Menulis Tak Ada Soal dengan Bakat

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong-Agupena Papua Barat

Kita kenal Buya Hamka, seorang maestro yang mewariskan tulisan. Termasuk Tafsir Alazhar yang menjadi legenda. Namun, tak ada seorang putra maupun putrinya yang menyamai kemampuan allahuyarham. Demikian pula Buya Syafii, Andrea Hirata, dan Asma Nadia, ketiganya diantara penulis yang tidak kita kenal orang tuanya memiliki jejak rekam sebagai penulis.

Jika membaca sekelumit fakta tersebut, maka keterampilan menulis bukanlah soal bakat yang diwariskan melalui genetika. Tak ada sangkut paut apapun antara kemampuan menulis dengan darah yang mengalir dalam diri seseorang. Faktor pengasuhan dan dorongan orang tua iya. Tetapi bukan karena bawaan hereditas yang sudah dimiliki sejak lahir.

Ketika seseorang dilahirkan, hanya kemampuan menangis dan menyusu saja yang dikuasai. Selain dua itu, harus dipelajari. Bahkan harus belajar cara makan, dimana justru manusia tidak bisa bertahan untuk hidup jikalau tidak makan. Dengan demikian, ketidakmampuan menulis bisa menjadikan bakat sebagai alasan. Sebab tidak sangkut paut antara keterampilan menulis dengan genetika yang dimiliki.

Semata-mata, untuk menguasai kemampuan menulis perlu latihan yang berkesinambungan. Bisa saja dilakukan secara otodidak. Buya Hamka tidak pernah menduduki pendidikan formal. Kemampuan menulisnya dikuasai secara otodidak, dimana belajar menulis diusahakannya secara mandiri. Karya-karyanya diawali dari pengalaman maupun pengamatan. Novelnya didahului dengan interaksi kebudayaan. Sehingga mampu menulis tokoh dengan identitas kesukuan tertentu. Semuanya tak lepas dari belajar langsung dari alam, dengan Allah sebagai penguasa-Nya.

Demikian pula Dahlan Iskan. Tidak menyelesaikan pendidikan sarjana. Bahkan memiliki perusahaan surat kabar. Salah satu penguasa industri media dengan jaringan yang teramat luas. Terbentang dari Papua sampai Aceh. Itu juga bukan karena pendidikan formal yang diselesaikannya.

Begitu juga, kita dengan mudah menyaksikan seorang wartawan justru bukan berasal dari jurusan bahasa dan sastra. Tommi Lebang, wartawan senior yang pernah bekerja di Tempo. Justru menyelesaikan pendidikan di fakultas teknik Universitas Hasanuddin. Kita bisa memeriksa para pimpinan redaksi media di tanah air, sebagian besarnya bukan dari jurusan komunikasi.

Ini menandakan bahwa menulis merupakan kemampuan yang dikuasai dengan cara belajar. Baik secara individual maupun secara khusus melalui pendidikan tinggi atau kursus. Jika dimasa lalu, menulis diartikan secara harfiah, maka dengan dukungan teknologi saat ini, menulis tidak lagi merupakan aktivitas yang berkaitan langsung dengan tinta dan kertas. Menulis bahkan sudah hampir disamakan dengan aktivitas mengetik. Semuanya tak lebih dari urusan berlatih, mengoreksi, dan disertai kesungguhan pribadi. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top