Home » Opini » Black or White » 271 views

Black or White

Rubrik Opini Oleh

Oleh: La Ode Mu’jizat
(Agupena Kota Baubau)

Ia mengambil pisang yang dilemparkan oleh seorang sporter lawan kepadanya. Dan tanpa merasa terhina sedikitpun, pria berkulit hitam itu lalu mengupas kulit buah dan memakannya.

Sambil mengunyah buah berwarna kuning tersebut, salah satu bek kanan terbaik dunia itu kemudian melakukan sepak pojok untuk timnya. Terus melanjutkan pertandingan, tak peduli teriakan bernada ejekan yang dilontarkan untuknya.

Lelaki yang dilempari pisang itu bernama Dani Alves, lahir Juazeiro, Brasil, 6 Mei 1983. Ia adalah pesepakbola club Catalan Barcelona, sekaligus punggawa timnas Brazil. Buah yang “dihadiahkan” padanya pada 2013 lalu itu adalah simbol pelecehan rasial terhadap pemain bola berkulit hitam di La Liga Spanyol. Terjadi kala Barcelona melakoni laga tandang di markas Villareal.

Alves sesungguhnya tidak sendiri diperlakukan seperti itu. Dan bukan hanya di negeri Matador peristiwa serupa terjadi. Di beberapa liga sepakbola daratan Eropa lainnya, hal yang sama kerap dialami oleh pesepakbola dengan kulit berwarna.

Mengapa begitu? Sebab masih ada orang Eropa yang menganggap bahwa kulit putih yang mereka miliki adalah puncak dari evolusi, sedangkan orang yang berkulit selain putih berada pada tangga evolusi rendah. Orang berkulit hitam dianggap berada satu tingkat di atas monyet. Itulah mengapa Dani Alves dilempari pisang, buah kesukaan monyet.

Soal rasisme memang masih menjadi sesuatu yang melukai kemanusiaan sampai saat ini. Dan sungguh aneh menurutku, sebab Barat yang dianggap menjunjung tinggi HAM, justru perlakuan rasis masih banyak terjadi di sana.

Gerah terhadap masalah ini, pada tahun 1990-an, Michael Jackson, pernah menulis sebuah lagu yang berjudul ‘Black or White’ (tidak masalah apakah anda berkulit hitam atau putih). Sebagai kritik atas perilaku rasisme.

Oh iya, Ternyata soal rasis tidak hanya terjadi di dunia nyata. Tapi juga ada di negeri dongeng. Hehehe. Beberapa hari yang lalu, Saya menonton kisah dongeng ‘Pada Zaman Dahulu’ di sebuah stasiun televisi. Kisah tentang burung gagak dan Bangau. Soal hitam dan putih.
Tahu nggak? Ternyata dahulu kala bulu burung gagak tidaklah berwarna hitam. Burung yang dihubung-hubungkan dengan sesuatu yang bersifat angker ini berwarna putih, lembut, halus dan mengkilap. Sebaliknya, pada zaman dahulu bulu burung bangau berwarnah hitam dan jelek.

Para penghuni rimba, termasuk Kancil sangat terpesona dan mengagumi keindahan Sang gagak. Dan mereka lalu menganugerahinya gelar sebagai burung tercantik di alam raya. Putih dianggap perlambang kecantikan.

Bangau yang memiliki bulu berwarna hitam diam-diam ingin seperti gagak. Punya bulu berwarna putih, cantik dan mengkilap.

Singkat cerita sang gagak memberitahukan rahasianya pada Bangau. Dan memberikan semua ramuan kecantikan pada burung berkaki panjang itu. Tak lupa ia memberi petunjuk bahwa semua bahan ramuan itu tak boleh dicampur bersamaan.

Burung penyuka ikan itupun sangat senang. Setibanya di sarang, ia lalu mencoba ramuan tersebut dan seketika bulunya berubah menjadi putih, lembut dan mengkilap. Amat girang si bangau kala itu. Bulunya yang hitam kini berubah menjadi putih.

Ia lalu mengekspresikan kegembiraannya ke hadapan monyet yang terheran-heran dengan perubahan bulu bangau. Tapi Sang monyet tetap menganggap bahwa Gagaklah burung tercantik di seluruh rimba.

Terbakar oleh rasa iri dan dengki, Bangau lalu mencampur seluruh bahan kecantikan, suatu hal yang dilarang oleh gagak. Ia tak peduli lagi, tegoda keinginan untuk menjadi burung putih nan cantik di seantero rimba. Maka ketika dirinya melihat burung gagak, ditumpahkanlah seluruh ramuan yang telah dicampur itu ke tubuh gagak. Seketika bulu gagak berubah menjadi hitam dan jelek.

Gagak pun bersedih, sebab kini ia berubah menjadi hitam dan jelek. Tapi Kancil menghiburnya dengan mengatakan bahwa yang terpenting bukanlah memiliki bulu hitam atau putih, tapi yang paling utama adalah mempunyai kebaikan hati.

Akhirnya, jika boleh berpesan, Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan kalimat bijak: “sesungguhnya nilai kemanusiaan manusia ditentukan oleh seberapa banyak kemanfaatannya bagi sesama. Tak peduli ia hitam atau putih.” ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top