Home » Kegiatan » Susur Goa » 263 views

Susur Goa

Rubrik Kegiatan Oleh

Oleh: Asmuni Marzuki
(Pengurus AGUPENA DKI Jakarta)

Waktu menunjukkan pukul 07.00.

Satu persatu truk Tronton milik TNI Angkatan Daratpun mulai berdatangan ke School Of Universe. Seluruh peserta berbaris sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan. Kegiatan Caving ini diikuti oleh seluruh siswa Sekolah Menengah (SM) School of Universe -waktu itu siswanya hanya 30 orang- dan yang menjadi panitia adalah guru-guru SM termasuk aku. Aku bertugas sebagai Pendamping Anak Kelompok (PAK).

***

“Srijaya Salim, Damas, Nadhira, Reza, Essenza, Malik…” pak Syafir, kordinator Outbound memanggil nama-nama siswa peserta Caving sambil memegang presensi dengan tangan kirinya dan micropon di tangan kanannya sebagai standar cheking peserta.

Proses checking selesai, perjalananpun dimulai. Perlahan truk mulai bergerak meneluri jalan raya Parung, canda dan gelak tawa di antara siswa  mengalahkan kebisingan jalan raya. Cerita tentang sekolah, film yang keren, serta bernyanyi bersama diselingi nikmatnya panganan ringan yang ada menemani perjalanan menuju Sukabumi.

***

Panas matahari mulai terasa masuk ke dalam truk melalui sela-sela jendela truk. Tidak sedikit yang mulai mengipas-ngipas tangannya karena kegerahan.

Waktu menunjukkan jam 13.00.

”Turun! Turun! Makan! Makan!” suara Pak Iman terdengar dari truk yang berada di depan truk yang kutumpangi.

Suara teriakan seorang panitia menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi.

”Akhirnya….” gumamku sambil memegang perut yang mulai terasa lapar.

Kubangunkan siswa yang masih tidur di atas tas yang bermuatan penuh sehingga terasa empuk bagaikan kasur di rumah. Satu persatu berloncatan dari truk menuju warung makan dan langsung menduduki tikar yang sudah disiapkan.

Aroma daging kambing muda yang sedang dibakar sudah mulai tercium. Minuman teh hangat mulai dikeluarkan.

Seteguk air menghilangkan dahaga dan membuat senyum semakin merekah. Ada yang memesan es kelapa muda. Ada yang memesan kopi untuk menghilangkan rasa kantuk. Ada juga yang cukup dengan teh hangat yang sudah disediakan pelayan warung.

”Nasi dataaaang!….” kata pelayan warung.

Nasi bakul disusul beberapa porsi sate pun tersaji. Tanpa menunggu lama, sepiring sate disambar oleh tangan-tangan gesit dan langsung habis dalam hitungan detik. Seakan-akan sedang ada perlombaan makan.

Porsi demi porsi sate kambing muda susul-menyusul menggantikan piring yang kosong. Begitu seterusnya sampai semua merasa kenyang. Tusukan sate bertumpuk disebuah wadah yang hampir penuh.

Usai makan dan minum siswa dan guru beristirahat sejenak, sambil ngobrol-ngobrol ngalor-ngidul kemudian melanjutkan perjalanan kembali.

Hanya dalam waktu yang tidak begitu lama truk kembali berhenti tanda perjalanan sudah sampai ke tempat tujuan yaitu Goa Buniayu.

Goa Buniayu terletak di kecamatan Nyalindung, kurang lebih 25 km dari kota Sukabumi. Wana wisata Goa Buniayu semula dikenal sebagai goa Cipicung oleh masyarakat setempat sesuai dengan nama kampung didekatnya. Beberapa penelusur biasa menyebutnya Goa Siluman, Sedangkan Perum perhutani sendiri selaku pengelola telah menetapkan nama goa Buniayu. Penelusuran dan pemetaan Goa Buniayu dilakukan untuk pertama kali pada tahun 1982 oleh seorang speleogiwan Indonesia-Dr.R.K.T Kho, bersama beberapa penelusur berkebangsaan Perancis anggota Federasi De Speleleologie (FFS) yaitu: George Robert, Arnoult Seveau, Michael Chassier. Panjang Goa Siluman atau goa Cipicung 3300 meter.

Goa Buniayu dengan sejuta keunikan dan pesonanya sebenarnya baru ditemukan oleh Slim. Penduduk Jakarta yang kini menjadi warga Buniayu. Penemuannya ini tidak sengaja, atau lebih yakinnya Slim ingin membuktikan keterangan warga desa itu yang menyebutkan bahwa goa itu angker. Tapi setelah ditelusuri ternyata goa itu menyimpan sejuta pesona yang layak dijual sebagai komoditi pariwisata, yang kemudian dikelola oleh perum Perhutani sejak tahun 1991.

Menurut cerita dari mulut ke mulut penduduk di sana, Goa Buniayu yang dulunya dikenal sebagai goa Siluman dinyatakan sebagai tempat angker. Sebab menurut mereka, goa itu sesuai namanya adalah tempat segala jenis makhluk jadi-jadian alias siluman. Maka penduduk tak berani mendekati goa itu. Yang berani pasti malamnya bermimpi mengerikan atau sakit. Namun demikian Perum Perhutani menganggap bahwa goa siluman ini sebagai aset wisata daerah yang harus dikembangkan.

Waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB.

Suara bising binatang yang hanya muncul  di waktu sore terdengar bersahut-sahutan. Hawa dingin cukup terasa menusuk tulang. Cahaya matahari terlihat redup terhalang dengan pepohonan sekitar. Kantor pengelola sudah tampak. Salah satu panitia memberikan konfirmasi kehadiran dan membayar tiket masuk wisata.

”Alhamdulillah! kita sudah sampai ke lokasi, Mari kita dirikan Sholat Dzuhur dan Ashar secara berjamaah dengan cara jama’ ta’khir di mushola. Setelah itu itu masing-masing kelompok mendirikan tenda untuk tempat berteduh kita” Ujar pak Cahya memberikan intruksi kepada peserta Caving.

***

Priiit….priiit….priiit.

Suara pluit Pak Cahya terdengar menandakan semua peserta berkumpul.

”Sebelum ke goa siluman,  kita akan menelusuri goa wisata. Semuanya menuju pos pemandu,” perintah pak Cahya

Kami diajak pemandu menuju goa wisata yang tidak begitu jauh dari lokasi perkemahan. Kutelusuri jalan setapak yang menurun sampai akhirnya kami melihat lubang besar nan gelap. Pemandu menyorot dengan lampu yang cukup menerangi sekitar mulut goa, kemudian bercerita tentang proses pembentukkan goa, penemuan goa,  serta menjelaskan perbedaan stalaktit dan stalagmit.

Stalaktit adalah jenis speleothem (mineral sekunder) yang menggantung dari langit-langit goa kapur. Ia termasuk dalam jenis batu tetes (bahasa Inggris: dripstone). Tingkat pertumbuhan rata-rata stalaktit adalah 0,13 mm (0,005 inci) setahun. Sedangkan stalakmit merupakan pasangan dari stalaktit, yang tumbuh di lantai goa karena hasil tetesan air dari atas langit-langit goa, usianya ratusan tahun bahkan ada yang sampai ribuan tahun oleh karena itu mari kita jaga dan lestarikan alam ini”.

Kupandangi stalaktit dan stalakmit sambil membayangkan proses pembentukan stalaktit dan stalakmit ribuan tahun lalu.

Subhanallah! Dia menciptakan alam ini dengan proses”kubergumam sambil mengingat firman Allah ”kun fa yakuun” jadi maka jadilah.

Goa ini memang biasa dikunjungi para wisatawan. Selain murah, goa ini mudah dijangkau oleh orang awam sekalipun tanpa pengaman, cukup dengan senter saja.

***

Pukul 19.30 WIB.

Semua peserta menuju ke  peralatan perhutani,  satu persatu mengambil dan memakai wear pack  berwarna oranye dan helm yang berisi lampu, berbahan bakar karbit supaya tahu kondisi oskigen di dalam goa.  Pemandu membawa kami menelusuri jalan setapak diantara pepohonan dan alang-alang yang rimbun nan sunyi, gelapnya malam dapat diterangi dengan lampu yang berada di helm kami. Tampak dari jauh pemandu lain sudah menunggu, tampak pula lubang menganga berdiameter 2×3 meter seperti sumur besar, itulah mulut goa Buni ayu atau goa Siluman.

Aku dan seluruh peserta caving berkumpul di sekitar mulut goa mendengarkan informasi dari pemandu.

”Pintu masuk goa Siluman berbentuk vertikal, dengan kedalaman sekitar 30 meter, jadi nanti temen-temen akan kami turunkan satu persatu dengan tambang. Panjang goa ini sekitar 2,5 kilometer, jalannya cukup terjal, ada yang berair dan ada juga yang berlumpur. Lama perjalanan kira-kira 3-4 jam. Kami para pemandu siap membantu kalian, termasuk panitia yang sudah disiapkan sekolah” kata kordinator pemandu menjelaskan kondisi goa dan sejarahnya.

”Baik! sebelum menyusuri goa, mari kita berdoa semoga kita selamat, silahkan berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai!” pemandu mengajak berdoa.

Semua peserta caving akan pakai harness, tali yang sudah dirancang sedemikian rupa untuk kegiatan outboound seperti flaying fox atau rapplleing. Bentuknya seperti celana. Kemudian diikatkan seutas tali dan diturunkan  dengan cara diulur kedalam goa. Satu persatu diturunkan ke dalam goa.

Kini giliranku tiba. Usai memakai harness, aku diturunkan setelah ada aba-aba dari pemandu. Awalnya jantungku berdegub kencang, tapi semakin dalam diturunkan semakin besar ruang goa dan semakin dingin hawa yang kurasakan, sehingga aku bisa menikmati senansi dalam goa. Sambil menunggu peserta diturunkan, aku duduk di atas batu sambil melihat kanan kiri, takjub dengan ciptaan Allah SWT, sebuah mahakarya yang luar biasa, diciptakan dengan proses alamiah. Setelah semua peserta dan panitia diturunkan, perjalanan menelusuri goa dimulai. Setiap enam peserta didampingi seorang pemandu dan dua orang panitia termasuk aku dan pak Sumardi mendampingi enam orang siswa. Dalam perjalanan pemandu menjelaskan beberapa hal terkait dengan goa, mulai dari penjelasan  tentang macam hewan yang hidup dalam goa siluman sampai dengan keunikannya.

Seorang pemandu menujukkan Stalaktit dan stalakmit berbentuk ornamen yang berusia jutaan tahun. Ada yang berbentuk menyerupai gigi, atau sirip ikan. Kelompokku juga ditunjukkan air terjun sungai bawah tanah, dan lorong vertikal 30 meter.

“Temen-temen, silahkan matikan lampu yang ada di helm kalian semua” pinta pemandu di kelompokku.

Slep!

Lampuku mati usai kuputar pemantiknya. Begitu juga dengan siswa yang berada di kelompokku. Semua lampu mati.

Gelap gulita.

Hitam pekat.

Tidak ada cahaya sedikit pun.

Mataku tidak bisa melihat sama sekali bahkan telapak tangan yang kutaruh di depan wajahku  pun tidak terlihat sedikitpun.

”Inilah yang disebut dengan gelap abadi” kata pemandu.

”Tidak ada seberkas cahaya pun yang masuk ke lokasi ini “lanjutnya.

”Subhanallah! di kegelapan abadi goa ini aja kita merasa pengap padahal hanya sebentar, bagaimana dengan kegelapan abadi alam kubur?!” gumamku.

”Sebenarnya goa Siluman memiliki bermacam-macam zona, seperti zona terang, zona senja dan zona gelap abadi. Karena kita menyusuri goa di malam hari jadi semua zona menjadi gelap abadi” lanjut pemandu tentang macam-zona dalam goa.

”Hewan-hewan yang hidup di sini semuanya buta,” pemandu melanjutkan penjelasannya.

”Meski goa ini gelap tapi di dalam kegelapan goa ada kehidupan, ada jangkrik, ikan,  lintah dan lain-lain. Hanya ada perbedaan unik antara binatang yang hidup dengan cahaya dengan binatang yang hidup tanpa cahaya. Jangkrik punya mata tapi matanya tidak berfungsi alias buta karena di dalam goa tidak ada cahaya sedikit pun. Sebagai penganti mata Jangkrik memiliki sungut yang berbeda dari jangkrik yang ada di atas. Panjang sungutnya bisa  mencapai tiga kali lipat dari panjang badannya, sungutnya berfungsi seperti mata. Lintah juga ada di dalam goa ini, karena goa ini termasuk goa basah. Tapi selama di dalam goa tidak ada anggota kami yang tubuhnya ditempel lintah untuk menghisap darah. Binatang lainnya seperti kelelawar banyak terdapat di mulut goa atau bagian goa yang dekat dengan lingkungan luar. Karena kita susuri goa di malam hari jadi kelelawar keluar goa.  Biasanya kelelawar bergantungan di langit-langit goa” ungkapnya ketika menjelaskan tentang penghuni goa Buni ayu.

Usai penjelasan, pemandu meminta kembali semua peserta menyalakan lampu yang berada di atas kepala mereka. Kemudian perjalanan dilanjutkan.

Perjalanan menyusuri goa bukan hal yang mudah, jalannya terjal nan licin, kadang aku harus meloncati celah goa. Semua saling bahu-meAbahu, perbekalan yang ada dibawa dengan cara bergantian, menunggu teman yang kelelahan, menarik kaki teman karena terpendam dalam lumpur, dan lain-lain. Semua dilakukan dengan kerjasama dan saling memotivasi.

Setelah berjalan di lumpur, ada air mengalir seperti selokan, airnya jernih. kubersihkan sedikit demi sedikit sepatu bootku dari lumpur yang menempel. Sayangnya air yang mengalir tidak begitu lama kulalui, airnya menghilang kedalam celah.

”Ini adalah air terjun dalam goa!” kata pemandu sambil menujuk air yang masuk ke celah goa.

Dari jauh terlihat cahaya lampu yang menyala-nyala. Ternyata itu adalah kelompok lain yang sedang menunggu sambil duduk-duduk.

Kuhampiri salah satu panitia, Pak Darwin.

”Kok berhenti? kenapa pak?” tanyaku.

”Ini lagi antre naik tangga, bentar lagi sih sampai mulut goa tapi harus melalui tebing dulu, tebingnya lilcin, tangganya terbuat dari tali kayak tangga helikopter”  jawabnya

Satu persatu harus berjuang naik tebing dengan kerja keras, yang lain selalu memberikan motivasi agar kuat dan semangat melawati tangga tersebut. Tidak jauh dari tangga yang kami naiki terlihat cahaya rembulan yang masuk ke dalam goa siluman.

”Alhamdulillah dah di mulut goa lagi” gumamku, bersyukur atas keberhasilan menyusuri goa dan mendapat banyak pelajaran.

Perjalanan yang mengasyikkan dan penuh tantangan. Banyak hal yang dapat kami dapatkan, di antaranya:  kebersamaan dengan teman, keunikan hewan goa dan kemahakuasaaan Allah SWT dalam ciptaan-Nya.  ***

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Kegiatan

Go to Top