HARI BUKU NASIONAL BUKAN SEKADAR SELEBRASI

Rubrik Literasi Oleh

REFLEKSI HARI BUKU NASIONAL 17 MEI 2017
Oleh: Zaenal Ridwan (Pengurus Agupena DKI Jakarta)

Buku adalah gudang ilmu, buku adalah setetes ilmu, buku pun adalah jendela dunia. Demikian kira-kira beberapa ungkapan yang pernah kita dengar. Yang jelas buku adalah sumber informasi dan pengetahuan. Melalui buku kita bisa tahu segala sesuatu, melalui buku pula kita jadi tahu atas perkembangan di tempat lain yang nun jauh di sana, melalui buku pula kita bisa saling berbagi pengetahuan dengan cara berbagi tulisan. Namun demikian, Seiring perkembangannya tentunya buku pun mengalami dinamikanya tersendiri, mengalami pasang surut, terlebih di tengah zaman modern seperti ini.

Ya, di tengah zaman modern seperti sekarang ini seiring bermunculannya gadget canggih yang didukung jaringan internet, masihkah buku tetap exist dan digemari khalayak?? Terlebih lagi kalangan generasi muda yang gandrung dengan gadget. Ya, melalui gadget dengan jaringan internetnya bagi sebagian orang lebih mudah dan lebih meringankan, cukup hanya dengan sebuah HP/tablet kecil mudah dibawa  ke mana-mana, tidak merepotkan, tinggal klik bisa cari segala sumber informasi dan literasi yang kita mau. Berbeda dengan sebagian orang lain, terutama zaman dulu, para tokoh, pujangga, sastrawan, ilmuwan, di ruang kerja atau rumah yang dipadati rak-rak buku dengan puluhan, ratusan, ribuan buku berjejer. Ya, sampai saat ini bagi sebagian orang, para penulis dan pecinta buku nampaknya buku masih menempati hati para penggemarnya tersendiri, memiliki arti dan kepuasan tersendiri.

Bersamaan majunya teknologi perangkat gadget dan jaringan internet global tersebut, pastinya sangat berpengaruh pada perkembangan buku. Oleh karena itu, marak bermunculannya kegiatan pameran buku, selain sebagai ajang promo buku-buku terbaru, pada saat yang sama tak sedikit pula buku-buku yang diobral murah, apakah hal ini menunjukkan jatuhnya existensi buku? Entahlah…

Berkaitan buku, tersisa pula masalah lain yang cukup miris, yakni tentang profit sharing atau royalty yang diterima penulis tidak sesuai, tidak sepadan dengan hasil karya besar pemikirannya, terutama bagi penerbit-penerbit ‘mainstream’ sehingga terkesan nampak sistem kapitalis di sana. Entah mungkinkah hal ini pun bagian dari masalah dinamika perkembangan buku atau tidak.

Berbicara buku, maka tak lepas dari masalah minat baca. Sederhananya, untuk mengukur berhasil/tidaknya buku dikonsumsi orang dengan maksimal, akan nampak dari cara dan bobot bicara orang, atas pengetahuannya tentang suatu perkara, terlebih lagi di forum-forum resmi diskusi, juga dari karya-karya tulisnya. Begitu pula pada level anak-anak dan remaja, akan nampak pada cara dan bobot berbicara dan bercerita atas sesuatu/kisah. Untuk diketahui, berdasarkan studi “Most Littered Nation In The World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada 2016 lalu, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara, bahkan Indonesia berada di bawah Thailand (sumber:Kompas.com), hal ini tentu sangat memprihatinkan dan merupakan PR tersendiri.

Oleh karena itu, perlu adanya langkah-langkah untuk meningkatkan minat baca, gerakan gemar membaca. Diantaranya bisa dengan meningkatkan frekuensi gelaran pameran buku, menambah banyak perpustakaan, mengubah setting perpustakaan dalam konteks kekinian dan membuat nyaman, perbanyak lagi taman-taman bacaan, meningkatkan lomba-lomba literasi, eksplorasi penampilan buku, motivasi dari para pendidik dengan berbagai cara dan metode, dll.

Pada akhirnya, bukan sekedar masalah membaca melalui perangkat gadget atau buku manual, melainkan pada kwalitas dan kwantitas membacanya sehingga bisa semakin cepat memperkaya pengetahuan dan wawasan. Bila saja ditarget, baik secara pribadi atau bimbingan serta motivasi dari guru kepada siswa/i nya, misal per-minggu/bulan selesai dibaca satu buku, maka tentunya akan banyak buku yang dikonsumsi para pembaca yang kemudian akan memperkaya ilmu pengetahuan dan wawasan.

Menyambut Hari Buku Nasional 17 Mei ini, semoga bukan sekedar formalitas belaka, semoga bukan saja sekedar peringatan seremonial belaka, semoga bukan sekadar selebrasi belaka, semoga bukan sekadar meng-ingat-kan saja yang kemudian besok-besok dilupakan lagi. Melalui Hari Buku Nasional, semoga semakin memperbanyak karya-karya buku, semoga semakin banyak melahirkan para penulis andal, kreatif dan produktif, semoga meningkatkan kesadaran, minat dan daya baca masyarakat.

Nah, Selamat Hari Buku Nasional 17 Mei 2017. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top