KELUARGA PENULIS, MENGAPA TIDAK!

Rubrik Literasi Oleh

KELUARGA PENULIS, MENGAPA TIDAK! *)
Oleh: Cut Januarita

Selain gathering for food melalui memasak atau makan bersama sebagai sebuah wujud kebersamaan untuk sebuah keluarga kecil seperti kami, tentunya meluaskan ilmu dengan mendengarkan petuah-petuah orangtua atau mereka yang lebih senior dalam menjalankan kehidupan keluarga adalah hal yang mejadi prioritas saya pula. Apalagi sebagai wanita yang bekerja tentu saja dengan kesadaran sepenuh hati saya harus mampu meletakkan waktu-waktu untuk sebuah kebersamaan.

Meskipun anak-anak saya masih balita, setidaknya saya dan pasangan telah membuat skema kerja untuk dibawa ke mana arah keluarga ini. Model seperti apa yang akan dibentuk untuk menjalani sebuah kebersamaan pada penanaman berbagai nilai kebaikan. Pentingnya kebersamaan ini dipermudah dengan cara pandang saya yang sama dengan suami bahwa keluarga kami adalah keluarga penulis. Di atas meja makan yang terkadang disulap sebagai sebuah round table meeting keluarga tertumpahkan semua kebersamaan tentang betapa ajaibnya jika kami menjadi keluarga penulis itu.

Keluarga penulis? Pertanyaan ini kerap membuat kerutan di dahi orang dalam berbagai percakapan dengan saya. Sebagai perempuan Aceh, saya menyadari betul jika perempuan Aceh memiliki karakter yang kuat. Siapa yang tidak kenal Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Laksamana Malahayati. Mereka adalah perempuan yang berkarakter yang menebarkan peran untuk berbagai prestasi kebaikan. Dalam visi pembentukan keluarga di Aceh tertuang dalam tradisi lisan para perempuan yang diturunkan turun temurun. Sebut saja tradisi meninabobokan anak dengan syair-syair kebaikan. Dan dalam proses perenungan saya, tidaklah cukup  hanya mengandalkan tradisi lisan di era globalisasi seperti seperti sekarang ini.

Dan ingatan saya pun terlayangkan pada sosok Kartini yang memprasastikan pemikirannya melalui tulisan. Untuk kemudian pemikiran-pemikirannya tersebut langgeng sebagai sebuah batu pijakan untuk sebuah kebangkitan. Dasar perenungan ini pula yang membuat saya dan suami berprinsip apa pun kita dan bagaimana pun kita, menulis adalah kebutuhan keluarga. Meski awalnya sulit untuk menjawab keheranan banyak orang jika menjadi keluarga penulis adalah sesuatu yang sangat mustahil dilakukan apalagi sampai menciptakan beragam keajaiban kebersamaan keluarga.

Bagi saya menulis adalah jendela untuk melihat kedalaman dan keluasan pandangan. Terkadang rasa saling memahami satu sama lain itu baru dapat diserap tatkala membaca tulisan-tulisan suami saya. Demikian juga sebaliknya. Pasangan saya biasanya dengan mata berbinar menanyakan maksud beberapa point yang pemikiran yang saya tulis dalam berbagai bentuk. Bisa jadi kumpulan puisi, opini, cerpen maupun diari. Cita-cita kami selanjutnya adalah bagaimana kebiasaan ini tertularkan pula kepada anak-anak kami kelak. ***

*) Tulisan ini merupakan salah satu dari 10 pemenang Lomba PIN (Perempuan Inspiratif Nova) 2009

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top