Prinsip Kemanusiaan di Tengah Keberagaman

Rubrik Opini Oleh

Oleh: Dwi Surti Junida, S.Sos., M.Si.
(Dosen Luar Biasa di Fakultas Usuluddin dan Filsafat Politik Jurusan Ilmu Aqidah Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Alauddin Samata Kabupaten Gowa)

Isu keragaman etnis, agama dan ras tidak akan pernah habis untuk diperbincangkan, sampai hari ini pun menjadi isu hangat yang tak kunjung reda. Selalu menjadi topik hangat di tengah-tengah iklim kemajemukan yang menjadi ciri khas bangsa kita. Tak sedikit menimbulkan konflik yang berkepanjangan seperti menjamurnya berbagai perselisihan dan konflik baik dari segi etnis, ras dan agama di beberapa  tempat  sampai saat  ini dikarenakan menurunnya kualitas masyarakat  yang  disebabkan  oleh beberapa  faktor  berikut  ini;  (1)  orientasi pembangunan  ekonomi  pertumbuhan; hal  ini  menjadi  salah  satu  pendorong bagi  masyarakat  untuk  mengakumulasi materi  sebanyak-banyaknya  dan menjadikan  ekonomi  sebagai  motif dalam  bermasyarakat,  (2) melemahnya infrastruktur sosial pengikat silaturrahmi, (3)  Orientasi  pengembangan  manusia yang  berfokus  pada  aspek  kognitif;    hal ini  hanya  fokus  pada  pengembangan manusia  yang  berorientasi  untuk kompetensi di bidang teknologi dan ilmu pengetahuan  dan  mengabaikan  aspek pengembangan karakter. Pada gilirannya, hal ini mengakibatkan lemahnya karakter manusia yang dapat berempati dan hidup berdampingan  secara  damai  dengan orang lain (Ancok:2003).

Keagamaan yang berbeda-beda menjadi dasar keragaman Indonesia yang menjadi ciri khas yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain. Keragaman etnis, budaya dan agama menjadi sesuatu yang harus kita terima dan menjadikannya salah satu jalan terciptanya kedamaian sesuai ke-binekatunggal Ika. Menurut Maftuh Basyuni dalam sambutan tertulisnya  yang dibacakan kepala  Puslitbang  kehidupan  Keagamaan Depag  Abdul  Rahman  Mas’ud  dalam  siaran pers yang diterima dari Pusat Informasi Depag di Jakarta (Kamis 28/5/2009) bahwa dengan  adanya segala  kekurangan  dan  kelebihannya,  kerukunan  umat  beragama  di Indonesia dinilai oleh dunia internasional sebagai yang “terbaik”.

Foto penulis bersama tetangga (mayoritas Kristiani) saat Hari Raya Natal (Dokumen Pribadi)

Hal ini menunjukkan banyak kasus keberagaman yang tidak menimbulkan konlik antar umat beragama. Salah satunya penelitian Nurkurniati Syam dkk (2014) yang menemukan bahwa “..sebuah  keluarga di Cerebon yang  mempunyai  7 orang  anak yang  terdiri  atas  4  perempuan dan 3 anak  laki-laki (sudah dewasa) di antara mereka ada yang beragama Islam maupun Kristen hidup  bersama.  Ketika  berbicara mengenai keluarga,  ia mengatakan selama berkeluarga  tidak  ada  hal  yang  memicu konflik,  mengenai  pendidikan  anak  ketika masih kanak-kanak dibebaskan mau sekolah agama  sore  (Islam)  atau  sekolah  Rabu (sekolah  yang    dikelola  oleh  misi  Kristen). Kepala keluarga Kristen beristri Islam ini pun  dipercaya sebagai Babinsa di desa Sidawangi, yang mayoritas penduduknya beragama Islam hal ini merupakan fenomena unik menurutnya..”.

Hal serupa juga terjadi ditempat lain seperti hasil penelitian saya di masyarakat Sermani Kelurahan Tello Baru Kecamatan Panakkukang Kota Makassar (Junida:2016) yang menunjukkan kerukunan antar umat Kristen Toraja dan Muslim Bugis disana selama berpuluh tahun silam. Terwujudnya toleransi acapkali terlihat pada saat pesta-pesta besar, sebut saja pesta kematian. Masyarakat Suku Toraja (mendominasi) memiliki tradisi dalam proses pemakaman dengan melaksanakan pesta yang besar. Dihadiri oleh banyak kerabat atau sanak saudara memerlukan banyak bantuan dalam proses pengerjaannya. Inilah yang selalu penulis lihat ditiap prosesi, dimana banyaknya wanita membantu di ruang dapur (baik berasal dari Umat Muslim maupun Kristiani). Hal yang cukup menarik bagi penulis karena tempat makan dan peralatan masaknya berbeda (karena Umat Muslim tidak memakan semua makanan yang dihalalkan bagi umat Kristiani). Tiap umat Kritiani memiliki acara, baik acara kematian maupun pernikahan mereka selalu membedakan peralatan makanan dengan Muslim. Sekalipun tidak sedikit dari mereka yang kadang menyajikan hidangan daging babi (yang diharamkan oleh umat Muslim, namun moment penyajian daging babi tersebut tidaklah sama dengan penyajian makanan untuk para Muslim dengan memisah baik tempat maupun lokasi penyajiannya (Junida:2016).

Indonesia merupakan  negara  yang tidak saja multi-suku, multi-etnik, multi-agama tetapi juga multi-budaya. Kemajemukan tersebut pada satu sisi merupakan kekuatan sosial dan keragaman yang indah apabila satu sama  lain  bersinergi  dan  saling  bekerja  sama  untuk  membangun  bangsa Indonesia.  Namun,  pada sisi lain, kemajemukan tersebut apabila tidak dikelola dan dibina dengan tepat dan baik akan menjadi  pemicu  atau penyebab konflik  dan  kekerasan  yang  dapat  menggoyahkan sendi-sendi kehidupan  berbangsa.  Peristiwa  Ambon  dan  Poso  misalnya,  merupakan contoh kekerasan dan konflik horizontal yang telah menguras energi dan merugikan tidak saja  jiwa  dan  materi  tetapi  juga  mengorbankan  keharmonisan  antar  sesama  masyarakat Indonesia. Perbedaaan agama dan etnis tidak menjadi penghalang untuk menciptakan kerukukan, bukankah Allah Swt sudah mengatakan dalam QS.Al Hujarat : 13 bahwa kita itu berbangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal satu sama lain.

Ada cara klasik menurut saya yang relevan dalam mengembangkan prinsi-prinsip agama Islam ditengah keberagaman sampai saat ini yaitu dengan menyeruh prinsip-prinsip kemanusian yang sangat jelas dalam agama kita. Bukankah kita diperintahkan untuk menyeru kepada agama lain dengan memberi contoh melalui perbuatan yang baik seperti lemah lembut, cara yang adil dalam berbagai hal dan harus didasari dengan ilmu. Apalagi bukankah Islam menyandarkan seruan dakwahnya atas dasar prinsip-prinsip ilmu sosial dan kejiwaan. Sehingga sangat wajar jika seruan dakwah agama kita juga penting dengan berprilaku baik secara sosial kepada masyarakat pada umumnya. Apalagi Islam juga memerintahkan kepada kita untuk memelihara diri dengan akhlak terpuji. Filosofi klasik yang perlu sama-sama kita renungkan kembali bahwa prilaku yang baik mencerminkan prilaku yang baik pulakan.

Marilah kita sama-sama menerima segala perbedaan (bukankah hal itu juga rahmat), perbedaan sebagai bagian dari anggota masyarakat yang menjalin hubungan sosial dengan manusia lain. Mencoba menyelaraskan agama dengan hubungan sosial dalam berinteraksi. Durkheim mengungkapkan  bahwa  masyarakat  dikonseptualisasikan  sebagai  sebuah  totalitas  yang  diikat  oleh  hubungan  sosial.  Dalam  pengertian  ini  maka  masyarakat  menurut Durkheim  adalah  “struktur  dari  ikatan  sosial  yang  dikuatkan dengan konsensus moral”. Sedangkan Bronislaw Malinowski dalam Nazsir (2008:38),  sebagai  tokoh  fungsionalisme  dalam  antropologi,  mengatakan bahwa fungsi agama dalam masyarakat adalah “memberikan  jawaban-jawaban  terhadap  permasalahan  yang  tidak  dapat  diselesaikan  dengan common sense rasionalitas dan penggunaan teknologi”.

Agama adalah sistem kebudayaan. Sebagai sistem kebudayaan agama tidak terpisah dengan masyarakat. Agama tidak hanya  seperangkat  nilai  yang  tempatnya  di  luar  manusia,  tetapi  juga merupakan sistem pengetahuan dan sistem simbol yang memungkinkan terjadinya pemaknaan. Dalam pandangan ilmu sosial, pertanyaan keabsahan suatu agama tidak terletak pada  argumentasi-argumentasi  teologisnya,  melainkan  terletak  pada bagaimana  agama  dapat  berperan  dalam  kehidupan  sosial  manusia.  Disini  agama  diposisikan  dalam  kerangka  sosial  empiris,  sebagaimana realitas sosial lainnya. Hari ini agama dijadikan senjata politik oleh elit tertentu untuk satu kata yaitu “kekuasaan”. ***

Dosen Luar Biasa di Fakultas Usuluddin dan Filsafat Politik Jurusan Ilmu Aqidah Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Alauddin Samata Kabupaten Gowa.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Keluargaku Surgaku

Seorang ahli kungfu sedang asyik menari di lantai dansa bersama istrinya. Ia

Sayang dia, Cinta dia

Hampir pecah tangisku menyaksikan peristiwa itu. Seorang suami mencekik, menampar dan menendang

Tegar

Oleh: La Ode Mu’jizat Perlu kekuatan hati yang berlebih ketika ujian atau
Go to Top