Menulis Minimal Satu Lembar Setiap Pagi

Rubrik Literasi Oleh

Oleh: Yanuardi Syukur
(Pengurus Pusat Agupena)

Sesungguhnya jika kita merenungkan lebih dalam terkait waktu yang ada dalam kehidupan, dapatlah kita sebuah simpulan bahwa waktu-waktu tersebut tidaklah hadir begitu saja.

Pagi adalah waktu yang paling segar bagi manusia setelah beristirahat; siang adalah waktu yang produktif untuk bekerja; sore adalah waktu transisi yang paling ideal sebelum beristirahat; dan malam adalah waktu yang paling baik untuk beristirahat agar pikiran, jiwa, dan tubuh kita kembali maksimal untuk aktivitas esok hari.

Pagi adalah waktu yang ideal untuk menulis. Alasannya karena beberapa hal. Pertama, pagi awalnya awal waktu. Kita semua meyakini soal “awal waktu” tadi dan olehnya itu secara tidak sadar terpatri dalam kepala bahwa segala yang baru harus ada dan dimulai di pagi hari.

Untuk melatih keterampilan menulis rasanya cukup baik jika kita melatihnya lewat menulis minimal 1 halaman setiap hari. Bisa kita bayangkan begini: Jika dalam 1 bulan (30 hari) kita menulis 1 halaman saja, maka dalam 1 bulan sudah ada 30 lembar; 2 bulan 60 lembar; 3 bulan 90 lembar; 4 bulan 120 lembar; dan 5 bulan 150 lembar. Ini kita hitung dengan perhitungan “malas” atau “menulis ala kadarnya” 1 lembar 1 hari.

Artinya, orang yang menulis secara konsisten 1 hari 1 lembar selama 5 bulan ia telah punya 150 lembar yang dapat menjadi 1 naskah buku. Jika dalam setahun ia konsisten, maka–sebutlah dalam 10 bulan–ia dapat menyelesaikan 2 naskah buku. Bayangkan: menulis dengan cara santai, tapi 1 tahun bisa buat 2 naskah buku!

Hal ini dapat kita mulai dengan menulis di pagi hari. Pagi hari adalah waktu yang cukup enak bagi akal pikiran untuk berpikir. Lagipula dengan keterampilan kita dalam mengetik (atau menulis di handphone), itu cukup membantu menyelesaikan 1 halaman 1 hari.

Hal kedua yang membuat menulis pagi cukup penting adalah untuk disiplin diri. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa “disiplin sangat berpengaruh bagi kesuksesan.” Jika membaca biografi tokoh ternama pastilah kita dapati sifat disiplin dalam diri mereka. Apapun jenis profesi yang digeluti seseorang, jika ia disiplin dalam bidangnya, maka sukses akan menjadi miliknya.

Disiplin sesungguhnya telah kita praktikkan dalam berbagai aktivitas. Misalnya, orang yang rutin berolahraga tiap hari, beberapa hari seminggu, atau tiap minggu jogging. Orang yang menunaikan ibadah pada waktunya, atau mengerjakan ritus-ritus keagamaan dalam berbagai bentuknya juga mendisiplinkan dirinya untuk menggapai kesuksesan.

Roy A. Rappaport (1926-1997) misalnya, ketika meneliti orang Tsembaga-Maring di Papua Nugini mendapatkan fakta bahwa mereka termasuk etnik yang disiplin dalam melakukan ritual untuk menjaga keseimbangan ekologis. Dalam bukunya, “Pigs for the Ancestors” (1968) yang diterbitkan oleh Yale University Press, Rappaport menyimpulkan bahwa keterbatasan sumber makanan di wilayah mereka harus dijaga dengan ritual potong babi yang diberikan untuk para leluhur agar tercipta keseimbangan ekologis.

Logikanya, jika populasi babi terus bertambah maka babi-babi itu akan mengambil sumber makanan manusia dan itu berbahaya bagi eksistensi manusia. Sedangkan, jika babi-babi dipotong secara berkala dalam ritual, maka mereka dapat menjaga sumber makanan serta dapat menyediakan stok daging untuk makanan mereka.

Soal disiplin apa yang hendak kita ambil dari hasil riset Rappaport di atas? Menurut saya, kita hidup di dunia dalam waktu yang terbatas, sama seperti hidup di alam janin ibu juga yang hanya 9 bulan 10 hari. Semua ada batas-batasnya. Mumpung kita masih sehat dan bisa melakukan banyak hal maka kita harus mengasah keterampilan tersebut. Saat membaca kisah Leonardo Da Vinci misalnya, kita dapati dia banyak sekali kelebihan; bisa menulis, melukis, dan merancang berbagai alat yang selanjutnya dibuat oleh manusia beberapa abad kemudian.

Jika kita amalkan “ritual” menulis 1 artikel setiap pagi maka keterampilan menulis akan terasah dan pengalaman-pengalaman yang ada tidak terbuang percuma. Pasti kita pernah merasakan itu: pengalaman penting yang hilang begitu saja karena tidak ditulis.

Untuk memulai menulis 1 halaman setiap pagi kita harus memulai dengan niat yang sungguh-sungguh bahwa “saya ingin jadi penulis!”, “saya ingin menulis buku tahun ini!”, “kalau orang lain bisa, saya juga pasti bisa!”, “saya yakin saya bisa menulis!” dan seterusnya.

Menumbuhkan semangat positif untuk terus belajar menulis adalah penting. Jika 1 buku telah terbit, buat lagi buku kedua, ketiga, dan seterusnya. Jangan cepat puas dengan apa yang ada. Menulis terus, produktif terus, dan berbagi terus untuk sesama. Mari kita memulai: menulis minimal 1 lembar 1 hari setiap pagi. ***

Dosen dan peneliti bidang Antropologi Sosial yang menulis 60 buku berbagai genre (Islam, Timur Tengah, biografi, dan motivasi, riset sosial). Beberapa bukunya dikaji sebagai tugas akhir di perguruan tinggi dan didokumentasikan di berbagai perpustakaan di Indonesia, Singapura, dan Australia. Pada tahun 2017, buku yang diinisiasinya "Hidup Damai di Negeri Multikultur" (GPU, 2017) diluncurkan di Kedubes Australia. Ia pernah diundang sebagai narasumber di Kuala Lumpur, Bangkok, beberapa stasiun televisi Indonesia dan MBC Korea. Saat ini, mahasiswa S3 Antropologi FISIP UI ini menjadi Ketua Bidang Usaha dan Jasa Penulisan/Penerbitan Agupena Pusat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top