MENGOPTIMALKAN AMAL IBADAH SEBAGAI BULAN PENDIDIKAN KARAKTER

Rubrik Pendidikan Oleh

POWERFUL RAMADHAN: MENGOPTIMALKAN AMAL IBADAH SEBAGAI BULAN PENDIDIKAN KARAKTER

Oleh: Drs. HA. Sholeh Dimyathi, MF, MM
(Sekretaris Dewan Pembina Agupena)

Beberapa hari lagi Insya Allah kita akan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan 1438 H. Rasulullah SAW dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan beliau berkhutbah yang artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu fardhu, dan qiyam di malam harinya suatu tathawwu’. Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardhu di dalam bulan yang lain. Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan Allah memberikan rizqi kepada mukmin di dalamnya.Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.

Para sahabat berkata; “Ya Rasulullah, tidaklah semua kami memiliki makanan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa. Maka bersabdalah Rasulullah saw.;“Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka. Oleh karena itu, banyakkanlah yang empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya. Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohon ampun kepada-Nya . Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka. Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berbuka puasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolam-Ku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.” (HR. Ibnu Huzaimah).

Ramadhan begitu menakjubkan, Ramadhan adalah waktu dibukanya bursa pahala dan ampunan Allah. Bahkan iblis dan bala tentaranyapun dibelenggu.Tak heran, banyak orang yang beramal secara optimal pada bulan ini, berubah menjadi pribadi yang shaleh, santun dan bertaqwa. Sungguh puasa bukanlah ibadah yang main-main. Orang yang berpuasa, haruslah berjuang keras untuk menahan diri dari makan, minum serta tidak berhubungan seks dengan isteri yang sah sejak terbit fajar hingga tenggelamnya mata hari. Bahkan ketika fajar belum menjelang, kita telah bangun untuk sahur. Lapar dahaga siang hari dan tenggorokan kering tak kita hiraukan.Tak salah jika pada sore hari, kita pun hampir tidak memiliki kesabaran untuk menyantap hidangan berbuka.

Akan tetapi, sudahkah orang yang berpuasa merasakan manfaat berbagai Tarbiyah (pendidikan) di bulan Ramadhan,sehingga berobah karakternya ?
Ada sebuah ilustrasi dua maklukh Allah yang dikenal berkarakter rakus dititahkan untuk mengerjakan puasa,yaitu ULAR dan ULAT. Disaat dua mkhluk Allah ini mengerjakan puasa, hasilnya berbeda jauh. Mengapa ? ULAR yang awalnya sebagai makhluk yang berkarakter rakus,setelah menjalani puasa dan berganti kulitnya, tetapi tidak berobah karakter ULAR tetap saja perilakunya rakus. Berbeda dengan ULAT makhluk yang karakter perilakunya rakus, setelah menjalani puasa menjadi kepompong dan lahir kembali menjadi KUPU-KUPU, perilaku ULAT berobah 180 derjat karakternya,apa yang dilakukan memberikan kemanfaatan bagi makhluk lain.

Mengapa karakter kita sudah berkali-kali setiap tahun berpuasa tetap saja karakter kita tidak banyak berobah?

Marilah kita persiapkan dengan matang sebelum kita memasuki bulan suci Ramadhan agar kita tetap dapat menjaga amaliyah setelah Ramadhan. Puasa Ramadhan, sebagai salah satu rukun Islam, merupakan salah satu bentuk pengejawantahan dari Iman. Puasa merupakan pranata bagi seorang mukmin untuk menuju kesuatu derajat ketaqwaan, seperti dijelaskan dalam QS.Al-Baqorah{2}:183; “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Apa yang terkandung dalam ayat ini? Orang-orang yang beriman diminta atau dipanggil  untuk meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah, melalui kwajiban menjalankan ibadah puasa dibulan suci Ramadhan.

Dengan demikian dapat kita fahami, bahwa puasa Ramadhan adalah sarana atau alat untuk pendidikan karakter menuju manusia yang shalih secara individu dan shalih secara social dan karakter manusiademikian merupakan aspek penting dari kualitas sumber daya manusia (SDM), karena turut menentukan harkat dan martabat manusia serta menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini dan secara terus menerus.

Puasa Ramadhan merupakan sarana dan alat pendidikan karakter untuk mencerdaskan potensi fithrah manusia.
Fitrah adalah sunnatullah, fithrah inilah yang diperlukan manusia untuk dapat menunaikan tuntutan hidupnya dengan cerdas dan maksimal; agar dapat memenuhi janjinya dengan Allah, agar dapat bersujud/beribadah kepada Allah dengan benar, agar dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah fil ardhi dan agar dapat menghadapi segala ujian dalam kehidupannya.

Ada lima (5) Fitrah cerdas yang diberikan Allah kepada manusia, agar manusia dapat melaksanakan tugas dan fungsinya didunia ini, yaitu: Cerdas Fisik, Cerdas Emosi, Cerdas Akhlak, Cerdas Intelektual dan Cerdas Kebajikan.

Fitrah Cerdas adalah sunnatullah, sifat inilah yang diperlukan manusia untuk dapat menunaikan tuntutan hidupnya dengan cerdas dan maksimal. Semua sifat itu mudah dicapai , jika dibina sejak dini secara komulatif. Orang tua/keluarga wajib memahami sifat-sifat ini dan memahami langkah-langkah untuk mencapai lima (5) fitrah cerdas, yaitu:

CERDAS FISIK

  • Terampil mengimbangkan diri & mengkoordinasikan tubuh
  • Lincah & indah dalam gerak-gerik;
  • Terampil menghindarkan diri dari cedera;
  • Terampil dalam menjaga kehormatan diri.

CERDAS EMOSI

  • Selalu ceria, bersyukur, sabar, takwa,
  • Jika sedih cepat pulih;
  • Mudah merasa selamat, tenteram, positif & kagum;
  • Cenderung kepada yang baik, indah, suci, jelek

CERDAS ADAB-AKHLAK

  • Manusia yang menghargai kehormatan dirinya;
  • Manusia yang sayang padaTuhan, Al-Qur’an & Rasulullah;
  • Manusia yang sayang & membahagiakan orang tua;
  • Manusia yang bersyukur & kagum terhadap ilmu;
  • Manusia yang faham, adab dan beradab.
  • dan merusak;
  • Akalnya mudah mengendalikan nafsu

CERDAS INTELEKTUAL

  • Cerdas menerima & faham berbagai ilmu & keterampilan
  • Cerdas mengenali keterkaitan antara berbagai ilmu
  • Cerdas dalam memposisikan sesuatu pada tempatnya
  • Cerdas dalam memahami tanda-tanda Kebesaran Tuhan
  • Cepat menghasilkan pemahaman & amalan yang benar dan bermanfaat

CERDAS KEBAJIKAN

  • Faham alasan berbuat kebajikan
  • Terbiasa memilih yang baik dan menolak yang buruk
  • Arif menentukan dasar mengapa berbuat kebaikan
  • Istiqomah dalam berbuat kebaikan dan diri sendiri
  • Istiqomah dalam berbuat kebaikan pada masyarakat
  • Istiqomah dalam berbuat kebaikan pada alam semesta

Melalui puasa Ramadhan kelima (5) fithrah cerdas ini dihidupkan kembali, agar terbentuk 11 karakter taqwa sebagaimana difirmankan Allah dalam QS. Al-Baqorah 1-4 dan QS.Ali Imran 133-135.

Dalam Puasa Ramadhan kita diajari dan dididik untuk melawan nafsu. Jika kita renungkan inti dari taqwa sesungguhnya adalah melawan nafsu, menolak keinginan-keinginan nafsu yang terlarang. Ketika seorang hamba melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh Allah sesungguhnya dia sedang mengalahkan nafsunya dan memaksanya tunduk dan patuh melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut. Ketika seorang hamba menjauhi hal-hal yang diharamkan oleh Allah, sesungguhnya dia tengah berperang dengan nafsunya yang menginginkan perbuatan haram, lalu dia menolak keinginan nafsu tersebut dan mencegahnya dari perbuatan haram. Perbuatan-perbuatan haram itulah yang dikehendaki oleh nafsu.

Oleh karenanya orang yang berhasil mengalahkan nafsunya maka dia-lah orang yang akan bisa mencapai derajat takwa. Tanpa melawan nafsu, orang tidak akan pernah mencapai tingkatan takwa. Meskipun orang memiliki ilmu yang banyak, harta yang melimpah, kawan-kawan yang shaleh tetap saja dia tidak akan mencapai tingkatan takwa kecuali dengan melawan nafsunya. Allah ta’ala berfirman:Artinya: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”QS. AN-Nazi’aat:40-41. Dan Allah mengingatkan kita dalam QS. Yunus:23;Artinya;” Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kelalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kelalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Puasa Ramadhan mengajarkan dan mendidik kepada kita untuk mengosongkan fikiran kita dengan merenung (tafakkur), berfikir dan berdzikir
Karena menikmati syahwat makan, minum dan berhubungan suami isteri kadang bisa mengeraskan hati dan menjauhkan hamba dari fikir dan dzikir dan menyeret kepada kelalaian. Sedangkan kosongnya perut dari makanan dan minuman menyinari hati dan melembutkan nurani serta melunakkan kerasnya kalbu dan mengosongkannya untuk zikir dan fikir. Ini semua menunjukkan kepada kita betapa pentingnya mengosongkan hati untuk berfikir dan berdzikir. Berfikir tentang pendidikan ummat, berfikir tentang akherat, berfikir tentang adzab Allah yang ditimpakan kepada orang-orang yang ingkar dan enggan mengingkari kemungkaran dan tidak mengajak kepada kebaikan, berfikir tentang akhir kehidupan Fir’aun, Namrud, Qarun dan semacamnya, berfikir tentang tanda-tanda kekuasaan Allah.

Berfikir adalah kunci kemajuan. Orang yang menginginkan kemajuan dalam ketakwaannya harus meluangkan waktu untuk berfikir dan berfikir, sehingga dia bisa melihat kekurangan-kekurangan untuk diperbaiki dan kebaikan-kebaikan untuk dipertahankan sebelum semuanya terlambat. Pada suatu saat, Rasulullah Saw pernah berkata kepada bangsa Arab; “Bertafakkur satu saat jauh lebih baik daripada beribadah satu tahun”, ucapan tersebut dilontarkan Rasulullah, ketika bangsa Arab tengah asyik menekuni lakon kehidupan. Seolah-olah tujuan hidup ini hanyalah dunia yang fana semata, sehingga tidak mengalami perobahan.

Oleh karenanya di antara petuah-petuah kandungan Shuhuf Ibrahim shallallahu ‘alayhi wasallam adalah;” bahwa orang selama masih ada akalnya hendaklah bisa membagi waktunya menjadi empat bagian: Pertama; waktu untuk bermunajat kepada Allah, kedua; waktu untuk beintrospeksi diri, ketiga; waktu untuk berfikir tentang ciptaan-ciptaan Allah dan ke empat; waktu untuk mengurus makan dan minumnya” (H.R. Ibnu Hibban)

Ramadhan juga mengajarkan dan mendidik kepada kita untuk menyadari besarnya nikmat dan karunia Allah. Karena ketika orang yang berada di antara kita merasakan lapar dan dahaga ia akan mengetahui betapa besar nikmat Allah kepadanya dengan diberikan harta yang tidak diberikan kepada orang-orang fakir dan miskin, apalagi berlebih dalam makanan, minuman dan rizki. Ketika seorang hamba dilarang dari itu semua pada waktu tertentu dan merasakan betapa sulitnya jauh dan terhalang dari nikmat-nikmat tersebut, maka ia akan teringat kepada orang yang jauh dari kenikmatan tersebut selama hidupnya. Ini semua akan membuatnya mensyukuri nikmat Allah kepadanya dengan harta dan kekayaan, dan menggugahnya untuk mengasihi saudaranya yang sangat membutuhkan dan berusaha menyantuninya dengan segenap kemampuannya. Allah ta’ala berfirman ketika menyebutkan cirri-ciri orang yang bertakwa:Artinya: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian karena tidak meminta-minta”. (Q.S. Adz-Dzariyaat: 19).

Puasa Ramadhan juga mengajarkan dan medidik kepada kita untuk mengendalikan emosi dan kemarahan
Kita dilatih untuk menekan amarah dan bersikap pemaaf. Karena kemarahan dan emosi seringkali membawa kepada bahaya dan bencana-bencana besar. Ketika orang sedang dalam keadaan amarah dan emosi, seringkali melakukan hal-hal yang buruk yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ada sebagian orang yang terseret oleh emosi sehingga melakukan kekufuran, pembunuhan, perbuatan dosa dan maksiat kepada Allah ta’ala.

Oleh karenanya puasa mengajarkan kepada kita agar menahan amarah dan mengendalikan emosi agar kita tidak terjerumus pada perilaku­-perilaku bodoh dan hal-hal tidak berarti. Emosi dan amarah yang tidak terkendali ini begitu berbahayanya sehingga Nabi berkata kepada orang yang meminta wasiat darinya: “Laa Taghdlab; jangan marah” dan beliau mengulangi wasiat yang sama sebanyak tiga kali. Orang yang bertakwa adalah orang yang berhasil meredam emosinya dan memaafkan sesamanya. Allah ta’ala berfirman tentang beberapa sifat orang yang bertakwa:Artinya: “…dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (Q.S. Ali Imran: 134)

Di bulan Ramadlan kita  dibiasakan dan dididik untuk mengisi hari-hari kita dengan berbagai bentuk ketaatan kepada Allah (kegiatan yang bermanfaat/produktif)
Kita dianjurkan untuk memakmurkan masjid, mengajak orang untuk berbuat baik, memberi makan berbuka/ta’jil,berinfak, membaca Al- Qur’an. Pada malam hari, kita juga dilatih untuk sholat malam, i’tikaf, bertadarus,berkata baik,jujur dan lain sebagainya. Ini semua merupakan pelajaran berharga bagi setiap orang untuk meraih tingkat ketaqwaannya melalui madrasah ramadhan. .Orang yang sukses dan bertakwa adalah orang yang bisa mempertahankan spirit dan rutinitas tarbiyah (pendidikan) Ramadlan dalam seluruh kehidupannya sepanjang tahun untuk memelihara dan mengembangkan fithrahnya. Dalam menjalankan petunjuk puasa dan pelajaran-pelajaran serta tarbiyah (pendidikan) dalam madrasah Ramadhan, ada di antara kita yang sukses dengan gemilang dan berhasil mempertahankan spirit dan rutinitas Ramadlan dalam seluruh kehidupannya, mereka inilah yang sangat beruntung.

Sukses adalah dambaan semua orang, tetapi sukses bukanlah sesuatu yang mudah dicapai. Untuk menjangkaunya harus melalui pengorbanan dan perjuangan yang berat.  Arena itu, banyak orang yang menggapai SUKSES hanya dalam imajinasi saja, sedang secara realitas ia berada jauh dari kesuksesan itu sendiri.  Melihat kenyataan ini, seorang hamba ALLAH yang ingin SUKSES dengan predikat TAQWA, tidak dapat berdiam diri atau berprinsip mengikut alur alamiah saja. Ia harus melakukan pemikiran dan pengaturan strategi bagaimana mencapai kesuksesan yang diharapkan itu.  Krisis yang dialami hamba Allah biasanya adalah “hilangnya komitmen” dalam dirinya setelah bulan Ramadhan dalam mengejar kesuksesan.  Akibatnya mereka menjadi berpola pikir pendek ; ada yang terjebak budaya materialistic, hedonistic, glamouristik, malas menuntut ilmu, malas beribadah dan sebagainya.  Akhirnya keinginannya untuk mencapai kesuksesan kandas ditengah jalan

Bulan Ramadhan adalah bulan penyemangat
Bulan yang mengisi kembali baterai jiwa setiap muslim. Ramadhan sebagai ‘Shahrul Ibadah’ harus kita maknai dengan semangat pengamalan ibadah yang sempurna. Ramadhan sebagai ‘Shahrul Fath’ (bulan kemenangan) harus kita maknai dengan memenangkan kebaikan atas segala keburukan. Ramadhan sebagai “Shahrul Huda” (bulan petunjuk) harus kita implementasikan dengan semangat mengajak kepada jalan yang benar, kepada ajaran Al-Qur’an dan ajaran Nabi Muhammad Saw. Ramadhan sebagai “Shahrus-Salam” harus kita maknai dengan mempromosikan perdamaian dan keteduhan. Ramadhan sebagai ‘Shahrul-Jihad” (bulan perjuangan) harus kita realisasikan dengan perjuangan menentang kedzaliman dan ketidakadilan di muka bumi ini. Ramadhan sebagai “Shahrul Maghfirah” harus kita hiasi dengan meminta dan memberiakan ampunan.

Dengan mempersiapkan dan memprogram aktifitas kita selama bulan Ramadhan ini, insya Allah akan menghasilkan kebahagiaan. Kebahagiaan akan terasa istimewa manakala melalui perjuangan dan jerih payah. Semakin berat dan serius usaha kita meraih kabahagiaan, maka semakin nikmat kebahagiaan itu kita rasakan. Itulah yang dijelaskan dalam sebuah hadist Nabi bahwa orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan.Pertamayaitu kebahagiaan ketika ia “Ifthar” (berbuka). Ini artinya kebahagiaan yang duniawi, yang didapatkannya ketika terpenuhinya keinginan dan kebutuhan jasmani yang sebelumnya telah dikekangnya, maupun kabahagiaan rohani karena terobatinya kehausan sipritualitas dengan siraman-siraman ritualnya dan amal sholehnya.Kedua, adalah kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya. Inilah kebahagian ukhrawi yang didapatkannya pada saat pertemuannya yang hakiki dengan al-Khaliq. Kebahagiaan yang merupakan puncak dari setiap kebahagiaan yang ada.

Tarbiyah puasa dan keutamaan-keutaman Ramadhan di atas, dapat kita jadikan media untuk bermuhasabah dan menilai kualitas puasa kita. Hikmah-hikmah puasa dan Ramadhan yang sedemikian banyak dan mutidimensional, mengartikan bahwa ibadah puasa juga multidimensional. Begitu banyak aspek-aspek ibadah puasa yang harus diamalkan agar puasa kita benar-benar berkualitas dan mampu menghasilkan nilai-nilai karakter positif yang dikandungnya. Seorang ulama sufi berkata “Puasa yang paling ringan adalah meninggalkan makan dan minum”. Ini berarti di sana masih banyak puasa-puasa yang tidak sekedar beroleh dengan jalan makan dan minum selama sehari penuh, melainkan ‘puasa’ lain yang bersifat batiniah.

Indikator untuk mengukur keberhasilan ibadah puasa ramadhan kita,berdasarkan firman Allah dan beberapa hadist Rasulullah saw. menyatakan bahwa ibadah puasa yang dikerjakan akan dapat membuahkan manusia yang bertaqwa kepada Allah,membuahkan manusia fithrah, suci bersih dan terbebas dari dosa bagaikan bayi yang baru lahir(Kayaumi waladathu ummuh kata Rasulullah).

Sebagai alat ukur, mari kita bandingkan dengan seorang bayi. Pada diri bayi terdapat ampat (4) sifat azazi bayi:

  • Bayi apabila lahir disambut dengan hangat, penuh tawa dan ceria ; Setiap orang ingin menggendong meskipun resikonya diompoli, ini karena bayi memiliki sorotan mata yang penuh kepolosan dan senyumnya tanpa pamprih (karakter ihlas).
  • Bayi tidak punya sifat sombong dan masih bergantung pada orang lain ; Meskipun demikian , bayi tidak mau diperlakukan semena-mena karena punya martabat dan harkat, apabila perasaannya diinggung, ia akan protes (karakter harga diri).
  • Bayi tidak punya sifat serakah; Seorang bayi yang haus atau lapar hanya sebatas memenuhi keperluannya, tidak pernah kasak kusuk mencari makanan tambahan , apalagi merampas milik orang lain (karakter qana’ah).
  • Bayi tidak memiliki sifat dendam dan selalu pemaaf; Bayi yang disakiti, dimarahi tidak pernah melakukan aksi pembalasan/dendam (karakter pema’af)

Itulah sifat azazi bayi yang dijadikan Rasulullah sebagai tamsil buah dari amaliyah ramadhan. Semoga ke 4 karakter tersebut akan kita  peroleh sebagai buah dari amaliyah ramadhan yang insya Allah akan kita lakukan untuk meraih predikat taqwa yang diharapkan Allah dalam QS.Al-Baqarah:183, dimana semua aktivitas apapun yang dikerjakannya dan tidak dilarang oleh agama, dilakukan dengan motivasi atau niat karena Allah dan RasulNya. Orang yang sudah mencapai tingkat taqwa ini, semua yang dilakukannya itu bernilai ibadah disisi Allah SWT, serta terhindar dirinya dari berbuat segala sesuatu yang dilarang agama. Ciri-cirinya ; Penuh kesadaran akan kwajiban, Tawadlu’,Memperbanyak Ibadah dan Taubat, Memperhatikan nasib diri dengan segala kesungguhan hati, selalu menambbah Ilmu pengetahuan (QS.Yunus 63).

Semoga dengan mempersiapkan diri kita secara baik dan merencanakan aktifitas dan ibadah-ibadah dengan ihlas, serta berniat “liwajhillah wa limardlatillah“, karena Allah dan karena mencari ridha Allah, kita mendapatkan kedua kebahagiaan tersebut, yaitu “sa’adatud-daarain” kebahagiaan dunia dan akherat.

Semoga kita bisa mengisi Ramadhan tidak hanya dengan kuantitas harinya, namun lebih dari pada itu kita juga memperhatikan kualitas puasa kita.Semoga!

Bekasi, 12 Mei 2017

Drs. H. Ahmad Sholeh Dimyathi, MF., MM. (biasa dipanggil Pak Kyai) lahir di Pati, Jawa Tengah, 17 Oktober 1954. Prestasi yang berhasil dicapainya meliputi pemenang utama Lomba Kreativitas Guru (LKG) tingkat nasional tahun 1997, guru teladan tingkat Jakarta Timur tahun 2000, pemenang II Lomba Kreativitas Guru (LKG) tingkat nasional tahun 2001 dan 2002, guru berprestasi dan berdedikasi luar bisa tingkat nasional tahun 2005, kepala sekolah berprestasi nasional tahun 2006, dan pengawas berprestasi terbaik 2 tingkat DKI Jakarta tahun 2014. Dalam kepangkatan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) berhasil meraih pangkat pembina utama dengan golongan IV E. Pangkat dan golongan ini bagi PNS yang berkarir dari seorang guru, merupakan prestasi yang sulit dicapai. Pada tahun 2004 ia meraih Satya Lencana Pendidikan Guru Berprestasi dan Berdedikasi dari Menteri Pendidikan Nasional. Saat ini menjadi Dewan Pembina Pengurus Pusat Agupena (Asosiasi Guru Penulis Indonesia).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Hidden Kurikulum

Oleh: Fortin Sri Haryani Ada pertanyaan di balik tragedi pembunuhan massal oleh

Mind Map dan Aikido

Oleh: Yudhi Kurnia Bagi para praktisi pendidikan tentunya tidak akan asing lagi
Go to Top