Panggilan Mesra Sang Kekasih

Rubrik Opini Oleh

Oleh: Edi Sugianto
(Esais, Penyair, Qari’, dan Pendidik)

Bila panggilan mesra Sang Kekasih sudah terdengar, semua menjadi terabaikan. Tak peduli, apa yang terjadi, siapa yang menanti?‘Ku tetap berlari menyambutnya dengan senyuman: Marhaban ya Ramadhan.
(E-sug)

Edi Sugianto

Begitu kira-kira kaum beriman merindukan Ramadhan, bulan istimewa yang hanya diberikan Allah Swt. kepada orang-orang istimewa (ءَامَنُوا). Seberat apapun permintaan, bila Sang Kekasih yang menyerukan, semuanya menjadi indah, dan tanpa beban. Hai orang-orang (kekasih-Ku) yang beriman! Puasa menjadi indah, membaca Al-Qur’an terasa menyenangkan. Shalat malam pun menjadi waktu ‘curhat’ yang enggan diabaikan.

Haus dan lapar bukan ujian terberat bagi mukmin sejati, melainkan kejujuran takwa yang menentukan kemurnian imannya. Mungkin saja seseorang ‘setia’ (bertakwa) saat Ramadhan, tapi ketika Ramadhan pergi, ia justru ‘mendua’, atau ‘menomorduakan’ kepentingan agama (Allah) di atas kepentingan-kepentingan yang lain, padahal “hakikatul ibadah ma ba’dal ibadah,” artinya, hakikat ibadah sejatinya apa terjadi setelah ibadah itu usai.

Pertanyaannya, sejauh mana kesetiaan kita kepada Allah Swt.? Apakah Shahadat sudah menjadi janji sehidup-semati? Ataukah hanya janji palsu/pemanis buatan sesaat? Ataukah takwa kita kepada-Nya sekadar momentum saja (saat Ramadhan)?

Kata (kalimat) “تَتَّقُونَ” di akhir surat al-Baqarah:183, merupakan fi’il mudhari’ yang berarti ‘sekarang dan akan datang’. Hal itu mengisyaratkan, bahwa nilai-nilai puasa Ramadhan semestinya dijaga secara konsisten, baik dalam Ramadhan, dan di luar bulan Ramadhan (11 bulan lainnya).

M.Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan, bahwa takwa berarti ‘menghindar’. Pertama, menghindar dari kekufuran dengan jalan beriman. Kedua, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketiga, menghindar dari segala hal, yang menjauhkan pikiran dari mengingat Allah Swt.

Dalam Surat Al-Baqarah, ayat 1-5 dijelaskan, bahwa orang-orang yang bertakwa,  memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) beriman kepada yang ghaib, (2) mendirikan shalat, (3) menafkahkan sebagian rezkinya, (4) beriman kepada Al-Qur’an, dan Kitab-kitab sebelumnya, (6) serta yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.

Kata beriman “يُؤْمِنُونَ, memiliki makna yang lebih mendalam daripada ‘percaya’. Beriman, objeknya abstrak, dan suprarasional, metodenya latihan-latihan spiritual (ar-Riyadah ar-Ruhiyyah), ukuran kebenarannya ditentukan oleh rasa, dan keyakinan masing-masing.

Begitu pun dalam Ramadhan, perintah puasa hanya diindahkan ‘orang-orang’ yang yakin, bahwa puasa memiliki manfaat besar dalam kehidupan spiritualnya. Bagi mereka yang tidak yakin, atau hanya setengah keyakinannya, seperti Sabda Rasulullah Saw.,“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapat (manfaat) dari puasanya kecuali lapar dan haus saja”. (H.R. At-Thabroni)

Dr. Ma’rifat Iman, MA memaparkan. Secara harfiah, Ramadhan berasal dari kata Ramidha-yarmadhu, artinya membakar, menjadi terbakar. Jadi, Ramadhan (masdhar/infinitive) bermakna pembakaran, baik pembakaran dosa, atau pun toksid badan dan sebagainya.

Nabi Saw. bersabda: “Bagi tiap sesuatu itu ada zakatnya (pembersihan), dan zakatnya badan adalah puasa”. (H.R. Ibnu Majah).“Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat”. (H.R. Ahmad)

Konsumerisme Ramadhan
Namun, makna Ramadhan seakan kontradiktif dengan fakta yang ada. Semua bisa melihat dengan mata telanjang, bila Ramadhan datang, makanan apa yang tak ada? Sehingga, Ramadhan seakan bukan lagi bulan penuh ampunan, melainkan ‘bulan penuh makanan, dan belanja’.

Menjelang lebaran, masjid-masjid semakin sepi, sedangkan antrean panjang kian mengular di pasar dan mall-mall. Semua pakaian serba baru menjadi tujuan utama Ramadhan, harga mahal bukan masalah.

Apakah hal tersebut nilai-nilai Ramadhan yang dirindukan? Saya kira tidak. Jika itu terus terjadi, lalu dimana makna Ramadhan sebagai tarbiyatul iradah; kontrol diri terhadap kemauan-kemauan yang berlebihan.

Mencari harta untuk kebutuhan hidup memang bukan sesuatu yang ‘haram’, bahkan menjadi perintah dalam Islam (QS. Al-Qoshas [28]: 77), tapi, hidup semata-mata menghamba kepada harta (tujuan utama hidup) sama sekali bukan sifat mukmin sejati. (QS. Al-Fajr [89]:20)

Dalam sebuah hadist Nabi bersabda, mengenai kerakusan manusia terhadap harta: “Kerusakan pada sekawanan kambing akibat dua serigala lapar yang dilepaskan padanya, tidak lebih parah dibandingkan dengan kerusakan pada agama seseorang akibat kerakusannya terhadap harta  dan kemuliaan.” (H.R. Tirmidzi, Ahmad)

Maka benar apa yang dikatakan Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, bahwa orang yang berpuasa terbagi menjadi tiga level:

Pertama, puasa umum (shaumul umum).

أَمَّا صَوْمُ الْعُمُومِ: فَهُوَ كَفُّ الْبَطْنِ وَالْفَرْجِ عَنْ قَضَاءِ الشَّهْوَةِ

“Puasa umum adalah menahan perut dan kemaluan dari menunaikan syahwat”.

Maksudnya, puasa ini bisa dilakukan kebanyakan orang (awam), bahkan anak kecil sekalipun. Puasa ini disebut juga ‘puasa biasa’, yaitu hanya menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa (hubungan suami istri), sejak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, jika ditinjau dari ilmu fiqih, puasanya sah secara lahiriah.

Kedua, puasa khusus (shaumul khusus).

وَأَمَّا صَوْمُ الْخُصُوصِ فَهُوَ كَفُّ السَّمْعِ وَالْبَصَرِ وَاللِّسَانِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ وَسَائِرِ الْجَوَارِحِ عَنِ الْآثَامِ

“Puasa khusus adalah menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota badan dari perbuatan-perbuatan dosa”.

Level puasa ini lebih tinggi dari puasa awam. Selain menahan lapar, haus, dan hubungan suami istri, orang yang berpuasa juga menyingkirkan diri dari ucapan, penglihatan, dan perbuatan yang tidak baik, kurang pantas, dan sia-sia. (lihat QS. An-Nur [24]: 30-31, QS. Al-Maidah [5]: 42, Ali Imran [3]: 133-135).

Ketiga, puasa paling khusus (khususil khusus).

وَأَمَّا صَوْمُ خُصُوصِ الْخُصُوصِ : فَصَوْمُ الْقَلْبِ عَنِ الْهِمَمِ الدَّنِيَّةِ وَالْأَفْكَارِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَكَفُّهُ عَمَّا سِوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِالْكُلِّيَّةِ

“Puasa sangat khusus adalah berpuasanya hati dari keinginan-keinginan yang rendah dan pikiran-pikiran duniawi, serta menahan hati dari segala tujuan selain Allah Swt semata.”

Puasa ini mencapai derajat tertinggi, mumtaz (istimewa), yaitu puasa khusus yang ditambah lagi dengan puasa hati; menghindar dari pikiran, dan khayalan yang bisa memalingkan diri dari zikir kepada Allah. Setiap hembus nafas hanyalah zikir, zikir, dan zikir (QS. Al-Baqarah [2]: 152, QS. Al-Ankabut [29]: 45, QS. Thaha [20]: 14, QS. al-Baqarah [2]: 45-46).

Semoga, Ramadhan kali ini menjadi momentum terbaik dalam perjalanan spiritual kita untuk menggapai takwa Ramadhan yang paling istimewa di sisi Allah Swt. Amin ya Robbal A’lamien. ***

EDI SUGIANTO (Esug), lahir di Sumenep, 22 September 1989 (28 tahun), dari pasangan H. Abd Lathif dan HJ. Holifah. Lulus SD Gedugan I (1996-2001), MTs Al-Hasan Somber Giligenting (2002-2004). TMI Al-Amien Islamic Boarding School, Sumenep Madura (2005-2008), S1- Universitas Muhammadiyah Jakarta (2009-2013). Kegemaran menulis dimulai sejak nyantri di Pesantren Al-Amien. Saat ini tulisannya berupa esai, resensi, dan puisi telah dimuat di berbagai media (cetak, dan online) nasional, seperti koran Kompas, Republika, Koran Tempo, dll. Majalah, Tabloid, Jurnal Kampus, dan Agupena (online). Bukunya yang telah terbit, Menyalakan Api Pendidikan Karakter (2016). 99 Api Berlayar (2016). Tuhan dalam Rintik Hujan (2017). Cinta dalam Secangkir Kopi (2017). Di samping itu, ia juga berkiprah sebagai guru agama Islam di SMA Muhammadiyah 11, Rawamangun, Jakarta Timur, dan SMK Muhammadiyah 15, Setiabudi, Jakarta Selatan. Sekretaris Majelis Pendidikan Kader, PCM Rawamangun (2015-2020). Di waktu luangnya, anggota AIS (Arsenal Indonesia Supporter) ini, punya hobi main futsal, Football PlayStation, seni vocal (nyanyi dan qiroah). Email: esug_L2s@yahoo.com. Facebook: Edi Sugianto Sug.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top