Menanti Kebangkitan Bangsa Melalui Pendidikan

Rubrik Pendidikan Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong – Agupena Papua Barat

Bulan Mei menjadi sakral karena dua momentum. Merayakan Hari Pendidikan, setelahnya kembali merayakan Kebangkitan Nasional. Jikalau saja keduanya dipadukan, maka kebangkitan bangsa bisa dijaga dengan adanya pendidikan yang berkualitas. Tanpa pendidikan, maka kebangkitan apapun namanya hanyalah merupakan mimpi belaka.

Pertama dan utama, kelas jauh tentu perlu diminimalisir, bahkan dinihilkan sama sekali. Sementara pendidikan jarak jauh bisa saja dikemas dengan sedemikian rupa termasuk penyebarluasan kampus Universitas Terbuka. Begitu pula dengan mandat kepada perguruan tinggi sekelas Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung, atau Universitas Gadjah Mada (UGM). Dengan reputasi perguruan tinggi sekelas ketiganya, tentu dimanapun mereka mengelola pendidikan tetap saja akan bermutu. Sehingga memungkinkan suatu saat kita akan punya UI di Biak, ITB di Kalimantan, atau UGM di Nabire.

Dengan demikian, akses pendidikan akan semakin merata di seluruh pelosok negeri. Sementara ini, jika ingin menikmati pendidikan terbaik harus ke Pulau Jawa. Hanya ada satu perguruan tinggi dengan akreditasi A di Pulau Sulawesi. Sementara di Pulau Kalimantan, tidak ada sama sekali. Apalagi Papua dan Maluku. Dengan demikian, perlu modal yang sangat besar untuk menyelesaikan pendidikan. Tidak saja modal pada uang tetapi juga pada keberanian dan kemauan untuk berpisah dengan keluarga.

Jikalau saja perguruan tinggi yang terakreditasi A tersebar seentaro negeri, maka dimanapun belajar akan menikmati pendidikan yang sama baiknya. Ini bisa dilakukan dengan program terpadu. Minimal dimulai dengan kelas hybrid seperti yang dilakukan Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Muslim Indonesia (UMI) dengan Institut Teknologi Bandung dan Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya. Dengan perjumpaan ide seperti ini akan memberikan kesempatan dalam berdialog.

Setelah itu, studi lanjut dapat diupayakan dengan dukungan perguruan tinggi melalui beasiswa dan informasi yang memadai. Sehingga mereka memiliki keberanian untuk mendaftar. Pada saatnya, akan tersemai atmosfer akademik yang berawal dari kelas-kelas kolaborasi. Dapat juga diusahakan penelitian kolaboratif kemudian publikasi bersama. Jikalau ini dilakukan secara terancang, akan menjadi sebuah awal untuk pengembangan dunia akademik.

Jikalau pendidikan tinggi dilaksanakan secara bersama-sama, menjadi jalan bagi pendidikan menegah untuk turut berkembang. FTI UMI ketika memulai program pendidikan profesi insinyur, mereka melakukan sosialisasi ke seluruh daerah termasuk Pulau Papua. Kesempatan sosialisasi tersebut digunakan untuk berkolaborasi dengan Sekolah Menengah Kejuruan Sorong untuk magang. Sehingga siswa SMK bisa menyelesaikan magang di laboratorium program studi tambang di FTI UMI.

Termasuk perlunya penyediaan perpustakaan di setiap kota atau kabupaten. Pemerintah kota dan kabupaten menyediakan fasilitas lahan, bangunan, dan staf pustakawan. Sementara sekolah dan perguruan tinggi menyediakan bukunya. Demikian pula, pengusaha lokal dapat menyumbang buku dan membuka sarana pendukung lainnya. Sehingga perpustakaan dapat digunakan bersama-sama antara sekolah dengan perguruan tinggi di wilayah yang sama. Bisa jadi, jika selama ini bangunan mewah di daerah selalu didominasi oleh pusat perbelanjaan, maka akan sangat menyenangkan jikalau gedung mewah itu adalah perpustakaan. Ini akan menjadi sebuah sarana dalam dialog pendidikan antar lembaga, sekaligus memperkaya khazanah keilmuan.

Prakarsa dan inisiatif seperti menjadi langkah dalam sinergi antara lembaga pendidikan. Dengan demikian, sudah terbangun komunikasi antara sekolah menengah dan pendidikan tinggi untuk sinkronisasi antara program pendidikan. Demikian pula, mobilitas pendidikan antara Sulawesi dan Papua mulai terjalin. Ini akan menjembatani disparitas pendidikan antar wilayah. Maka, untuk menanti kebangkita nasional di kesempatan berikutnya dapat saja dimulai dengan melakukan sinergi, kolaborasi, dan kerjasama pendidikan. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

Go to Top