PENDIDIKAN YANG DIKELOLA SECARA MANUAL

Rubrik Pendidikan Oleh

Ismail Suardi Wekke
(STAIN Sorong-Agupena Papua Barat)

“Suratnya tidak ada masuk ke meja saya”. Begitu kalimat sebuah pimpinan perguruan tinggi menjawab pertanyaan saya tentang tindak lanjut sebuah surat. Jika itu terjadi pada abad sebelum internet dikenal sangat lazim. Namun, hari ini ketika surat-menyurat justru menggunakan media eletronik. Justru, itu ungkapan yang kemudian terdengar ganjil.

Belum lagi, “suratnya silahkan dicetak untuk dikirim ke tata usaha”. Padahal, filenya sudah dikirim secara langsung ke surat eletronik sang pejabat. Ini juga bahkan bisa menjadi sebuah kalimat yang masih menyandarkan pada zaman ketika surat dilihat dalam bentuk fisik semata.

Dua ilustrasi di atas menjadi gambaran di mana pola pikir belum beranjak. Saat ini, kondisi seluruh dunia berubah dengan teknologi informasi. Kejadian di sudut dunia mana pun, dengan mudah diketahui hanya dalam hitungan detik. Di masa lalu, uang bekal sekolah di pelosok daerah harus dikirim melalui sopir angkutan umum. Bahkan, sarana tercanggih hanya dengan wesel pos. sekarang, cukup dengan menggunakan fasilitas mobile banking, kiriman uang akan sampai sesuai dengan keinginan pengirim. Bahkan, jika tidak memiliki rekening bank-pun, kiriman uang tetap bisa saja dilakukan ke penerima. Cukup dengan memiliki nomor telepon seluler.

Sekarang, pendidikan juga harus dikelola dengan cara digital. Saya menyaksikan seorang pimpinan madrasah di Sulawesi Tenggara, mengontrol suasana kelas cukup dengan kamera yang terhubung dengan telepon seluler yang dimilikinya. Bahkan bisa mengecek proses belajar mengajar di sekolah yang dipimpinnya, tanpa perlu lagi berada di lokasi yang sama. Sebagaimana dia bisa mengecek transaksi keuangan di kantin madrasah tanpa perlu membuka laci kantin.

Begitu pula seorang rektor perguruan tinggi di Jawa Timur. Memenuhi undangan koleganya di Thailand, dalam perjalanan di pesawat masih bisa memimpin rapat para staf dan dosen. Dengan fasilitas teleconference selama di pesawat, akhirnya perencanaan sebuah kegiatan di kampus dapat terselesaikan. Sekarang, jarak tidak lagi menjadi masalah. Posisi sepanjang terhubungan dengan signal telepon, tetap saja dapat terhubung satu sama lain. Semuanya terselesaikan dengan teknologi komunikasi dan informasi.

Sekarang ini, integrasi pengelolaan pendidikan tidak bisa lagi dengan mengandalkan pola-pola manual sebagaimana yang diwarisi dari masa lalu. Adaptasi manajemen pendidikan harus mulai menggunakan strategi dengan pengelolaan yang mengandalkan perangkat teknologi komunikasi dan informasi. Pada saat yang sama, aspek ekologis dapat terselesaikan jikalau tidak semua surat harus dicetak. Pohon tidak perlu ditebang hanya karena distribusi undangan rapat yang harus disebarluaskan.

Walaupun demikian, ada sisi-sisi yang dapat digunakan tanpa mengeliminasi aspek kemanusiaan. Teknologi komunikasi dan informasi hanyalah media untuk mengakselerasi pengelolaan lembaga yang tidak dapat menggantikan sepenuhnya kehadiran manusia. Teknologi semata-mata sebatas alat. Tetapi daya inovasi tetap menjadi sumbu bagi pengembangan pendidikan. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top