MEMOTIVASI SISWA UNTUK MENULIS

Rubrik Literasi Oleh

Oleh: Washadi, S.Pd, MM.Pd.
(Guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 12 Kota Tangerang Selatan Provinisi Banten; Ketua Bidang Humas dan Kerja Sama Antarlembaga AGUPENA Pusat)

Apa itu Menulis?
Secara umum, menulis adalah suatu aktivitas mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat dan perasaan dalam berbagai ragam tulisan. Menulis merupakan aktivitas mengasah otak dan mengembangkan imajinasi. Menulis juga merupakan wadah aktualisasi, kreativitas dan perwujudan karya yang dapat bersifat monumental. Banyak sekali tulisan dari penulis-penulis besar yang tetap hidup hingga sekarang, sekalipun si penulis sudah meninggal dunia berabad-abad silam.

Dengan menulis, seseorang akan mampu menyampaikan gagasan yang baik dan mencerahkan yang bermanfaat bagi khalayak luas. Dengan menulis juga dapat menyalurkan aspirasi yang dapat dijadikan sebagai motivasi, khususnya bagi diri penulisnya. Sebuah tulisan dapat mencerminkan karakter penulisnya. Kecerdasan penulis pun dapat diukur dari tulisannya. Ternyata banyak sekali manfaat menulis.

Berdasarkan konteksnya, menulis dikategorikan menjadi dua jenis, yakni menulis fiksi dan nonfiksi. Menulis fiksi berarti menulis yang bersifat fiktif, khayalan, dapat berimajinasi dengan sebebas-bebasnya, serta dapat menabrak logika-logika normal, namun harus tetap mengacu pada logika umum. Berbeda dengan menulis nonfiksi, dibatasi oleh logika-logika normal dan logika umum serta terikat dengan logika ilmiah. Sebagai contoh, menulis fiksi berupa cerpen, penulis dapat mengarahkan alur cerita dengan sebebas-bebasnya, namun harus tetap masuk akal, sehingga dapat diterima logika umum. Lain halnya menulis nonfiksi, misalnya berupa makalah, dibatasi oleh aturan-aturan tertentu, sesuai dengan logika umum dan harus dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan logika ilmiah.

Dalam proses menulis, kita dapat menulis tentang apa saja. Namun, sebaiknya materi tulisan adalah apa yang kita kuasai. Hal ini penting, sebab akan berpengaruh terhadap kekuatan atau kelemahan hasil tulisan yang menyangkut ketatabahasaan, kelogisan pikiran dan kaidah-kaidah kepenulisan lainnya. Akan tetapi, jangan sampai semangat menulis terkendala oleh aturan-aturan tersebut. Semangat menulis harus terus dihidupkan dan dikembangkan.

Menulis Bagi Siswa
Dalam keseharian, sebagian siswa saat ini kurang –bahkan tidak– menyukai kegiatan menulis. Berbagai macam pernyataan bernada negatif akan spontan keluar dari mereka ketika dihadapkan pada ajakan untuk menulis, misalnya: sorry, ogah, males, borring dan lain-lain. Entahlah. Belum ada jawaban pasti mengapa para siswa yang notabene sebagai insan pembelajar dan generasi penerus bangsa ini tidak menyukai kegiatan menulis. Tidak sedikit dari mereka yang tak tergerak hatinya untuk menulis. Tidak sedikit pula di antara mereka yang justru alergi terhadap menulis.

Siswa lebih memilih kegiatan yang bersifat senang-senang, hura-hura, glamour atau apa pun istilahnya yang sesuai dengan mood mereka. Padahal, tanpa mereka sadari, setiap saat mereka tidak pernah lepas dari aktivitas menulis. Perhatikan saja, setiap hari mereka tidak pernah berpisah dengan handphone atau ipad. Saat ini dua alat komunikasi tersebut menjadi primadona bagi mereka. Dengan dunianya, mereka mengetik tombol-tombol keypad handphone atau ipad, lalu menelepon, mengirim sms, browsing, chating, dan sebagainya, yang hampir setiap saat mereka lakukan. Tentu saja kegiatan-kegiatan tersebut berkaitan dengan aktivitas menulis.

Harus diakui bahwa, dalam masyarakat kita belum tertanam budaya menulis. Tidak terkecuali bagi kalangan siswa. Mereka lebih suka menonton, entah di media televisi, media-media sosial atau media lainnya. Padahal kita tahu, tidak sedikit tayangan berbagai jenis media itu yang tidak sesuai dengan budaya ketimuran kita. Tidak sedikit pula yang justru berpotensi membahayakan, tidak saja bagi diri siswa sendiri, tetapi juga bagi masyarakat dan khalayak luas. Hal ini, jika dibiarkan terus-menerus, maka akan berakibat sangat fatal bagi perkembangan daya nalar, imajinasi dan fungsi otak. Bakat dan potensi yang dimiliki pun akan hilang begitu saja apabila lama tidak diasah atau digunakan. Salah satu jalan mengasahnya adalah dengan aktivitas menulis. Karena dengan menulis, seseorang dapat menuangkan ide, imajinasi, aspirasi, unek-unek atau apa pun yang berasal dari otak dan tersalurkan dengan aktivitas gerak badan lainnya, terutama tangan.

Memotivasi Siswa Untuk Menulis
Bagi sebagian orang, memulai menulis tentu bukan perkara yang gampang. Banyak hambatan yang dihadapi, misalnya karena tidak adanya ide atau kurangnya referensi. Bagi siswa sebetulnya lebih mudah, aktivitas menulis yang selama ini tersalurkan lewat handphone atau ipad dapat lebih diseriuskan. Tulislah apa saja ide yang muncul, kapan saja dan di mana saja, kemudian kembangkan. Jangan mudah jenuh atau putus asa sebelum betul-betul tertuang ide yang ada. Jangan pula cepat puas terhadap tulisan yang telah dibuat. Hal ini dapat membentuk karakter tulisan yang lambat laun akan menjadi kekuatan dan ciri khas yang dimiliki.

Guru, sebagaimana tugas dan fungsinya, bertanggung jawab terhadap kelangsungan kegiatan pembelajaran. Guru menjadi figur dan contoh bagi siswa-siswinya. Peranan guru sangat penting dalam membina, mengajak dan mengarahkan mereka untuk menulis. Tentu saja, guru harus labih dulu masuk dalam ranah kepenulisan. Singkatnya, guru harus juga menulis. Dengan demikian, siswa mengikuti apa yang dilakukan oleh gurunya.

Siswa harus diberi pemahaman bahwa menulis harus betul-betul dari hati. Harus pula diyakinkan bahwa sesederhana apa pun tulisan yang mereka buat, jika ditulis dari hati yang paling dalam, maka tulisan itu akan “hidup” dan bermanfaat, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Selain itu, dalam menulis kita membutuhkan motivasi, terutama dari diri sendiri. Motivasi dalam menulis memegang peranan yang sangat penting. Tanpa motivasi, maka ide atau pemikiran apa pun tidak dapat dituangkan dengan baik. Oleh karena itu, motivasi menulis harus terus dipupuk dan dikembangkan.

Banyak yang dapat dilakukan untuk memotivasi siswa agar mereka mau menulis. Sekali lagi, dalam hal ini peranan guru sangat penting. Guru harus menggambarkan bahwa menulis adalah kebutuhan. Untuk itu, mau tidak mau mereka harus memenuhinya. Apa pun alasannya, mereka harus berusaha untuk memenuhi kebutuhannya. Jika tidak, mereka akan menanggung resiko yang merugikan dirinya. Selain itu, menulis adalah kepuasan. Siswa harus diberikan penjelasan bahwa dengan menulis akan melahirkan kepuasan, khususnya bagi diri sendiri. Dengan menulis, dapat mengubah kepuasan menjadi keuntungan. Keuntungan dari hasil menulis dapat dijadikan sebagai sumber penghasilan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, menulis adalah kebutuhan dan kepuasan yang menguntungkan yang pada akhirnya dapat menjadi sumber penghasilan. ***

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top