Home » Opini » Cita Rasa Manusia » 315 views

Cita Rasa Manusia

Rubrik Opini Oleh

Oleh: La Ode Mu’jizat, anggota Agupena asal Kota Baubau

Dari Abu Musa Al Asy’ari ra. dari Nabi SAW bersabda: “perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah utrujjah, yang baunya harum dan rasanya enak (manis), dan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al Qur’an seperti buah korma yang tidak berbau namun hanya rasanya saja yang manis, dan perumpamaan orang munafiq yang membaca Al Qur’an seperti buah roihanah yang baunya harum namun rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al Qur’an seperti buah khandzolah yang tidak berbau dan rasanya juga pahit.” (Muttafaq ‘Alayh)

Beberapa bulan yang lalu kami berkesempatan untuk berkunjung ke desa Gaya Baru. Sebuah tempat yang indah dan asri di Buton Selatan. Daerah yang juga merupakan tempat kelahiran Sahabat Saya, Muhadi La Gande, aleg DPRD Buton Selatan.

Sangat menentramkan jiwa saat berkunjung ke sana. Sebab selain menjadi tempat refreshing yang dapat menyegarkan pikiran dan menghilangkan penat, warga desa Gaya Baru adalah pribadi-pribadi yang ramah dan baik hati.

Saat makan siang, kami disuguhkan ikan bakar yang mengundang selera dan memanjakan lidah. Ikan karang terpilih, beraroma istimewa. Hmmm… enak dan lezat….

“Ikan ini diambil dari bubu (penangkap ikan tradisional)”, kata Ust. Muhadi. “Itulah mengapa ikan ini rasanya enak. Beda rasanya dengan ikan yang ditangkap dengan alat pancing”, jelasnya.

Menurut aleg yang juga pegiat dakwah di Buton selatan ini, ikan dengan jenis yang sama, tapi jika ditangkap dengan cara yang berbeda, maka rasanya juga akan beda.Ikan yang didapatkan dengan menggunakan alat pancing, rasanya menjadi kurang begitu enak dan lezat. Sebab sang ikan merasakan stress tingkat berat akibat kail yang menancap pada mulutnya.

Sementara ikan yang diperoleh dari Bubu, rasanya tetap enak dan lezat. Sebab sang ikan tak merasa tertangkap. Ia menganggap masuk kedalam bubu bukanlah sebuah kecelakaan yang akan merenggut nyawanya. Seolah tak terjadi apa-apa. Maka tak ada stress pada makhluk air itu.

Ini soal stress. Sesuatu yang menyebabkan rasa menjadi berbeda. Tubuh menjadi tak enak. Cita rasa menjadi lain.

Menurut pendapat Saya, ini juga bisa terjadi pada manusia. Mereka yang hari-harinya dilalui dengan stress melulu, maka cita rasanya bisa menjadi beda. Tak perlu minta bantuan Sumanto (sang kanibal) untuk membuktikan ini. Sebab siapapun bisa merasakan jika sesorang yang berada tak jauh darinya sedang mengalami stress atau tidak.

Bagaimana cara mengetahui jika orang di samping kita sedang stres (walau ia tak mengatakannya)? Mudah kok, sebab auranya bisa kita rasakan. Tentu setiap kita punya pengalaman tentangnya. Suatu waktu kita begitu senang ketika berdekatan walau tanpa berbincang dengan seseorang, tapi di waktu yang berbeda kita merasa tidak nyaman dengannya. Itulah aura, yang terpancar dari pikiran atau perasaan.

Berdasarkan analisis aura yang dilakukan Dr. Tawfik A. Al-Kusayer sebagaimana diungkapkan dalam bukunya yang berjudul ‘Seni Menikmati Hidup’, pakar energi yang bermukim di Vancover Kanada ini mengatakan bahwa ketika pikiran seseorang positif, maka auranya akan besar dengan warna terang dan memiliki bentuk yang indah.

Orang dengan aura semacam ini kondisinya nyaman ketika siapa pun berinteraksi, atau bahkan ketika orang-orang mendekatinya tanpa terjadi interaksi dan percakapan apapun dengannya.Mereka ini adalah orang-orang yang sholeh, berbudi luhur, memiliki niat yang baik, mencintai kebaikan untuk semua orang, memiliki ketenangan, seimbang dan mampu untuk berkontribusi.

Akan tetapi, jika pikiran seseorang negatif, tubuh mereka dikelilingi oleh aura buruk dengan warna gelap, bentuk tidak jelas serta permukaan yang tidak lurus. Dan biasanya membawa energi negatif yang berpengaruh terhadap orang-orang yang bersosialisasi dan duduk dekat mereka.

Orang-orang yang memiliki aura seperti ini bisa diketahui melalui sifatnya yang banyak marah, merasa frustasi, pesimis, tidak percaya kepada orang lain, penakut, ragu-ragu, lemah iman, membenci orang lain, pelit, pengecut, tidak merasa puas, angkuh, iri, egois, dikendalikan syahwat dan berbagai hal negatif lainnya.

Dalam dunia hipnoterapi, dikenal 3 (tiga) hukum pikiran: Pertama, Apa yang sedang kita pikirkan, akan mempengaruhi tubuh kita kala itu juga. Kedua, apa yang sedang kita pikirkan, akan mempengaruhi orang disekitar kita. Dan ketiga, apa yang kita pikirkan, akan mempengaruhi alam semesta.

Akhirnya, kelola stress dengan baik, berpikirlah positif, sebab akan berefek pada fisik yang sehat, serta dapat menghadirkan kebahagiakan bagi orang-orang di sekeliling kita. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top