Guru: Antara Pengabdian dan Realita

Rubrik Pendidikan Oleh

Roswita M. Aboe
(Ketua Wilayah Agupena Maluku Utara)

Pada sebuah bincang-bincang saya dengan kolega jauh asal Belanda, seorang pengajar di level Kindergarten atau tingkat taman kanak-kanak, kami sempat membicarakan  tentang  pola belajar anak-anak usia dini dan penerapan kurikulum di Negara Belanda. Ujung percakapan itu, kolega saya mengatakan dia menerima gaji dasar sebesar Rp.40juta dan saya dibuat terkaget-kaget dengan penjelasannya, sambil membayangkan gaji guru taman kanak-kanak di Indonesia.

Guru merupakan pekerjaan yang paling mulia. Patutlah di beri sebutan pahlawan tanpa tanda jasa. Memang benar adanya. Pengabdian guru tanpa pamrih dan tanpa mengharap balas jasa. Realita yang dihadapi hampir semua yang berprofesi guru adalah sama; pendapatan yang tidak berimbang dengan kebutuhan sehari-hari. Wajar ada kebijakan pemerintah untuk menetapkan tunjangan guru dalam bentuk penghargaan bagi guru-guru professional atau minimal yang sudah memiliki masa kerja 2 tahun. Pun penghargaan tersebut tidaklah seberapa dibanding dengan pengabdian sepanjang tahun yang dilakukan untuk mencerdaskan generasi bangsa. Secara financial, guru-guru di Indonesia termasuk yang paling kecil pendapatannya dibanding Negara-negara di Asia. Dari survey yang dilakukan oleh Varkey Games Foundation  (Okezone.com) yang di kutip dari Huffington Post (12/10/2013)  guru-guru yang memiliki penghasilan paling tinggi adalah di Singapura dengan jumlah USD45.775 atau setara dengan Rp.512juta per tahun. Artinya para pendidik di Singapura menerima gaji per bulannya rata-rata Rp42,6juta. Amerika Serikat (AS) menyisakan budget sebesar USD44.917 atau senilai Rp503juta per tahun bagi tiap tiap guru. Dan Korea Selatan di urutan ketiga dengan jumlah USD43.874 atau Rp.491juta per tahun. Ketiga Negara ini masuk dalam 21 negara dengan gaji guru paling menjanjikan.

Dari daftar Gaji Guru yang dilansir di Liputan6 (27 Nov 2014) bersumber dari The Guardian (27/11/2014) di 30 Negara yang menjadi anggota OECD (Organisation for Economic Co-Operation and Development) guru yang berpenghasilan paling tinggi adalah di Negara Swiss dengan jumlah USD68.820 atau Rp.837Juta per tahun dengan jumlah gaji per bulan Rp.69.7juta, pemerintah Swiss menganggarkan biaya yang cukup besar bagi guru-gurunya, sedangkan gaji pegawai lainnya berada dibawah itu. Selain Swiss di urutan pertama, Belanda, Jerman dan Belgia juga memberikan imbalan  pekerjaan yang cukup menghidupkan bagi tenaga pengajar mereka. Negara Belanda USD57000 atau Rp637,5 juta dan perbulannya menerima Rp53.1juta.

Indonesia berada pada urutan ke 30 dengan gaji guru per bulannya rata-rata Rp2.8juta atau USD. 2830/tahun. Pendapatan sejumlah ini harus dicukupkan untuk keberlangsungan hidup mereka. Sedikit miris jika kita harus membandingkan upah seorang profesional seperti guru dimana di negara Finlandia disetarakan keprofesionalitasnya dengan dokter atau pengacara. Finlandia berada di urutan ke-sembilan setelah Australia, untuk perolehan pendapatan guru yaitu sejumlah USD 42.810 atau di kisaran 46juta per bulan.

Indonesia tentunya tidak dapat disamakan dengan Finlandia ataupun Negara maju lainnya. Tetapi minimal ada perhatian pemerintah dalam hal ini. Tunjangan guru selain gaji tentunya masih bisa menjadi ‘solusi’ sementara atas krisis pendapatan. Selain itu  ada banyak hal yang harus dibenahi. Salah satunya kualitas dan kinerja guru. Dasar pertimbangan kompetensi dan kualitaslah yang menjadikan sebuah Negara seperti Finlandia maju dalam pendidikannya. Faktor-faktor pertimbangan ini antara lain: institusi pendidikan cenderung selektif menyaring tenaga pendidik. Selain itu seorang  guru yang lolos seleksi adalah alumni dari universitas yang terkemuka (terkenal),  seorang tenaga pendidik di tingkat dasar saja harus bergelar magister. Dan terkait pengembangan profesi, terdapat hanya 10 persen dari jumlah total seluruh guru yang  bersaing dan lolos dalam mengikuti pelatihan profesi guru. Sekalipun telah memperoleh pelatihan tenaga pendidik, di setiap 6 jam mengajar, terdapat 2 jam khusus bagi guru untuk mengikuti pendidikan pengembangan profesi. Rasio guru-murid pun berimbang.

Kebijakan pengembangan kurikulum  di negara ini berbeda jauh dengan Indonesia. Kurikulum pendidikan di Indonesia terpusat pada pemerintah. Sedangkan di Finlandia, kurikulum hanya sebagai pedoman, pelaksanaan pendidikan di kelas bersifat fleksibel.  Tidak heran pada tahun 2003 Finlandia berada di peringkat I dunia untuk kualitas pendidikannya (hasil survey OECD – Organisation for Economic Cooperation and Development). Adalah sebuah harapan yang membutuhkan usaha untuk diwujudkan oleh pemerintah Indonesia dalam meningkatkan profesionalitas dan kulitas tenaga guru dan, bercermin dari negara-negara maju dimana guru layak diberi penghargaan setara profesi, maka di Indonesia, reward dan peningkatan pendapatan guru harus berimbang dengan tugas dan jabatannya. ***

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Pendidikan

PAHLAWAN ZAMAN NOW

Oleh Fortin Sri Haryani Pahlawan diartikan sebagai seorang yang telah berjasa, memberikan
Go to Top