FENOMENA FILM DAN  NOVEL AAC

Rubrik Esai/Sastra Oleh

Oleh: Cut Januarita *)

Minggu 27 April 2008, Habiburrahman El Shirazy atau yang biasa  di sapa dengan Kang Abik berkunjung ke radio Seulaweut  91,0  Fm. Kunjungan Beliau ke daerah Beurawe ini untuk mengisi dialog interaktif satu setengah jam. Pagi sebelumnya mengisi workshop kepenulisan yang dibuat oleh Ranup Organizer.

Bersahaja, mungkin inilah salah satu yang bisa saya gambarkan tentang diri Kang Abik. Satu karakter yang menonjol dan belum berubah setelah 4 kali dalam beberapa tahun saya melihatnya. Bisa jadi ia mirip dengan tokoh Fahri, pemeran utama novel AAC (Ayat-Ayat Cinta) yang ditulis.  Ketika tokoh fiksi Fahri menjelma dalam hidup dan begitu nyata, pembaca novel mengharapkan film yang sudah dibuat seharusnya tidak menampilkan penyelewengan tokoh. Jangankan pembaca, mungkin juga si pembuat novel kecewa  dengan sutradara film.

Segurat kekecewaan dan kekesalan terus datang. Ini terjadi ketika kita ditakdirkan membaca terlebih dahulu, setelah itu baru menonton filmnya. Telepon dan sms yang masuk saat dialog interaktif kemarin, lebih banyak yang menanyakan mengapa novel dan filmnya beda ya? Ini pertanda pembaca buku saat ini kritis. Mampu melihat sisi positif dan negatife isi dan tokoh yang ditampilkan. Malah syiar Islam novel AAC sudah mengena diberbagai sanubari penonton. Secara sunnatullah, penonton jeli melihat hak dan batil. Inilah yang mungkin diharapkan Kang abik sejak semula, penggarapan novel ini sebenarnya lebih menjurus ke nilai ketauhidan. Makanya tidak salah, Ayu Utami sastrawati  besar di Jakarta malah mengencam AAC ini sebagai novel cengeng. Persoalannya tokoh Maria yang Kristen ortodok bersedia masuk Islam hanya karena persoalan jatuh cintanya kepada Fahri.

Bagaimana dengan penonton film AAC yang belum membaca novelnya terlebih dahulu? Saya melihat fenomena lebih banyak sisi positifnya, apalagi ditonton oleh kebanyakan kaum awam. Benar kata Mas Jonru Sastrawan di Jakarta yang menemani Kang abik ke Aceh. Menurutnya jika kita tidak mau kecewa ya nontonlah terlebih dahulu filmnya. Pernyataannya memang disertai fakta. Contohnya di sekolah tempat saya mengajar saja, saat waktu mengerjakan tugas pelajaran, ada beberapa siswi hampir di tiap kelas yang memerankan tokoh pemakai cadar.  Padahal tidak ada hubungan dengan pelajaran yang sedang diajarkan. “Aisyah…Aisyah Ayat-Ayat Cinta”, kata mereka. Padahal sampai sekarang saya sendiri belum menonton film AAC. Tokoh Aisyah yang cantik dan baik budi,  sungguh dianggap sebagai pahlawan. Siswi saya lebih tertarik dengan dakwah cadar. Malah mereka tidak sungkan-sungkan menanyakan kepada saya bagaimana hukumnya muslimah bercadar.

Terlepas dari pro dan kontra, saya melihat Kang Abik Sukses berat. Fiksi Islami nya jadi Booming  di Indonesia sejak cetakan pertamanya Desember 2004. Coba sesekali kita ke toko-toko buku, banyak sampul novel dari  penulis lainnya yang mengikuti gaya  AAC dan buku Kang Abik lainnya. Jika kita tak jeli, kadang kita berpikir itu buku milik Kang Abik juga. Mungkin penerbit atau penulis lainnya berkeinginan juga bukunya best seller seperti AAC.

Fenomena ketidakpuasan menonton AAC, bisa diambil pelajaran. Berita gembiranya, novel lainnya Kang Abik Ketika Cinta Bertasbih (KCB) rencananya mau di filmkan. Nilai syariat dakwahnya jadi perhitungan. Menurut pengakuan Kang Abik, pemeran para tokoh akan mengikuti kompetisi ketat. Jurinya Neno Warisman, Deddy Mizwar, dan lain-lain. Bukan hanya akting pemain, karakter yang baik keseharian tokoh, diharapkan menjelma sesuai sifat aslinya. Seperti sifat Kang Abik yang nyata. Anda bagaimana? Berminat mengikuti audisi yang disutradai oleh Chaerul Umam?

*) Guru MAN Model dan Anggota FLP Aceh

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Esai

NASIB SASTRA KITA

NASIB SASTRA KITA Oleh: Cut Januarita *) Menyikapi opini Saudara Mustafa Ismail
Go to Top