Pendidikan Tinggi Berbasis Pesantren

Rubrik Pendidikan Oleh

Ismail Suardi Wekke
(STAIN Sorong-Agupena Papua Barat)

Berawal dari Institut Studi Islam Darussalam, Gontor, kemudian ditranformasi menjadi Universitas Darussalam. Begitu juga dengan Institut Agama Islam Darussalam, Blok Agung, Banyuwangi, berafiliasi ke pesantren. Demikian pula, Universitas Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng. Ketiganya diantara lembaga pendidikan tinggi yang menyatu dengan pesantren.

Pendidikan tinggi di pesantren menjadi sarana untuk pembentukan muslim yang paripurna. Tidak lagi pada pembelajaran agama Islam untuk peringkat permulaan tetapi sampai pada tingkat kesarjanaan. Peluang ini menjadi sebuah kesempatan untuk mewujudkan pusat kajian Islam yang berbasis pesantren. Tidak sebatas lagi pada hanya pemahaman tetapi akan mencapai kemampuan analisis dan juga pakar dengan keilmuan yang khas dengan tidak meninggalkan nilai-nilai keislaman sebagai basis keilmuan.

Jikalau pesantren selama ini hanya mengelola pendidikan dasar dan menengah. Maka, sekarang kita bisa saksikan pesantren juga mulai mapan dalam pendidikan tinggi. Bahkan beberapa perguruan tinggi keagamaan Islam mulai melengkapi sarana pembelajaran dengan ma’had yang terintegrasi dengan pembelajaran perguruan tinggi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mewajibkan mahasiswanya untuk mukim di ma’had selama satu tahun. Sementara beberapa perguruan tinggi baru menyediakan ma’had untuk jumlah terbatas dari keseluruhan mahasiswa baru.

Sejatinya, pesantren adalah lembaga yang tumbuh dari rahim tanah air kita. Bahkan sebelum kata Indonesia sendiri diproklamirkan. Pesantren bahkan sudah wujud jauh sebelum itu. Pesantren Sidogiri, Gontor, Prenduan, dan Paiton, semuanya terlembaga sebelum Indonesia merdeka. Mereka berkontribusi dalam pendirian Indonesia dan juga menjaganya sehingga kini.

Dalam pengembangan pesantren sepenuhnya berdiri dengan pilar kemandirian. Gontor yang menjadi simbol nama Kulliyah Muallimin Indonesia (KMI) karena bertempat di Gontor, Jawa Timur. Sekarang ini sudah memiliki cabang sampai ke Kendari di Indonesia Timur dan di Aceh, untuk Indonesia Barat. Tidak terhitung dengan pondok alumni, dimana lembaga yang didirikan alumni Gontor.

Pengembangan lembaga pendidikan islam yang diprakarsai alumni Gontor, salah satunya ada di Sorong, Papua Barat. Pengembangan cabang-cabang Gontor merupakan wakaf dari umat Islam dengan dimotori oleh alumni-alumni Gontor. Demikian pula pesantren Darunnajah yang bermarkas pusat di Jakarta sudah mengembangkan cabang-cabang di seentaro pulau Jawa.

Sementara Hidayatullah, organisasi masyarakat yang berpusat di Balikpapan, Kalimantan Timur juga sudah mendirikan sekolah tinggi ilmu agama Islam dan sekolah tinggi ilmu ekonomi. Kedua perguruan tinggi tersebut sepenuhnya menyediakan sarana pendidikan terutama bagi anak-anak yatim. Sehingga mereka tetap memiliki kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan sarjana walau tidak lagi mendapatkan dukungan dari orang tua.

Pendidikan menjadi salah satu sarana bagi mengembangkan kapasitas umat Islam. Dengan ketersediaan pendidikan tinggi, maka prakarsa ini menjadi perluasan kesempatan bagi umat Islam untuk menempuh pendidikan tinggi. Beberapa diantara lembaga tersebut, bahkan mengelola pendidikan pasca sarjana. Dengan penyediaan lembaga pendidikan tinggi, pesantren sepenuhnya berkhidmat bagi kemajuan umat. Pesantren menyediakan sarana belajar yang lengkap, mulai dari pendidikan dasar sampai pada pendidikan tinggi. Dinamika pesantren (Mastuhu, 1994) menggambarkan betapa pesantren hidup dengan nilai dan tradisi yang mereka pelihara sendiri. Mereka secara otonom dan mandiri melakukan pengembangan dan senantiasa berkontribusi bagi pengembangan pendidikan umat Islam. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top