukan terhadap beberapa aspek, yaitu meliputi aspek:

  • Mutu alat tes/soal;
  • Mutu/tertib pelaksanaan pengujian;
  • Mutu/tertib proses penilaian dan penetapan kelulusan.

Guna memperoleh penjaminan mutu pada kegiatan pengujian dan penilaian hasil belajar ini, maka proses pengendaliannya diarahkan pada terjaminnya mutu dari:

  • Adanya penyusunan/penyajian soal yang baik, yang materi dan bentuk soalnya memenuhi tujuan pengujian dan tuntutan pencapaian kompetensi yang ditetapkan;
  • Terlaksananya sistem pengujian yang benar-benar memenuhi azas pengujian, yang prosesnya berlangsung lancar, tertib, dan jujur; terhindar dari adanya kecurangan sehingga memperoleh hasil pengujian/penilaian yang benar-benar obyektif per individu;
  • Disediakannya sarana yang memadai dan alokasi waktu yang cukup bagi setiap peserta secara adil;
  • Terlaksananya proses koreksi dan atau penilaian hasil ujian yang dilakukan secara cermat dan obyektif; artinya tak terdapat kesalahan ataupun perubahan dalam penilaian;
  • Penetapan kelulusan sesuai dengan standar kelulusan/tuntutan kompetensi, serta yang didasari oleh hasil penilaian yang akurat dan obyektif.

Untuk memperoleh proses pengendalian yang efektif dan berhasilguna, maka hendaknya kegiatan ini dilakukan oleh Tim khusus yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas ini dengan baik, serta dapat melaksanakannya secara rutin dan bersinambungan. Tim pengendali mutu terhadap proses pengujian dan penilaian ini disebut pula sebagai Tim Quality assurence (QA) atau Tim pelaksana verifikasi internal.

Pelaksanaan Verifikasi internal merupakan suatu kegiatan khusus yang dimaksudkan untuk memeriksa kesesuaian hasil penilaian yang dilakukan oleh guru/instrutor dengan bukti-bukti belajar yang telah dimiliki peserta didik, yang dilakukan oleh tim QA untuk menjamin adanya kesesuaian antara bukti belajar dengan nilai dan penguasaan kompetensi yang telah dicapai peserta didik. Pelaksanaan verifikasi internal dilakukan baik melalui sampling terhadap beberapa peserta didik atau secara menyeluruh terhadap semua peserta didik, dengan langkah sebagai berikut:

  • Menginventarisir nilai hasil belajar yang diberikan oleh guru/instruktor;
  • Menginventarisir bukti-bukti belajar yang telah dimiliki peserta didik;
  • Memeriksa kesesuaian antara nilai dari guru dengan bukti-bukti belajar dan tingkat penguasaan kompetensi yang dicapai peserta didik;
  • Bila ditemukan ketidak-sesuaian, maka guru/instruktor perlu melakukan klarifikasi dan atau perbaikan.

 

Dengan diadakannya pengendalian mutu termasuk verifikasi internal tersebut diharapkan dapat menjamin bahwa para peserta didik benar-benar telah menguasai kompetensi yang telah mereka pelajari. Selanjutnya bagi peserta didik/ rombongan belajar yang telah dinyatakan lolos pada verifikasi internal dapat mengikuti ujian/ sertifikasi kompetensi.

Pengendalian Mutu Tamatan/Lulusan
Bahwa tujuan utama penyelenggaraan pendidikan sekolah, adalah untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu memasuki dunia kerja, yaitu menjadi tenaga kerja tingkat menengah yang terampil, terdidik, dan profesional, serta mampu mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun kompetensi para tamatan/lulusan SMK tersebut akan tergambar dalam bentuk unjuk kerja yang meliputi:

  • Memiliki akhlak mulia/ berbudi pekerti luhur;
  • Mampu mengembangkan penguasaan pengetahuan, yang dicirikan dengan proses mencari tahu untuk mampau menginterprestasikan informasi;
  • Memiliki keterampilan dan mengembangkan profesionalisme kerja yang dicirikan dengan ketaatan pada prosedur, tepat waktu, akurasi, teliti, dan tidak cepat bosan;
  • Mampu mengembangkan kemampuan nalar, yang dicirikan dengan adanya penciptaan ide-ide baru, memandang masalah dengan cara baru, dan merencanakan ataupun menanggulangi masalah secara sistematik.

Peserta didik dapat dinyatakan tamat/lulus sekolah bilamana telah memiliki atau menguasai kompetensi-kompetensi sesuai standar yang ditetapkan.  Khusus dalam penguasaan kompetensi kejuruan/produktif, agar tamatan/lulusan tersebut dapat tejamin mutunya sesuai dengan tuntutan masyarakat dunia kerja, maka perlu adanya proses verifikasi yang dilakukan oleh unsur eksternal independen sebagai Tim Quality Control dari dunia kerja seperti dari Assosiasi keahlian atau dari lembaga sertifikasi keahlian.

Pelaksanaan verifikasi eksternal ini dilakukan dengan mengadakan kegiatan-kegiatan:

  • Memantau pelaksanaan pengujian dan penilaian pada akhir pendidikan;
  • Memverifikasi hasil penilaian yang dilakukan sekolah disesuaikan dengan tuntutan dunia kerja;
  • Menguji peserta didik secara sampling melalui bukti belajar/portofolio;
  • Memberikan pengakuan melalui pemberian sertifikat kompetensi bagi peserta didik yang telah mencapai standar kelulusan.

Hasil proses verifikasi eksternal terhadap penguasaan kompetensi kejuruan/produktif ini selanjutnya dijadikan dasar untuk penerbitan sertifikat kompetensi atau sertifikat kualifikasi keahlian.

Penutup
Bahwa kemajuan bangsa sangat tergantung dari mutu pendidikan, karena itu penyelenggaraan pendidikan janganlah dilaksanakan dengan cara yang ”asal jalan” saja, tetapi hendaknya dapat dilakukan dengan serius dan sinergi menuju penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dan unggul. Dengan diterapkannya proses pengendalian mutu pada sekolah diharapkan mutu pendidikan di negara kita akan dapat kita tingkatkan lebih cepat, dengan proses peningkatan mutu yang berkelanjutan. Untuk mencapai itu maka seluruh komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan sekolah hendaknya sangat peduli dan ikut berperan dalam upaya penerapan pengendalian mutu pendidikan tersebut sehingga proses pengendalian mutu di sekolah-sekolah dapat terlaksana secara efektif, terus-menerus dan bersinambungan.

Adapun isi tulisan tentang pengendalian mutu ini hanyalah sebagai pokok pikiran hasil praktik lapangan sebagai kepala sekolah selama 8 tahun, yang tentunya dapat disesuaikan dan dikembangkan lebih lanjut untuk memperoleh sistem yang lebih tepat menuju peningkatan mutu yang lebih baik sesuai tuntutan zaman.

Semoga bermanfaat.

Bekasi, 10 Mei 2017

Drs. H. Ahmad Sholeh Dimyathi, MF., MM. (biasa dipanggil Pak Kyai) lahir di Pati, Jawa Tengah, 17 Oktober 1954. Prestasi yang berhasil dicapainya meliputi pemenang utama Lomba Kreativitas Guru (LKG) tingkat nasional tahun 1997, guru teladan tingkat Jakarta Timur tahun 2000, pemenang II Lomba Kreativitas Guru (LKG) tingkat nasional tahun 2001 dan 2002, guru berprestasi dan berdedikasi luar bisa tingkat nasional tahun 2005, kepala sekolah berprestasi nasional tahun 2006, dan pengawas berprestasi terbaik 2 tingkat DKI Jakarta tahun 2014. Dalam kepangkatan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) berhasil meraih pangkat pembina utama dengan golongan IV E. Pangkat dan golongan ini bagi PNS yang berkarir dari seorang guru, merupakan prestasi yang sulit dicapai. Pada tahun 2004 ia meraih Satya Lencana Pendidikan Guru Berprestasi dan Berdedikasi dari Menteri Pendidikan Nasional. Saat ini menjadi Dewan Pembina Pengurus Pusat Agupena (Asosiasi Guru Penulis Indonesia).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top