CUT NYAK DHIEN: WUJUD KEKUATAN POLITIK PEREMPUAN

Rubrik Opini Oleh

CUT NYAK DHIEN, WUJUD KEKUATAN POLITIK PEREMPUAN
(In Memorian seabad Cut Nyak Dhien)

Oleh : Cut Januarita

Keberaniannya melawan penjajahan Belanda memang patut diacungkan jempol. Abad-18 kebudayaan dan teknologi Indonesia masih di level minus, lalu muncul sosok perempuan Aceh yang berani menentang bahkan melawan perang kepada Belanda yang telah memiliki teknologi dan peradaban hanya dengan sebilah rencong. Dialah perempuan yang bernama Cut Nyak Dhien, bukan hanya wujud heroik perempuan Aceh  tetapi juga merupakan wujud kekuatan perempuan yang dapat dijadikan cerminan sepanjang lintas sejarah. Mengapa? terlepas beliau sebagai anak bangsawan, terbukti bahwa sebagai perempuan, berhasil memimpin, menggerakkan bangsa Aceh dan menggentarkan Belanda. Apakah itu tidak berarti bahwa di balik ketertinggalan peradaban dan teknologi pada abad ke-18 waktu itu, Aceh telah mengenal demokrasi dan kekuatan politik perempuan walau saat itu mereka belum mengetahui arti dan makna demokrasi dan perjuangan politik perempuan itu sendiri.

Mengapa Cut Nyak Dhien mampu menempatkan diri dalam mengambil peran terbesar memimpin perang Aceh melawan Belanda? Lalu seperti apa posisi perempuan pada masanya? Tentu saja pertanyaan ini bagian dari cerminan dan pemikiran kita untuk menilai dan membandingkan peran perempuan di jaman modern sekarang ini. Tidakkah warisan kekuatan politik perempuan yang dimainkan Cut Nyak Dhien membekas bagi perempuan saat ini? Tidakkah kemajuan teknologi yang mempercepat segalanya harusnya mampu mengantarkan perempuan mengambil peran atas nama kekuatan politik perempuan?

Dalam penelitian Dra Siti Aminah pada Pusat Studi Wanita Universitas Airlangga Surabaya menyorot bagaimana persepsi perempuan terhadap politik menyebutkan bahwa perempuan cendrung menilai politik dalam pandangan “makro” yaitu dunia politik bukan bagian dari perempuan. Kemudian perempuan mempersepsikan politik sebagai dunia yang kotor dan penuh intrik. Dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa persepsi politik perempuan cendrung lebih dipengaruhi oleh pengalaman, lingkungan serta realitas yang ada di sekitarnya, juga dipengaruhi oleh sistem yang berlaku di masyarakat.

Hasil penelitian ini kembali membawa saya pada sosok pemilik aura kekuatan politik yaitu Cut Nyak Dhien bahwa pengalaman dan lingkungan mampu membangkitkan rasa kepemimpinannya untuk mengambil porsi terbesar  yaitu memimpin perang.

Saya jadi teringat catatan sejarah bagaimana perang yang bergelanyut diatmosfir Aceh pecah ketika 1 April 1873, F.N. Nieuwenhuyzen memaklumatkan perang terhadap kesultanan Aceh. Sejak saat itu gelombang demi gelombang penyerbuan Belanda ke Aceh selalu berhasil dipukul kembali oleh laskar Aceh. Dan Cut Nyak Dhien tentu ada di sana, di tengah tebasan rencong, pekik perang dan dentuman meriam. Bahkan mengelorakan orasi politiknya yang berteriak membakar semangat rakyat Aceh ketika Masjid Raya jatuh dan dibakar tentara Belanda.

“Lihatlah wahai orang-orang Aceh! Tempat ibadat kita dirusak! Mereka telah mencorengkan nama Allah! Sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda?”

Salah satu representasi bentuk kekuatan politik perempuan saat ini adalah partai dengan segala dinamikanya. Menteri Negera Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP) Prof. DR. Meutia Hatta Swasono menilai porsi politik 30 persen bagi wanita di legislatif belum banyak dimanfaatkan, karena adanya kendala yang berasal dari dalam diri kaum perempuan sendiri, karena mereka takut untuk terjun ke dunia politik. Kendala lainnya adalah, kalaupun perempuan sudah terjun ke bidang politik, biasanya mereka diremehkan dan dilecehkan oleh kaum pria, padahal kemampuan kaum perempuan juga dapat diandalkan. Kekuatan untuk tidak terpengaruh pada upaya meremehkan kemampuan perempuan ternyata juga rendah dimiliki oleh perempuan itu sendiri.

Keterwakilan politik perempuan, kembali ramai dibicarakan menjelang diumumkannya calon anggota dewan sementara versi KIP. Namun, kenyataannya banyak dari kekuatan politik atas nama partai tidak mampu memenuhi quota 30% keterwakilan perempuan. Semuanya beralasan sulit mendapatkan caleg perempuan yang berkualitas. Benarkah demikian?

Menyangkut paradigma di atas, seharusnya setiap perempuan sebenarnya memiliki kekuatan poltik untuk diberdayakan. Siapa pun yang memperhatikan bagaimana Cut Nyak Dhien menemukan kekuatan politiknya untuk memainkan peran besar dan positif dalam berbagai kesempatan. Mengarahkan hidup lebih berarti bagi diri sendiri dan orang lain.  Kembali saya teringat bahwa perang Aceh adalah cerita tentang keberanian, pengorbanan dan kecintaan terhadap tanah lahir, begitu juga Cut Nyak Dhien.  perang melawan Belanda bukan hanya milik Teuku Umar, Teuku Cek Ibrahim Lamnga  bukan juga monopoli Teuku Nanta Setia ayahnya atau para lelaki Aceh saja. Perang Aceh adalah milik semesta rakyat. Setidaknya itulah yang ditunjukannya ketika mengorganisir serangan-serangan terhadap Belanda.

Dalam sebuah evaluasi yang dilakukan dalam memperingati hari perempuan Internasional oleh CETRO ada sebuah catatan kritis terhadap komitmen dalam penegakan demokrasi dimana perempuan yang memiliki jumlah mayoritas harus berperan signifikan di dalamnya. Angka pemilih perempuan pada pemilu yang lalu diperkirakan lebih dari 57% dari seluruh pemilih, namun demikian tidak ada satu catatan yang memberikan informasi latar belakang perempuan dalam memilih. Penelitian ini mengakui jika belum mampunya perempuan terjun sebagai pemain kekuatan politik dikarenakan belum berkualitasnya perempuan dalam banyak hal. Terlepas dari banyaknya tuduhan terhadap budaya patriarki sebagai batu sandung utama yang memposisikan perempuan sebagai second class adalah tantangan untuk lebih instrospeksi ke dalam diri perempuan lebih arif untuk dilaksanakan.

Lihatlah kembali Cut Nyak Dhien bagaimana ia tidak pernah berdebat untuk memahami makna dan isu persamaan gender yang sering dihembuskan. Tetapi lebih kepada kesadaran diri akan kewajiban dalam menegakkan kebenaran. Lihatlah salah satu petuahnya dalam memimpin perang Aceh “Bergelap-gelaplah di dalam terang, berterang teranglah di dalam gelap”. Sebuah ungkapan singkat penuh makna dari perempuan yang memiliki kekuatan politik. Cut Nyak Dhien adalah inspirasi bagi siapa saja terutama perempuan bahwa yang dinamakan perjangan menegakkan kebenaran adalah milik kita semua. (***)

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,
Go to Top