Menulis Tak Lebih Karena Keterampilan Semata

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
(STAIN Sorong & Agupena Papua Barat)

Jika di masa kecil mengingat bagaimana kali pertama belajar mengayuh sepeda, ada saatnya jatuh namun tidak memutuskan keinginan untuk sampai mengendarai sepeda. Dari jatuh ke jatuh, itulah yang akhirnya mengantar kita sampai pada keterampilan menjalankan sepeda. Salah satu pendukungnya, ketiadaan cemas dan takut. Asa yang muncul justru adalah keberanian dan kemauan. Tanpa semua itu, saat kekhawatiran mengalahkan optimisme, maka kesempatan belajar akan hilang.

Sama persis dengan menulis, dalam konteks keterampilan. Semuanya perlu dimulai dari niat dan tidak ada kata menyerah sampai mampu menuliskan gagasan. Jika frekuensi latihan semakin sering disertai dengan dukungan bacaan dan pengalaman, maka kemahiran menulis akan semakin terasah. Akhirnya, lintasan benak dan juga refleksi dapat dituliskan dengan mudah.

Hanya saja, walau menulis tidaklah sama persis dengan mengendarai sepeda. Ada beberapa hal yang perlu menjadi catatan. Jikalau sepeda diperlukan intuisi dan refleksi sehingga tidak terjadi kecelakaan, maka dalam menulis diperlukan juga intuisi dan refleksi supaya tidak menuliskan sesuatu yang membosankan. Sehingga tulisan yang dihasilkan akan dicampakkan begitu saja. Sehingga saat menulis, perlu memilah dan melakukan kajian untuk mendapatkan topik yang sesuai dengan keperluan pembaca.

Godaan berikutnya adalah soal plagiat. Secara kasar, plagiat bisa saja diartikan tindakan pencurian. Sehingga jangan sampai seorang penulis terjebak pada kehinaan ini. Bisa saja seorang penulis salah, tetapi jangan sampai berbohong. Ketika menulis tidak diiringi dengan tindakan yang jujur, maka semua kepercayaan pembaca akan sirna. Dengan menjiplak, maka itu merupakan bagian dari kebohongan.

Menulis juga berkaitan dengan membaca. Jika itu sebuah tulisan dalam ragam ilmiah, maka kemampuan meneliti juga menjadi prasyarat. Untuk melengkapi data pendukung, maka dengan membaca akan mengoleksi khazanah informasi sehingga tulisan akan semakin beragam dan informatif. Jikalau sebuah tulisan hanya berisi gagasan yang tidak disempurnakan dengan data, maka akan terasa garing dan pada akhirnya tidak memberikan kebermanfaatan bagi pembaca.

Menulis dan membaca sebuah tindakan yang manunggal dan saling mengukuhkan. Dengan menulis, ada kebaruan informasi yang disebarkan. Sementara itu, ketika menulis akan mengabadikan sebuah informasi. Ketika keduanya sudah menjadi tabiat, maka pilar-pilar kemanusiaan akan semakin mudah untuk ditegakkan.

Soal keterampilan pada menulis, karena tak satupun manusia yang lahir dengan kemampuan menulis yang dibawa dari rahim ibunya, maka persoalan latihan menjadi kunci bagi kemahiran dan penguasaan kemampuan menulis. Semakin sering dilatih, semakin terampil. Pada saat ditinggalkan, bisa saja apa yang sudah dicapai sebelumnya akan lenyap dengan perlahan. Untuk itu, proses untuk menguasai kemahiran menulis tidak dapat hanya dilakukan sekali saja sebagaimana berupaya untuk mengendarai sepeda. Lebih dari itu, diperlukan tahapan dari waktu ke waktu untuk penguasaan pada ragam tulisan tertentu. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top