Variasi  Metode Pembelajaran dan Mengenali Gaya Belajar Siswa

Rubrik Kegiatan/Pendidikan Oleh

Oleh: Fortin Sri Haryani

Fortin Sri Haryani

Ada yang menarik di pembelajaran hari ini, ketika saya mengajak siswa untuk belajar di luar kelas. Salah satu siswa bernama Bimo, mengatakan: “Bu, saya lebih paham kalau belajar di luar seperti ini daripada di dalam kelas …”

“Kenapa …” tanyaku, sambil tersenyum Bimo menjawab: “Yang kita pelajari bisa dilihat dan dipegang ..”

Selama pembelajaran di luar kelas, Bimo   yang paling aktif, meskipun ketika di kelas tidak hanya di pelajaran Biologi, di pelajaran lainnya pun Bimo  sulit untuk duduk manis dan menyimak apa yang disampaikan oleh guru. Karena memang gaya belajarnya  kinestetis.

Silakan teman-teman guru cermati siswa di kelasnya, ada berapa Bimo di dalam kelas.

Dari situ saya menyimpulkan bahwa menghadirkan sesuatu yang konkret dibutuhkan dalam proses pembelajaran.

Siswa melakukan praktikum

Kemampuan berfikir abstrak cenderung dimiliki oleh siswa yang memiliki tingkat inteligensi yang tinggi, namun perhatikanlah bahwa dalam satu kelas jumlah mereka adalah pencilan, yang artinya bila cara mengajar kita hanya dengan ceramah, maka sejumlah itu pulalah yang akan paham dengan baik.

Salah satu konsep berfikir dalam Kurikulum-13 saat ini adalah guru mampu mengembangkan SK KD ke tingkat HOTS (High Order Thinking Skill), yaitu kemampuan berfikir tingkat tinggi. Dengan tujuan melatih siswa memiliki daya nalar yang baik.

Menanam lily paris

Namun, tentunya untuk menuju ke puncak HOTS diperlukan beberapa anak tangga untuk ditapaki. Keberhasilan siswa dalam menapaki anak tangga sangat bergantung kepada kepiawaian kita ketika mengajar. Menjembatani C1 menuju HOTS bisa dikatakan sebagai golden periode, karena di periode itulah yang akan menentukan apakah siswa dapat memahami suatu materi dengan baik.

Paham materi memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan dengan sekedar menghafal. Proses memahami melibatkan siswa untuk berpikir dan membangun pengetahuannya dan hal itu (baca : berfikir dan membangun pengatahuan)  akan sulit tercapai bila guru hanya sekedar mentransfer ilmu ketika mengajar. Membangun disini juga bermakna bahwa kita memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari tahu sendiri apa yang mereka ingin tahu atau biasa disebut dengan inquiry. Ketika siswa menemukan jawaban sendiri atas pertanyaan yang mereka miliki, bukan hanya kepuasan yang didapat, pemahaman dan penguasaan terhadap materi pun akan lebih baik, siswa juga akan lebih percaya diri.

Out door activity – Belajar Mencangkok

Selain metode mengajar, mengenali gaya belajar siswa akan membantu kita untuk menentukan metode mengajar yang tepat untuk siswa. Sehingga pencapaian tujuan pembelajaran akan lebih efektif.

Salah satu upaya untuk memudahkan mengenali tipe belajar siswa adalah dengan membuat data profil siswa (student profile) di awal pertemuan.

Melalui data profil berupa kuosioner yang diisi oleh siswa, guru memiliki gambaran metode yang akan digunakan dalam mengajar, dengan berorientasi pada kebutuhan siswa.

Melalui data profil kita akan mengetahui gaya belajar siswa, apakah audio, visual, audio-visual, atau kinestetis. Sehingga target individual akan lebih mudah untuk dipenuhi. Gaya belajar visual bisa dilakukan dengan menggunakan multi media, audio dengan story telling, kinestetis dengan unjuk kerja atau praktikum.

Seperti yang saya lakukan ketika mensurvey gaya belajar pada siswa kelas 10 SMA Fajar Hidayah. Melalui quosioner yang saya bagikan, ternyata sebagian besar siswa memiliki gaya belajar visual. Meskipun mayoritas siswa bergaya visual tidak serta merta metode terfokus pada visual saja, gaya belajar lainnya harus tetap terfasilitasi sehingga individual need akan terpenuhi.

Wacana menteri pendidikan Prof. Muhadjir Effendy untuk menambah jam di sekolah tentunya menjadi tantangan bagi kita agar mendesain kegiatan yang membuat siswa betah di sekolah. Salah satunya adalah dengan mengajar sesuai dengan gaya belajar mereka.

Variasi metode mengajar tidak perlu dibuat susah, cukup melihat potensi yang dimiliki oleh sekolah dan lingkungan sekitar. Mengeksplor ketersediaan agar termanfaatkan lebih baik serta kegiatan untuk menumbuhkan kreativitas melalui brainstorming sesama guru. Salah satu variasi yang dapat kita lakukan adalah mengundang orang tua untuk mengajar di kelas.

Orang tua yang berprofesi atau memiliki keahlian tertentu juga dapat kita undang untuk berbagi ilmu sebagai guru tamu. Seperti yang kami lakukan beberapa minggu lalu di sekolah kami. Salah satu orang tua memiliki hobby menanam tanaman hidroponik. Kebetulan sekali siswa kelas 11 ingin mengetahui cara menanam tanaman hidroponik melalui pelajaran PLH. Dengan senang hati,  beliau berbagi ilmu di kelas putra tercintanya. Dan  ternyata orang tua juga merasa senang bila dilibatkan sesekali untuk mengajar di kelas.

Manfaat mengundang orang tua menjadi guru tentunya bukan hanya ilmu yang didapat, namun juga membangun hubungan yang baik dengan orang tua. Karena, seperti di Finlandia – sebagai negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia saat ini, salah satu kunci kesuksesan mereka adalah dengan melibatkan masyarakat dan orang tua untuk bersama-sama peduli pendidikan. Membentuk learning society yang menyadari sepenuhnya bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama.  Bila hal ini terbangun di negeri kita, tentunya akan menjadi loncatan besar bagi kemajuan pendidikan bangsa.***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Kegiatan

Go to Top