Keagungan Sebuah Proses yang Mestinya Ditanamkan dalam Diri Setiap Anak Didik

Rubrik Pendidikan Oleh

Oleh: Ariza Fahlaivi
(Jurnalis Website Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, Agupena DKI
)

Fenomena yang terjadi di lingkungan pendidikan kita saat ini, khususnya ketika waktu ujian tiba adalah, bahwa anak didik kita seringkali berlomba-lomba untuk saling mencontek. Terlepas hadir atau tidaknya seorang pengawas, para murid selalu saja mencuri-curi kesempatan untuk menanyakan jawaban kepada temannya yang duduk di seberang atau di depannya. Yang lebih membuat miris lagi adalah ketika seorang pendidik melihat kejadian tersebut, hanya segelintir guru saja yang mau menindak dengan tegas mereka yang berbuat curang sedang yang lainnya terlihat memaklumi kecurangan tersebut dan membiarkannya berlalu begitu saja.

Lalu apa yang salah dari potret pendidikan yang sedemikian rupa? Apa yang seharusnya dilakukan seorang guru melihat fenomena yang sudah menjamur tersebut? Apakah kita harus menyalahkan sistem pendidikan di negeri ini lalu berharap pemerintah merubah sistem? Sungguh naif jika kita hanya berpangku tangan terhadap pemerintah tanpa ada sedikitpun usaha dari kita untuk memperbaiki atau merubah wajah pendidikan di negeri ini yang hanya menghormati hasil daripada sebuah proses, yang hanya mengedepankan ijazah daripada sebuah keahlian.

Salah satu dari sekian banyak cara yang bisa pendidik lakukan untuk mengurangi daya curang khususnya menyontek yang sudah menjamur tersebut adalah dengan terus-menerus memberikan kesadaran kepada para murid untuk tidak selalu memandang kepada hasil. Seorang Pendidik harus getun menanamkan betapa pentingnya sebuah proses daripada sebuah hasil. Bahwa sebuah keberhasilan merupakan sebuah bonus dari rumitnya suatu proses. Bahwa sebuah keberhasilan adalah sebuah kenikmatan yang nyaman untuk disemai setelah melalui berbagai bentuk kepahitan. Bukan berarti sebuah hasil itu tidak penting, hasil tetaplah penting, hanya saja, maqomnya ada di bawah proses. Kalaulah sebuah hasil itu berada di urutan kedua, maka sebuah proses berada di urutan pertama.

Orison Swett Marden, penggagas majalah Sukses dan salah seorang tokoh inspiratif Amerika, pernah berkata:

“Keberhasilan tidak diukur dengan apa yang anda raih, namun kegagalan yang telah anda hadapi, dan keberanian yang membuat anda tetap berjuang melawan rintangan yang datang bertubi-tubi.”

Dari sini sudah jelas bahwa keberhasilan yang hakiki bukanlah terletak pada bagusnya nilai, tetapi ada pada semangat dan daya juang yang tertanam di dalam diri peserta didik. Bahwa tingginya nilai merupakan urutan yang kesekian kali dalam rangkaian mata rantai pendidikan. Ketika seorang pendidik tidak pernah lelah untuk mencoba menanamkan betapa agungnya sebuah proses itu, mungkin di suatu hari, kecurangan-kecurangan yang biasa terjadi akan lenyap. Berat memang, tapi bukankah seorang pendidik memang diutus untuk mengatasi berbagai ketidakmungkinan? ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top