Home » Esai » Sastra » NASIB SASTRA KITA » 272 views

NASIB SASTRA KITA

Rubrik Esai/Sastra Oleh

NASIB SASTRA KITA
Oleh: Cut Januarita *)

Menyikapi opini Saudara Mustafa Ismail dan Herman RN yang dimuat Serambi Indonesia dalam dua minggu ini, izinkan saya mengancungkan jempol buat mereka berdua. Walau belum pernah bertemu mereka, bagi saya tulisannya mampu memperkaya wawasan para sastrawan Aceh. Keduanya mampu menarik kesimpulan dari sudut pandang yang berbeda. Banyak perbedaaan pendapat, ada pula kesamaan cetusan pikiran. Akibatnya, timbul pendapat berbeda di kalangan para sastrawan di Aceh.

Tulisan tersebut mengarah pada polemik munculnya istilah penulis senior dan penulis junior. Di sini saya bukan mencoba membuka kartu mana yang mendukung blok Mustafa dan blok Herman. Tapi, gunjingan dari mulut ke mulut, menggugah hati saya untuk mencoba mengapresiasikan juga opini saya mengenai nasib karya sastra Aceh. Mengingat, akhir-akhir ini banyak bermunculan penulis pemula dan calon penulis yang lumayan berkualitas dalam membuat tulisan. Belum lagi alokasi bantuan BRR terhadap sayembara dan pembukaan sekolah menulis di Aceh, tak tanggung-tanggung dananya. Ini membuktikan pendidikan pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah formal, belum mampu sepenuhnya mencetak kader pengiat sastra.

Sastra Aceh
Sastra di Aceh tergolong unik, karena mampu menggugah para pengamat sastra di Indonesia untuk berbicara. Terus mengamati perkembangan sastrawan dan sastrawati yang tinggal di Aceh atau luar Aceh. Jika mundur beberapa langkah atau hilangnya beberapa nama dalam waktu yang tergolong lama, bisa menjadi “gosip” tersendiri bagi pengiat sastra tanah air. Aceh bisa dianggap jauh tertinggal di belakang, sering pula dibanding-bandingkan dengan sastrawan daerah lain.

Aceh dari dulu menjadi buah bibir. Sisi kepahlawanan, keberanian dan aneka ragam kesenian Aceh, sangat diminati oleh pecinta seni dalam dan luar negeri. Apalagi pascatsunami, Aceh menjadi salah satu perhatian dunia. Sering diamati, dibicarakan dan ditelusuri sejarahnya dalam bingkai menuju kesempurnaan. Maka, bisa jadi ada sastrawan senior melihat keberhasilan sastra di Aceh itu jika telah menembus banyak media nasional, baik koran atau majalah. Apalagi tolak-ukurnya bisa jadi dari buku-buku yang diperjualbelikan di toko buku Pulau Jawa. Bila mampu menembus toko buku Gramedia saja, itu sudah dianggap luar biasa.

Penulis dan buku
Ada juga sastrawan yang menganggap para penulis yang berhasil adalah yang sudah membuat banyak buku. Ya, menjadi penulis lebih identik dengan buku. Jika kita atau orang lain itu ketahuan sebagai penulis, lebih banyak yang mengeluarkan pertanyaan berapa buku yang telah kita keluarkan. Jarang yang menanyakan tulisan-tulisan di media. Maka penulis yang hanya berkiprah di buku, belum tentu bisa dijadikan patokan betapa hebatnya dia. Banyak juga para sastrawan Aceh yang masih menulis di selebaran-selebaran koran dan majalah yang tidak ada tindak lanjut karyanya “diamankan” dalam bentuk buku. Bisa jadi selama ini para penulis yang dapat dikatakan mengharumkan dan membesarkan nama lembaga kepenulisannya, kurang sekali diapresiasikan namanya dalam pengenalan identitas penulis. Padahal, banyak juga pengiat seni yang bukan hanya bermain di sastra popular, tapi ada juga sastra serius. Atau bisa jadi karena peraturan dari media massa itu sendiri tanpa mau mencantumkan “embel-embel” kekuatan nama lembaga yang mengawali karir penulisnya. Dapat juga faktor dari dalam diri penulis yang tak ingin terlalu menonjolkan identitas lengkapnya. Jadi wajar para pembaca tidak tahu penulis yang bersangkutan berasal dari komunitas mana. Sehingga menerka-nerka penulis media ada yang berdiri sendiri.

Bagaimanapun juga, ada kebanggaan ketika jenis tulisan kita bisa menembus segala ruang dan waktu. Menjadi inspirasi membuka cakrawala kebaikan.Walau terkadang harapan itu harus disimpan rapi agar menulis tidak bercampur dengan sifat ria. Meminjam istilah salah seorang teman saya yang mengatakan bahwa ria dapat menghapuskan amal bak pasir di atas batu licin yang tertiup angin. Sehingga jauh di jaman dulu, Rasul pernah berkata: ”Umatku di akhir jaman seperti buih di lautan. Banyak jumlahnya tapi tidak bermanfaat.”

Menembus Jawara
Jadi, menembus media nasional untuk berkompetisi secara sehat dengan penulis-penulis daerah lain, merupakan ajang terhormat untuk mengasah kemampuan diri. Dapat menumbuhkan kepekaan diri bahwa sastrawan Aceh harus melakukan banyak pergaulan di luar Aceh. Mampukah suatu lembaga di luar Aceh memberikan atensi yang serius bagi penulis-penulis daerah? Belum tentu! Banyak sayembara-sayembara yang diadakan suatu lembaga profesional, ternyata sejalan dengan datangnya waktu harus menghadapi berbagai persoalan.

Contoh kasus, lomba menulis cerpen islami yang diadakan rubrik el-ka majalah Sabili, terkatung-katung hadiahnya. Uang dan piala, sampai kini belum ditransfer bagi para pemenang. Padahal pengumuman lomba sudah sejak tanggal 5 Oktober 2006. Salah satunya ada penulis Aceh, Alfi Rahman yang menjadi juara dua belum menerima konfirmasi dari majalah tersebut. Duh nasib penulis sayembara.

Gosip yang lebih seru lagi ada dalam 2 bulan ini. Lomba cerpen Creative Writing Institute (CWI) untuk ke sekian kalinya yang dibiayai Menpora, ternyata baru lengkap tanggal 18 Januari 2007 nama-nama juara diberitakan milis. Padahal janji semula clear- nya tanggal 7 Desember 2006. Jelas, kemarin-kemarin para penulis daerah uring-uringan menanti pengumuman apakah dirinya layak masuk 27 finalis. Soalnya, juara 1, 2 dan 3 sudah lama diumumkan terlebih dahulu di surat khabar terkemuka di Jawa. Saya tidak tahu, apakah kelalaian ini bersifat “sesaat”. Karena CWI ini banyak peminatnya. Sudah mampu mengantarkan Azhari dari Tikar Pandan dan Zahra Fonna dari FLP pada CWI pertama untuk diterbangkan ke Jakarta.

Nah, bagaimana dengan nasib Alimuddin dari FLP tahun ini? Kemenangannya sebagai juara ke-5 CWI tahun 2006, tak seindah yang dibayangkan. Gosip yang beredar, semua jawara tidak diikutsertakan mengikuti workshop kepenulisan di Jakarta. Padahal, Alimuddin, CWI merupakan sayembara nasional bagi kemenangannya pertama kali.

Bagusnya bagi siapa saja yang menyelenggarakan sayembara, panitianya harus jujur dan transparan. Jika tak menyanggupi pemberian hadiah, jangan menjanjikan hal-hal yang tak bisa terpenuhi. Atau sekurang-kurangnya adanya permintaan maaf di media karena janji tak terealisasi.

Di Aceh sendiri, kasus lain pernah terjadi pada April 2006. Suami saya menjadi salah satu pemenang dari 10 pemenang pada lomba penulisan buku cerita anak berlatar norma dan budaya Aceh. Kerja sama Satker BRR-Revitalisasi dan Pengembangan Kebudayaan NAD. Di iklan Serambi Indonesia, BRR menjanjikan para pemenang memperoleh uang 5 juta perjiwa. Namun, realisasi di lapangan pemenang hanya terima 4 juta rupiah. Jika harus dipotong pajak, seharusnya sudah ada konteks kalimat pada iklan bahwa hadiah akan disunat. Jadi jangan membuat pemenang menduga-duga saat menerima hadiah.

Perkembangan sastra di Aceh terus bergulat. Seharusnya pemerintah mengambil peran maksimal untuk mewujudkannya. Membuka peluang yang lebih banyak bagi kader penulis Aceh untuk mengambil peran menuju perubahan positif. Terutama surat-surat khabar di Aceh, tak ada ruginya semuanya membuka rubrik budaya. Majalah Aceh Magazine saja sudah ada ruang cerpen. Mengapa Serambi Indonesia tidak segera mendengar aspirasi penulis pascatsunami? Saya jadi teringat, tahun lalu saya mencoba mengikuti kuis ulang tahun Serambi Indonesia. Niat saya bukan untuk dapat hadiah. Tetapi mencoba mengisi aspirasi di berbagai blok pertanyaan. Dan saya menginginkan dibukanya kembali rubrik sastra di hari minggu.

*) Penulis adalah Penggiat Sastra dan Guru MAN Model Kota Banda Aceh

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Esai

Go to Top