FILOSOFI TEMBANG GUNDUL-GUNDUL PACUL

Rubrik Opini Oleh

Oleh: Washadi
(Seorang guru dan penulis, Ketua Humas dan Kerja Sama Antarlembaga AGUPENA)

Tembang Jawa “Gundul-gundul Pacul” yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga bukan sekadar tembang/lagu biasa. Di dalamnya terkandung makna atau filosofi yang sangat dalam. Tembang tersebut merupakan “pitutur” atau nasihat sekaligus sindiran halus terhadap para pemimpin yang tidak menjaga amanah yang menjadi tanggung jawabnya. Betapa tinggi nilai estetika dengan pemilihan diksi yang tepat digunakan dalam tembang klasik tersebut.

Ada pun isi tembang Gundul-gundul Pacul adalah sebagai berikut.

“Gundul-gundul pacul-cul, gembelengan,

nyunggi-nyunggi wakul-kul, gelelengan,

wakul ngglimpang, segane dadi sak latar,

wakul ngglimpang, segane dadi sak latar.”

Mari kita kupas isi dan makna/filosofinya.

“Gundul” adalah kepala yang tidak berambut, menggambarkan: “Para pemimpin yang tidak bertanggung jawab atau tidak amanah.”

“Pacul” merupakan akronim dari “papat” atau empat, dan “ucul” atau lepas, berarti “empat yang lepas”. Ada pun empat bagian kepala, yakni: mata, hidung, telinga dan mulut. Mata berfungsi untuk melihat, hidung berfungsi untuk mencium/merasakan, telinga berfungsi untuk mendengar, dan mulut berfungsi untuk berbicara/menasihati. Keempat bagian kepala tersebut digunakan untuk melihat, mencium/merasakan, mendengar, dan menasihati keadaan rakyat. Maka, pacul mengandung filosofi: “Empat tanggung jawab/amanah terhadap rakyat yang telah lepas.”

“Gembelengan” berarti kelimpungan, mengandung filosofi: “Tidak sanggup memikul amanah.”

“Nyunggi” berarti memikul. “Wakul” berarti bakul atau tempat nasi. Ungkapan “nyunggi wakul’ mengandung filosofi: “Memikul tanggung jawab untuk menyejahterakan rakyat.”

“Gelelengan” adalah menggeleng-gelengkan kepala, berarti kebingungan. Bermakna: “Tidak tahu apa yang harus dilakukan.”

“Ngglimpang” berarti terbalik atau tumpah. “Wakul ngglimpang” berarti bakul terbalik atau tumpah. Ini bermakna: “Kesejahteraan rakyat tidak terwujud.”

“Segane dadi sak latar”, sega adalah nasi; dadi adalah jadi; sak latar adalah sehalaman/berantakan. Berarti “nasinya (yang tadi tumpah) jadi sehalaman/berantakan.” Filosofinya: “Kesejahteraan jadi berantakan.”

Secara keseluruhan, tembang Gundul-gundul Pacul mengandung makna/filosofi: “Para pemimpin yang tidak amanah, tidak memperhatikan rakyatnya, tidak mewujudkan kesejahteraan rakyatnya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, maka akan berantakan dalam kepemimpinannya.” ***

Tags:

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Keluargaku Surgaku

Seorang ahli kungfu sedang asyik menari di lantai dansa bersama istrinya. Ia

Sayang dia, Cinta dia

Hampir pecah tangisku menyaksikan peristiwa itu. Seorang suami mencekik, menampar dan menendang

Tegar

Oleh: La Ode Mu’jizat Perlu kekuatan hati yang berlebih ketika ujian atau
Go to Top