TAFAKUR DI BULAN RAMADHAN

Rubrik Opini Oleh

Oleh: H.A.Sholeh Dimyathi

Pendahuluan
Pada suatu ketika, Rasulullah SAW pernah berkata kepada bangsa Arab: “Bertafakkur satu saat, jauh lebih baik dari pada beribadah satu tahun”, ucapan Rasulullah tersebut dilontarkan Rasulullah, ketika bangsa Arab tengah asyik menekuni lakon kehidupan. Seolah-olah tujuan hidup ini hanyalah dunia yang fana semata, sehingga tidak mengalami perobahan. Kondisi bangsa Arab pada waktu itu, tidak akan berbeda dengan kondisi umat Islam sekarang, bahkan umat Islam semakin kehilangan identitasnya.

Rasulullah mengingatkan kepada kita dengan sabdanya; “Akan datang suatu zaman; dimana (1) Al-Qur’an tinggal namanya: (2).Tidak ada Orang Islam kecuali hanya namanya,mereka hanya berorientasi pada kehidupan dunia;(3) Masjid-masjid dibanggun dengan megah tetapi jauh dari petunjuk;(4).Para Fuqqoha(Ahli Agama) seburuk-buruk yang ada dimuka bumi dan;(5) merajalelanya fitnah (HR.Dailami)

Dalam sabda yang lain,Rasulullah saw.mengingatkan bahwa; “Kehancuran umatku disebabkan dua hal, yaitu meninggalkan ilmu dan memupuk harta Benda. Wahai Abu Zar. bakal ada manusia dan umatku dilahirkan dalam kemewahan, pagi-pagi mereka merancang makanan yang enak„ dan orientasi mereka (derap jiwanya) hanyalah beraneka macam makanan dan minuman, dan saling menyatakan ungkapan puji (terbatas hanya sesama bukan untuk Allah) mereka itulah sejelek-jelek umatku” (HR.Ibn.Majah).

Mengapa Tafakur Perlu Dilakukan?
Umar bin Khatab ra. Sangat menekankan akan pentingnya tafakur diri dalam kehidupan ini : “Evaluasilah dirimu sebelum kamu dievaluasi Allah. Timbang­timbanglah amal kebajikan sebelum amalmu di timbang Allah.

Secara umum, TAFAKUR itu harus mengingat dua hal:

  • Mengadakan konsentrasi;
  • Mengingat-ingat apa yang telah dicapai dalam menjalani hidup.

Mengadakan ingatan, untuk menjalankan tugas hidup manusia, mengandung kemanfaatan-kemanfaatan sebagai berikut:

  • Ingatan akan dapat membawa kontiunitas pengertian kita. Orang yang mudah melupakan sesuatu rencana, suatu tugas, suatu tujuan yang baik, suatu ikrar hatinya, tak bisa mudah menyelesaikan tugas-tugasnya.
  • Pengetahuan kita tentang hal-hal yang kita ingat, memungkinkan mudah mengadakan pemecahan persoalan hidup, karena kita akan ingat cara-cara mana yang dulu telah dianggap baik dan berhasil untuk selanjutnya bisa diterapkan untuk hal yang sejenis, sehingga. kita dapat menghubungkan masalah yang kita ingat itu dengan masalah yang baru, agar dengan mudah kita dapat memecahkan masalah tersebut.
  • Ingatan bisa membawa kita menginsafi siapa kita ini dan dimana. kedudukan kita dalam dunia ini. Tugas hidup tidak hanya terdiri dan persoalan-persoalan praktis, tetapi manusia juga mempunyai kebutuhan mencari makna dari hidupnya sebagai pribadi.

Perlunya Tafakur di Bulan Ramadhan
Allah mengingatkan kita dalam firmannya: ” Maka ambillah (kejadian) itu untuk menjadi pelajaran. hai orang-orang yang mempunyai pandangan”(QS.59;2) ” Dan perhatikanLah bagaimana kesudahannya orang-orang yang berbuat kerusakan”(OS.7:86); “Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa”(QS 7; 84)

Orang beriman dalam bulan Ramadhan, hendaklah berhenti sejenak untuk menghitung-hitung diri dan amal yang telah diperbuatnya pada bulan-bulan yang lalu, kemudian memperkuat keinginan untuk memperbaiki dan menambah amal kebaikannya. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang beriman, takut kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah disiapkannya untuk hari esok dan takut kepada Allah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.  (QS.  Al-Hasyr {59}: 18)

Mari kita bandingkan puasa kita? Paling tidak ibadah puasa kita kerjakan mulai kita baligh umur 15 tahun sampai sekarang,kalau umur kita 45 tahun berarti sudah 30 kali,kalau umur kita 60 tahun berarti sudah 45 kali, Coba bandingkan dengan puasa Rasulullah yang berpuasa mulai tahun 54 .Nabi diangkat sebagai Rasul diusia 40,dakwah dimekah selama 13 th,kemudian hijrah ke Madinah.Ibadah Puasa diwajibkan pertama kali pada tahun ke 2 hijrah.Beliau wafat pada umur 63 th. Berarti Rasulullah berpuasa kurang lebih 9 kali berpuasa.

Dari sisi kwantitas puasa yang kita kerjakan lebih banyak dibanding Rasul dan dari  segi kwalitas,puasa yang kita kerjakan masih JAUH ? Kenapa!!!! adakah perubahan yang terjadi dalam perilaku keseharian kita dan perobahan karakter kita setelah mengerjakan puasa.

Ada sebuah IBROH/Pembelajaran melalui dua makhluk Allah yaitu;Ular dan Ulat . Ular dan Ulat ini dikenal sebagai makhluk rakus,dan setelah dititahkan/diperintahkan untuk berpuasa,hasil dari puasa Ular dan Ulat berbeda. Ulat setelah menjalankan puasanya tetap tidak berobah karakternya,hanya berobah kulitnya (berganti kulit) tetapi karakternya tetap menjadi maklukh yang rakus, sedang Ular setelh menjalankan puasanya,dia berubah menjadi kepompong dan akhirnya lahir dalam bentuk berbeda yaitu kupu-kupu dan karakternya berobah 180’ bebeda dengan hasil puasanya Ular.

Langkah-Langkah Tafakur
Marilah kita persiapkan dengan matang,dalam memasuki bulan suci Ramadhan agar kita tetap dapat menjaga amaliyah setelah Ramadhan. Puasa Ramadhan, sebagai salah satu rukun Islam, merupakan salah satu bentuk pengejawantahan dari Iman. Puasa merupakan pranata bagi seorang mukmin untuk menuju kesuatu derajat ketaqwaan, seperti dijelaskan dalam QS.Al-Baqorah {2}:183; “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini diawali dengan kata “ Yaa ayyuhal ladzina aamanu” dan diakhiri dengan “ La’allakum tattaqun”.  Apa yang terkandung dalam ayat ini? Orang-orang yang beriman diminta atau dipanggil  untuk meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah, melalui kwajiban menjalankan ibadah puasa dibulan suci Ramadhan.

Dengan demikian dapat kita fahami, bahwa puasa Ramadhan adalah sarana atau alat untuk menuju manusia yang shalih secara individu dan shalih secara sosial. Ada empat (4) langkah untuk melakukan tafakur di bulan Ramadhan, yaitu;

Meneliti Diri Sendiri
Agar manusia meneliti dirinya khususnya tujuh anggota tubuh (tangan, kaki, mata, telinga, hidung, lisan dan alat Vital), apakah dalam saat itu masih dalam kondisi selamat atau telah disalah gunakan. Kalau telah disalah gunakan, maka segera perbaiki untuk memfungsikan angota bandannya itu pada proporsi yang sebenarnya dengan disertai penuh penyesalan/taubat, la berfikir bagaimana usahanya untuk tidak berbuat lagi.

Berkaitan dengan meneliti diri di bulan Ramadan, Ustadz DR Firanda Andirja, MA mengingatkan kita untuk selalu waspada terhadap hal-hal yang mengurangi kualitas puasa kita sehingga berkurang pahalanya atau sirna, antara lain:

  • Jauhi ghibah, karena ghibah akan menggugurkan pahala puasa anda, bahkan menurut segelintir ulama membatalkan puasa. Ghibah dijadikan lezat oleh syaitan, karenanya diantara perkara yg sangat menarik adalah menonton atau membaca berita ghibah.
  • Tundukan pandangan, agar pahala puasa anda tidak terkikis dengan aurot wanita yg terpajang di FB apalagi Youtube.
  • Waktu untuk ngenet jangan sampai lebih banyak daripada membaca al-Qur’an, sungguh ini adalah jebakan syaithan
  • Jauhi menghabiskan waktu dengan menonton sinetron yg isinya banyak memamerkan aurot wanita dan melalaikan dari akhirat. Demikian juga ngabisin waktu dengan main game dan semisalnya yg tdk bermanfaat.
  • Jauhi ngabuburit apalagi di jalanan sehingga pandangan tak bisa terjaga.
  • kurangi ngobrol dengan makhluk, banyakan porsi untuk membaca perkataan Rabb mu. Kebanyakan ngobrol dengan makhluk akan mengeraskan hati, adapun membaca firman Kholiq akan melembutkan dan membahagiakan hati. Jangan sampai anda menutup al-Qur’an karena bosan dengan firman Allah demi mendengar perkataan dan ngobrol dengan makhluk.
  • Perhatian terhadap dapur penting, tapi bukan yg terpenting, jangan sampai waktu terlalu banyak tersita untuk dapur sementara kehabisan waktu untuk ngaji al-Qur’an.
  • Semangat beribadah tatkala Ramadhan tapi hati-hati jangan sampai terjerumus dalam riya’ dan ujub karena menulis ibadah di status BB, FB, atau WA. Contoh: (Alhamdulillah sudah khatam Qur’an 5 kali), atau (Sedang i’tikaf mohon jangan mengganggu), atau (Alhamdulillah sempat menyantuni anak yatim di bulan mulia ini), dll. Meskipun menyiarkan ibadah tidaklah haram, tetapi menutup pintu-pintu riya’ dan ujub lebih baik, kecuali untuk memotivasi.
  • I’tikaf adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan ajang untuk ngobrol ngalur ngidul. Jangan sampai warung kopi pindah ke dalam mesjid dengan dalih i’tikaf.
  • Menjelang lebaran, di 10 malam terakhir jangan lupa mengejar lailatul qodar, jangan sampai waktu mencarinya kebanyakannya di mall atau di jalanan.

Berfikir Diri
Berfikir bagaimana agar dirinya bisa selalu menta’ati perintah-perintah Allah baik yang wajib maupun yang sunnah, karena perbuatan sunnah bisa membantu menutup kekurangannya dalam soal-soal yang wajib. Kemudian ia berfikir bagaimana, agar dengan anggotanya tadi dapat berbuat baik lebih banyak, karena dengan perbuatan baiknya tadi bisa menutup perbuatannya yang tidak baik. Allah menjelaskan dalam firmanNya :”Sesungguhnya kebajikan itu bisa menghilangkan kejelekan, yang demikian merupakan peringatan bagi mereka yang ingat akan Allah “(QS. Hud ; 115)

Berfikir diri menekankan kepada 9 pokok persoalan keseharian kita dalam pengabdian kita kepada Allah untuk kita jawab dengan sejujurnya, yaitu:

      • Apakah kita sudah menunaikan-shalat lima waktu tepat pada wahtunya (QS.An-Nisa’; 103)
      • Apakah kita sudah tunaikan shalat berjamaah sesering mungkin (QS. An-Nisa’ ; 102)
      • Bagaimana shalat yang kita kerjakan sudah sekhusu’ mungkin (QS. Al-Mukminun ; 1-2)
      • Sudahkan kita berbuat baiklah kepada orang tua baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal(QS. Lugman: 14)
      • Sudahkan kita berperan menjadi rahmad dilingkungan sosial (QS. An-Nisa’ ; 36)
      • Bersihkah hati kita dari rasa sombong, riya, dendam dan dengki (QS. An-Nahl; 23)
      • Bisakah kita memelihara lisan dari perkataan bohong, gunjingan, berbantah-bantahan dan berbicara yang tidak berfaedah “(QS Al-Hsyr ; 12)
      • Bersihkah usaha dan makanan kita sesuai dengan yang dihalalkan Allah SWT (QS Al-Mu’minun;5)
      • Sudah seringkah kita bertaubat kepada Allah SWT dengan sebenar-benar taubat atas segala kesalahan dan dosa kita (QS. An-Nur ; 31) (Hasan Al-Bana)

Melampui Berfikir;
Bagaimana Cara untuk mengamankan amal dan perbuatan kita dari kekusutan dan kemerosotan, dengan berusaha menjauhi dan memelihara dari sifat-sifat yang muhlikat (merusak), yang bersumber dari hati, seperti sifat dengki, iri hati, sifat takabur, sifat kikir dan bakhil, yang semua itu akan menyesatkan dan menghilangkan pahala dan kebajikan yang telah kita miliki. (Perhatikan QS. Al-Kahfi ; 103-105) Misalnya sifat kikir akan memudahkan menuju perbuatan yang kurang baik, sebaliknya sifat suka memberi dan takwa akan membawa kemudahan untuk berbuat baik. Allah berfirman :”Barang siapa yang suka memberi dan membenarkan kebaikan akan kami gampangkan untuk mendapat kemudahan (pahala kebajikan) “(QS. Al- Lail{92} :5-6)

Melampui berfikir dalam melakukan tafakur dibulan Ramadhan, Imam Qusyairi menyatakan ada delapan thariqah/jalan yang dapat menghantarkan seseorang menuju derajad taqwa, yaitu:

Pertama, At-Takharruzu anil Makhawifi menjaga diri dari segala sesuatu yang ditakuti. Diantara hal yang ditakuti adalah siksa kubur dan siksa neraka. Dengan kata lain At-Takharruzu ‘anil Makhawifi adalah menghindarkan diri dari berbagai hal yang menyebabkan diri kita terseret ke dalam neraka. Dan juga menghidar dari segala yang menyebabkan diri tersiksa di alam kubur. Diantara beberapa hal yang menyebabkan seseorang tersiksa di alam kubur adalah masalah-masalah yang dianggap sepele tetapi memiliki efek cukup besar. Dengan jelas diterangkan oleh Rasulullah saw bahwa kebanyakan orang disiksa kubur karena menyepelekan percikan air kencing. Artinya, air kencing yang samar di mata, tetaplah najis. sekecil apapun titikan air itu jika mengenai pakaian tentunya akan merusak shalat kita, jika pakaian itu dikenakan dalam shalat.

Hal lain yang juga menyebabkan siksa kubur adalah kebiasaan mengambil ‘mengutil atau bahasa Jakartanya ngembat’ barang yang bukan haknya. Seperti mengambil sandal yang dianggap tidak terpakai dari masjid atau mengambil bunga milik kelurahan atau RW untuk ditanam di rumah sendiri tanpa sepengatahuan yang berwenang. Dua kasus berikut akan menggambarkan penyebab siksa kubur.

Pertama kisah dari Nabi Isa ketika beliau sedang berjalan melewati sebuah kuburan. Terdengar suara orang meregang kesakitan. Dengan mu’jizat yang dimilikinya, Nabi Isa pun kemudian menghidupkan kembali orang yang berada di dalam kubur tersebut. Lalu beliau bertanya “apakah kesalahan yang engkau perbuat, sehingga Allah menyiksamu di alam kubur seperti itu? Lelaki itupun menjawab “semenjak kedatanganku dalam kubur ini, Aku telah mendapat siksa yang pedih akibat dari kelakuanku mengambil kayu yang bukan milikku. Seberapa banyak engkau mengambilnya? pertanyaan nabi Isa. Lelaki itu kemudian menjawab tidak lebih besar dari sisa makanan yang menyelip di dalam gigi.

Cerita kedua dari Qirqiroh seorang yang telah dianggap anak oleh Rasulullah saw. Begitulah ia dididik oleh lingkungan keluarga Rasulullah saw. belajar bergaul dan belajar agama dari Rasulullah saw. Oleh karena itulah ia dipercaya menjadi scurity, menjaga gudang tempat penyimpanan barang-barang rampasan perang.  Anehnya ketika datang berita kematiannya Rasulullah malah menjawab ‘huwa finnar’ dia berada di neraka. Ternyata setelah diusut, Qirqirah pernah mengambil selimut dari gudang tersebut.

Demikianlah langkah pertama menuju ketaqwaan dengan menghindari dan menahan diri dari keinginan memiliki. Apalagi memiliki barang yang bukan miliknya.

Kedua, at-Tasmir Lilwadhoifi semangat melaksanakan tugas-tugas keagamaan. Artinya giat menjalankan ibadah. Tentunya sesuai dengan kondisi masing-masing. Bagi pelajar giat mencari ilmu, bagi karyawan giat bekerja sesuai tugas, bagi seorang hakim semangat dengan keadilannya, bagi pejabat dan pemimpin amanah dengan kepemimpinannya. Kesemuanya itu jika diniatkan sebagai ibadah merupakan amal yang sangat berharga.

Ibadah sebagai mana diterangkan oleh sebagian ulama cabangnya ada tujuh puluh tujuh. Mulai dari membaca syahadat hingga mengambil duri dari tengah jalan demi keselamatan orang banyak. Semangat inilah yang akan mengantarkan kita menjadi orang yang bertaqwa

Ketiga, Hifdhul Hawasi menjaga panca indera. Sesungguhnya berbagai macam godaan setan kepada manusia itu masuk melalui pintu panca indera. Mata, telinga, mulut, hidung dan juga kulit. Jika tidak dijaga dengan ketat semuanya bisa menjadi jalur masuknya godaan-godaan setan

Keempat, Addul Anfas yaitu menghitung nafas. Memang treatmen keempat jika tidak difahami akan terasa aneh. Untuk apakah seseorang menghitung nafas. Lantas jikalau sudah terhitung mau apalagi? Bukan, bukan sekedar menghitung yang dianjurkan, tetapi menghitung sambil berpikir.

Bahwasannya nafas yang telah masuk dan keluar tidak akan pernah masuk kembali. Artinya udara yang kita hirup tidak pernah persis sama datang untuk kedua kali. Bersama dengan kepergiannya telah berkurang umur kita. udara itu seolah membawa sebagain nyawa kita, menggerogoti kehidupan kita, detik demi detik. Dulu semasa kita masih berumur 20 tahun sisa umur kita masih panjang. Tapi tak terasa nafas yang datang dan pergi tiap saat itu seakan ‘menambah’ umur kita menginjak 60 tahun. Dan  sisanya pastilah tidak seberapa.

Oleh karena nafas sangatlah berharga. Umur itu bagaikan mutiara yang tak ternilai. Hanya orang-orang bodoh yang mau menukarkan mutiaranya dengan barang-barang rongsokan. Semalam suntuk, ngrumpi melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat,menikmati sampah-sampah hiburan dan kepuasan nafsu. Berminggu-minggu di atas kapal pesiar memuaskan kesenangan dengan berpoya-poya. Na’udzubillah mindzlik. Atau berjam-jam di depan televisi memperhatikan gosip selebritis sedangkan adzan magrib sudah berganti dengan adzan isya?

Memang di saat orang masih sehat, masih hidup nafas seolah menjadi barang murahan. Tetapi ketika ajal menjelang, nafas sekali sungguh berharga. Karena sekali itu kesempatan dapat diisi dengan tiga kali kata Allah, Allah, Allah kunci keselamatan di akherat nanti. Sayangnya pada saat itu seberapa banyak uang yang kita miliki, tidak akan mampu membayar satu kali nafaspun.

Oleh karena itulah para sufi mengingatkan bahwa: Bahwa lebih utama-utamanya tha’at kepada Allah adalah menjaga nafas. Yakni masuk dan keluarnya disertai dengan dzikir kepada-Nya.

Kelima, Tanzihul Waqti an Mujibatil Mu’zi artinya menjaga waktu agar senantiasa bersih dari berbagai hal yang mendatangkan siksa Allah swt. Entah itu bersih dari dosa, maksyiat dan berbagai macam kesalahan dan mengisi waktunya dengan segala kebaikan.

Langkah selanjutnya yaitu keenam Hifdhul Birr yaitu menjaga kebaikan. Maksudnya menjaga diri agar selalu berbuat baik. karena kebaikan itulah yang akan menghantarkan kita pada kesuksesan bertaqwa, demi keselamatan di dunia maupun di akherat nanti. Maka secara otomatis ketika kita telah melakukan tanzihul waqti an mujibatil mu’zhi dan hifdzul birr, maka langkah ketujuh, Tarkul Wizri  Meninggalkan berbagai kesalahan dan dosa.

Dan yang terakhir (delapan) adalah Al-Ikhtima’ at-Tam ‘amma Yuskhitul Maula, yaitu diet menghindar dengan sepenuh hati apa yang dimurkai Allah swt. Diet disini dimaknai dengan usaha penuh kesadaran meninggalkan yang menyebabkan dosa. Dalam usaha semacam ini dipraktekkan dengan melakukan uzlah yaitu mengasingkan diri dari dunia ramai, dengan tujuan agar terhindar dari dosa. Karena mayoritas dosa itu  datangnya dari persinggungan kita dengan keramaian. Bukankah seseorang akan cenderung diam ketika sendiri dan cenderung membicarakan orang lain jika bertemu teman?

Mencita-Citakan Untuk Bisa Memiliki Sifat Munjiyat (Penyelamat):
Dalam tahap yang keampat ini, kita perlu memiliki dan selalu berhias dengan sifat sifat munjiyat (penyelamat), seperti ; Selalu bertaubat, menyesal atas perbuatan yang kurang pantas dilakukan, sabar, syukur terhadap nikmat Allah baik yang langsung diterima maupun dengan perantaraan orang lain, mempunyai hati optimis, raja’ dan khauf, tidak putus asa, ikhlas berbuat. Dengan akhlakul karimah tersebut derajad iman kita akan terangkat. Sebagaimana Sabda Rasul :” Sesempurna kaum mukminin iman mereka adalah yang baik akhlaknya”

Allah SWT mengingatkan kita dalam QS.{43}; 36-38 :”Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan Sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di hari kiamat) Dia berkata: “Aduhai, semoga (jarak) antaraku dan kamu seperti jarak antara masyrik dan maghrib, Maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia)”.

Janji Allah bagi Orang yang Taqwa :
Puasa Ramadhan akan meningkatkan ketaqwaan kita. Taqwa adalah bekal yang terbaik (QS.{2}:197), Taqwa adalah pakaian yang terbaik (QS.{7}:26) dan Orang taqwa adalah orang yang paling mulia (QS.{49}:13). Orang yang bertaqwa akan memperoleh; Barkah  : bermanfaat dan membahagiakan (QS.7:96); Furqonan : Jalan pemisah antara baik dan buruk (QS.8:29); Al-Busyra : Kegembiraan (QS.10:62-64); Bersama Allah (QS.16:128); Dicintai Allah (QS.3:76); Yusra : diberikan kemudahan (QS.15 ;At-talaq); Makhrajan : diberikan jalan keluar dari kesulitan (QS.15:2); Rizki nya tidak sulit (QS.15:3); Diberikan aDmpunan dari Allah (QS.8:29); Hasanah, dan khairan : Diberikan kebaikan (QS.16:30, 2:103).

Sedang indikator seseorang bertaqwa ditandai dengan sikap dan perilaku TAWADZU’=Rendah Hati; QONAAH=Merasa cukup dengan kenikmatan yang diberikan Allah; WARA’=Menjauhkan diri dari hal yang haram dan maksiyat dan YAQIN=Selalu optimis dalam menjalani kehidupan. Itulah janji Allah bagi orang yang bertaqwa, dan melalui tafakur dibulan Ramadhan ini kita dapat meningkatkan kualitas bertaqwa dalam arti yang sebenarnya. Semoga!

Bekasi, Awal Ramadhan 1438 H

Drs. H. Ahmad Sholeh Dimyathi, MF., MM. (biasa dipanggil Pak Kyai) lahir di Pati, Jawa Tengah, 17 Oktober 1954. Prestasi yang berhasil dicapainya meliputi pemenang utama Lomba Kreativitas Guru (LKG) tingkat nasional tahun 1997, guru teladan tingkat Jakarta Timur tahun 2000, pemenang II Lomba Kreativitas Guru (LKG) tingkat nasional tahun 2001 dan 2002, guru berprestasi dan berdedikasi luar bisa tingkat nasional tahun 2005, kepala sekolah berprestasi nasional tahun 2006, dan pengawas berprestasi terbaik 2 tingkat DKI Jakarta tahun 2014. Dalam kepangkatan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) berhasil meraih pangkat pembina utama dengan golongan IV E. Pangkat dan golongan ini bagi PNS yang berkarir dari seorang guru, merupakan prestasi yang sulit dicapai. Pada tahun 2004 ia meraih Satya Lencana Pendidikan Guru Berprestasi dan Berdedikasi dari Menteri Pendidikan Nasional. Saat ini menjadi Dewan Pembina Pengurus Pusat Agupena (Asosiasi Guru Penulis Indonesia).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Opini

Mana Pahlawanku?

Hari Pahlawan 2017 telah berlalu (10/11). Pada hari itu seluruh rakyat Indonesia,

IT dan Hasil Karya

Oleh: Fortin Sri Haryani Abad ke-21 disinyalir sebagai abad digital karena instrumentnya
Go to Top