Dari ‘Pesoloi’ sampai ‘Memahami Tanpa Kata’

Rubrik Opini Oleh

Oleh: La Ode Mu’jizat
(Agupena Kota Baubau)

Daangiamo bhara moumbana mosoyina lante te mopakarona rapu yi banua siy, barangkalana yi ndapo dangia, maka oanamami La… (sebut nama laki-laki) eahaejati aumbamo asoy lante tea pakaro rapu i banua siy to anamami Wa.. (sebut nama gadis yang dimaksud).”

Ungkapan di atas adalah bahasa Wolio yang berarti: “Apakah sudah ada yang pernah datang membuat lantai dan mendirikan dapur di rumah ini, jika sekiranya belum ada, maka anak kami La… (sebut nama laki-laki) akan datang membuat lantai dan mendirikan dapur di rumah ini untuk anak kami Wa… (sebut nama gadis yang dimaksud).”

Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. La Ode Munafi, dalam tulisannya yang berjudul ‘Sistem Kekerabatan dalam Kebudayaan Wolio’, kata-kata tersebut diucapkan oleh seorang tolowea (sesepuh adat) ketika menyampaikan hasrat keluarga laki-laki untuk melamar pada keluarga perempuan, sekaligus untuk mengetahui status sang gadis, apakah yang bersangkutan sudah ada yang melamar atau belum.

Dalam adat Wolio, hal tersebut dinamakan Pesoloi, yang berarti “upacara pembuka jalan”. Dan Pesoloi ini, yang lalu dilanjutkan dengan ‘bhawana katindana oda’, ‘tauraka’, dan ‘kawia’ adalah rangkaian dari salah satu tatacara perkawinan yang disebut dengan ‘Pobhaisa’.

Oh iya, dan jika hasrat untuk meminang diterima, maka pihak perempuan akan menjawab: “tatarimamea yitu oanamami La… (sebut nama laki-laki) eaumba asoy lante tea pakaro rapu i banua siy to anamami Wa… (sebut nama perempuan)”

Artinya: “kami telah menerima anak kami La… (sebut nama laki-laki) untuk datang membuat lantai dan mendirikan dapur di rumah ini untuk anak kami Wa… (sebut nama perempuan)”

Sesudah dijawab, maka akan lanjut pada proses berikutnya, hingga akhirnya ke pelaminan.

Berbicara tentang pernikahan, saat seseorang memutuskan untuk berkeluarga, maka yang biasa terbayang dalam benaknya adalah terwujudnya keluarga yang Sakinah.

Tapi apakah yang dimaksud dengan Sakinah? Kata ‘Sakinah’ atau “Litaskunu ilaihaa”, sebagaimana termaktub dalam surah Ar Ruum ayat 21, menurut imam Ath-Thabari, terdiri atas 4 (empat) makna, yaitu: Litasta’iffu bihaa, Lita’tafuu Ma’ahaa, Litamiluu Ilaihaa, dan Litathmainnu bihaa.

Tapi pada tulisan singkat ini kita arahkan mata kita pada “Litamiluu ilaihaa” saja ya. Sebab Saya sangat tertarik dengan istilah tersebut dan punya cerita nyata tentangnya di Kota Baubau.

Begini ceritanya. Usai sholat Maghrib, Seorang Suami tak lantas beranjak pulang ke rumah. Ia malah menuju ke sebuah pasar buah yang terletak di depan lapangan lembah hijau. Sekantong apel hijau yang lalu dibelinya, ingin dijadikan kejutan buat belahan jiwanya di rumah. Ya, sang istri adalah penyuka Apel hijau.

Setiba di rumah, usai mengucap salam, sambil memperlihatkan sekantung apel, sang Suami lantas berucap: “Kejutan…!!!”

“Alhamdulillah… untung tadi Saya sms, kalau tidak, dikau pasti tak akan membeli apel untukku.” Jawab sang Istri.

“Sms?”, Suami bingung. “Dari tadi sore Saya mematikan Hp. Sampai sekarang belum dinyalakan. Dan Saya pasti matikan hp kalo sedang Sholat. Tuh lihat.” Suami memperlihatkan hpnya yang “tak bernyawa”.

“So sweet, kok kita bisa sehati ya.” Kata Si istri sambil tersenyum.

Ehm… cerita di atas adalah contoh “Litamiluu ilaihaa”. Kalimat ini bermakna agar setiap suami/istri cenderung dalam hati dan akal kepada pasangannya. Agar merasa dan berpikir dengan apa yang dirasa dan dipikir oleh pasangan.

Atau kata Ust Salim A Fillah dalam Lapis-lapis keberkahan: “…. saling mengerti meski tanpa bicara, dan saling memahami walau tanpa kata.” ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top