Sebuah Garis di Ujung Waktu

Rubrik Cerpen/Sastra Oleh

Cerpen: Hadi Sastra

Seperti biasa, lelaki tua itu membuka hari dengan rutinitasnya. Bergelut dengan aktivitas berteman perangkat kerjanya, sebuah karung besar. Dia melangkah memunguti botol-botol dan gelas plastik bekas tempat air mineral dari pagi hingga menjelang maghrib. Sesampai di rumah tak langsung bersantai, tetapi melanjutkan pekerjaan berikutnya, membersihkan dan menyeleksi hasil pungutannya. Menyatukannya ke dalam wadah karung yang lebih besar. Barulah mandi, salat dan makan malam. Begitulah potret kesehariannya. Semua dilakukan seorang diri.

Aku penasaran, ingin tahu siapa gerangan dirinya. Kucari informasi lewat para tetangganya. Rupanya, lelaki lanjut usia itu memiliki cerita panjang.

Yang paling menarik bagiku adalah kebiasaan kakek itu. Dia selalu berhenti di sebuah rumah besar yang terletak dua ratusan meter dari rumahnya. Dia mematung menatap rumah itu. Aku perhatikan, cukup lama dia melakukannya. Diakhiri dengan linangan air matanya. Setelah itu, dia melanjutkan pekerjaannya.

Rasa penasaran menarik keinginanku untuk menyelidiki lebih jauh tentang dia. Aku ingin mengetahui secara lengsung dari penuturannya. Maka, pada suatu sore, kudatangi rumahnya yang sangat sederhana. Kebetulan lelaki itu baru kembali dari rutinitasnya.

“Assalamu ‘alaikum,” sapaku.

“Wa ‘alaikum salam,” jawabnya ramah.

“Maaf mengganggu,” lanjutku.

“Tidak apa-apa. Silakan masuk.”

Sesaat kemudian terjadi obrolan. Aku memperkenalkan diri. Kusampaikan cerita singkat tentang diriku.

Kakek itu lalu bercerita tentang dirinya. Bercerita seputar rumah tangganya. Awalnya,  keluarganya harmonis, nyaris tak ada masalah serius. Semua berjalan normal layaknya rumah tangga lain. Mereka berbahagia dengan ketiga putra-putri.

Masalah mulai muncul setelah dia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai kepala bagian di sebuah perusahaan asing. Dia dituduh berbuat korupsi dan dianggap sebagai biang keladi kemerosotan keuangan perusahaan. Padahal semua itu fitnah belaka yang dilontarkan salah seorang rekan kerja yang sakit hati atas kekalahannya pada persaingan promosi jabatan. Hingga kemudian perusahaan gulung tikar.

Lelaki itu sempat drop, dilarikan ke rumah sakit dan dirawat selama beberapa waktu. Selanjutnya, dia beristirahat selama dalam tahap penyembuhan. Akibatnya berpengaruh terhadap keuangan keluarga. Tabungannya terkuras. Singkat cerita, biduk rumah tangganya goyah.

Mengenai rumah besar yang selalu dipandanginya pun diceritakan. Dahulu, rumah itu miliknya. Namun, dijual istrinya tanpa sepengetahuannya. Sang istri langsung menghilang bersama suami barunya. Kedua putri menghilang bersama suami masing-masing. Sedangkan, putra bungsu pergi tanpa sekalipun pernah kembali. Sanak keluarga lain tak ada.

Aku merasa prihatin mendengar tuturannya. Di masa tuanya, dia harus menjalani hidup sebatang kara selama bertahun-tahun. Sungguh mengundang iba.

***

Selama beberapa hari aku tak melihat lelaki tua itu. Pada suatu sore, kudatangi rumahnya. Sesampainya di tujuan, aku tak mendapatinya. ‘Mungkin dia masih bekerja,’ pikirku.

Malamnya, aku kembali mendatangi rumahnya. Namun tak juga kudapati dia. Terdorong penasaran, aku tanyakan kepada salah satu tetangga. Ternyata, lelaki itu telah meninggalkan rumahnya pagi tadi. Hal itu karena pemilik tanah yang di atasnya dibangun rumah si kakek mengusirnya. Menurutnya, sebenarnya sudah lama kakek malang itu disuruh pergi, dengan alasan tanah akan dijual untuk segera dibangun perumahan.

Aku lemas. Tersentuh kembali perasaanku. Kucari-cari keberadaannya. Kuikuti rute-rute yang biasa dilalui. Kutanyakan kepada orang-orang yang kujumpai. Semua nihil. Tak jua kutemukan lelaki renta itu.

Semalaman aku terus mencari-carinya. Menjelang subuh, tiba-tiba aku tersentak. Dalam keremangan lampu taman kota, aku melihat sesosok lelaki tua tergeletak di salah satu sudut taman. Segera kuhampiri dia. Aku makin tersentak. Ternyata, lelaki itu sosok yang aku cari. Buru-buru aku bawa dia ke rumah sakit.

***

Aku mempunyai ibu dan seorang kakak perempuan. Ibu sudah lanjut usia, sedangkan Kakak juga sudah tak muda lagi. Mereka tinggal di daerah asalku. Sementara aku pergi merantau setelah menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana. Aku kemudian bekerja sebagai manajer di salah satu perbankan nasional.

Semenjak bayi, aku tak pernah melihat ayahku. Menurut cerita yang disampaikan Ibu, Ayah pergi meninggalkan kami bertiga dengan istri mudanya. Kala itu, usia kakak baru tiga tahun. Memang, tahun-tahun terakhir berumah tangga, keharmonisan sudah tak ada lagi di antara mereka. Bukan tanpa sebab. Semua itu lantaran sikap Ayah yang berubah. Ayah sangat arogan, selalu berperilaku kasar. Mulai bermain wanita. Hingga akhirnya menikah secara diam-diam dengan salah satu wanita simpanannya. Ibu sangat terpukul, sehingga sampai sakit berbulan-bulan.

Tak jarang Ayah melampiaskan amarahnya kepada kami, putra-putrinya. Kakak dan aku juga merasakan kekerasan fisik.

Hingga sekarang kakak belum berumah tangga. Padahal usianya sudah cukup matang untuk segera mengakhiri masa lajangnya. Kakak beralasan kalau dia ingin menemani Ibu menikmati masa tuanya. Namun, sebenarnya ada alasan yang lebih kuat, yakni kakak trauma, akibat kekejaman Ayah terhadap kami.

***

Ibu dan Kakak datang ke rumah kost-ku. Mereka memang sering datang. Ketika aku hendak berangkat ke rumah sakit, kuajak mereka ikut serta. Mereka memang sudah mengetahui jika aku sedang mengurus seseorang di rumah sakit – seorang lelaki tua yang aku mengenalnya secara singkat. Namun, Ibu penasaran siapa sebenarnya dia.

“Nanti Ibu lihat saja sendiri,” kataku.

“Kamu memang anak yang baik,” ujar Ibu, “dari dulu senang menolong orang lain.”

“Ya, selagi aku bisa, Bu,” kataku lagi.

Akhirnya kami berangkat. Tak sampai setengah jam kami sampai. Setibanya, kami langsung menuju ruang perawatan lelaki itu.

Begitu masuk ke ruang itu, Ibu mendadak terkejut melihat lelaki yang sedang tertidur itu. Dia langsung ke luar lagi. Kulihat Kakak juga terbengong. Kuhampiri Ibu.

“Kamu….” suara Ibu terputus.

Aku bingung. Kulihat mata Ibu mulai berair.

“Kenapa, Bu?” tanyaku.

Ibu menangis. Aku makin bingung. Kakak menghampiri kami.

“Kamu tahu siapa dia?” tanya Ibu, parau suaranya.

“Kak?” tanyaku pada Kakak.

Agak lama mereka terdiam. Sama-sama menangis. Aku seperti orang linglung.

“Dia itu….” ucap Kakak kemudian, agak berat, “Ayah.”

Aku kaget luar biasa. Mendadak aku gemetar. Tak bisa berkata apa-apa. Ibu bergegas pergi. Kakak mengejar. Cukup lama aku membisu, kemudian segera menyusul mereka.

Di luar, Ibu dan Kakak berangkulan. Menangis. Aku mendekat.

Ibu menatapku.

“Betulkah apa yang dikatakan Kakak, Bu?” tanyaku.

Ibu hanya mengangguk. Matanya merah basah. Kemudian memelukku. Kakak ikut memeluk. Tangis kami menyatu.

Ternyata, lelaki tua yang aku tolong itu adalah ayahku sendiri. Ya, Ayah, lelaki yang mengalirkan darah dagingnya ke dalam ragaku. Lelaki yang telah tega mencampakkan kami anak-istrinya. Yang kerap menyiksa kami dulu. Kini, di ujung waktunya, dia harus menapaki garis hidupnya seorang diri. ***

Washadi, S.Pd, MM.Pd, seorang Guru dan Penulis, tinggal di Tangerang Selatan, Banten. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa, antologi puisi dan antologi cerpen. Aktif berkegiatan sastra di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel. Saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Kesenian Tangerang Selatan (DKTS) merangkap Komite Sastra, dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Wilayah Banten. Kini menjadi Ketua Bidang Humas dan Kerjasama Antar Lembaga AGUPENA.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerpen

Senandung Cinta di Lalao

Cerpen: Heronimus Bani Sejauh mata memandang di pantai Ba’a nuansa sore mengantar

Di Shopping Center

“Neta, ikut mbak Shopping yuk..”, ajak Mbak Nela. Mbak Nela itu, kakak

Perempuan Pemurung

Cerpen: Hadi Sastra Perempuan itu melepaskan pandangannya. Siang tak lagi terik. Angin
Go to Top