Menulis Tak Harus Menunggu Sempurna

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Jikalau karena alasan harus sampai pada kesempurnaan, tidak ada karya yang pernah lahir. Kecuali Kitab Alquran, semuanya karya pasti mengandung cacat. Sehingga, jika harus sudah sempurna, selamanya tidak akan pernah ada karya yang dapat dinikmati khalayak.

Bahkan karya yang terbaik adalah karya yang bisa selesai. Jika itu buku, maka buku yang terbaik adalah buku yang bisa terbit. Sementara jika itu skripsi, maka skripsi terbaik adalah skripsi yang mengantar mahasiswa untuk sarjana. Walaupun harus melalui perbaikan mayor sekalipun. Kelulusan menjadi tujuan akhir, selanjutnya karya itu bukan juga karya satu-satunya, bahkan menjadi karya yang terakhir. Tetapi hanya salah satu syarat belaka untuk melewati gerbang kelulusan.

Ada kesempatan untuk melakukan revisi jikalau itu dalam bentuk buku. Pada waktu mendatang ada peluang untuk menerbitkan edisi revisi. Sehingga kekeliruan ataupun kekurangan bisa saja dilakukan perbaikan. Sementara jikalau itu artikel jurnal, ada editor in chief atau mitra bebestari yang akan memberikan catatan untuk melakukan perbaikan. Jikalau itu di koran atau majalah, dewan redaksi yang mengecek kekeliruan yang dilakukan penulis. Adapun untuk penulisan skripsi dan semacamnya, ada pembimbing minimal dua orang yang akan turut menjadi bagian dari proses menulis. Sehingga ada saja orang lain yang akan turut dalam usaha penerbitan karya, sehingga mereka memastikan bahwa penerbitan sudah memenuhi usaha-usaha untuk menyempurnakan sebuah karya.

Saat menulis, usaha maksimal yang dapat dilakukan seorang penulis memastikan karyanya tidak mengandung plagiat. Ketika ada ide orang lain, tetap harus mensitasi sumber dimana ide tersebut diperoleh. Hanya saja, jika menuliskan sepuluh halaman karya orang lain walaupun disitasi dengan tepat, tetap saja karya itu tidak memenuhi standar ilmiah sebuah penulisan manuskrip.

Pada urusan plagiat ini, penulis secara kasar dapat dihakimi sebagai pencuri jikalau menuliskan bagian dari karya yang ternyata mengandung plagiat. Padahal, buku ataupun sebuah karya adalah cerminan dari sikap individu penulisnya. Maka, semestinya secara keseluruhan merupakan gagasan asli yang dihasilkan dari kontemplasi sang penulis. Tidak ada celah sedikitpun untuk memberikan tempat bagi keteledoran untuk melakukan kecurangan. Sebab itu penghianatan terhadap nilai luhur tradisi keilmuan sebagai jalan menuju Tuhan.

Kata taqwa, tidak dapat dimaknai secara sempit hanya pada soal ibadah semata. Melainkan perlu juga diperluas pada urusan karya ilmiah. Kejujuran akademik perlu dijadikan sebagai bagian keimanan. Sejatinya seorang penulis berusaha mendekat kepada Allah melalui karya. Maka, tidak pernah ada peluang untuk melakukan kecurangan dalam bentuk plagiat.

Adapun soal bahasa, secara detail dapat saja dikerjakan penyunting bahasa. Jikalau sudah dituliskan oleh sang empunya karya, maka selanjutnya itu urusan penyunting untuk mengecek kembali keadaan naskah sampai layak untuk diterbitkan. Penulis dapat saja berdiskusi dengan penyunting untuk memastikan bahwa ide yang dimiliki penulis, dapat dipahami oleh penyunting. Sehingga tidak ada jarak antara penulis dengan buku yang ditulisnya, hanya karena melalui proses penyuntingan kemudian terjadi keterputusan pesan antara penulis dengan karyanya.

Akhirnya, menulis merupakan rutinitas untuk mempersembahkan alat bagi usaha mendukung kemajuan ilmu pengetahuan. Untuk itu, sebuah kesalahan akan dikoreksi oleh kalangan internal penggiat ilmu pengetahuan itu sendiri. Sepanjang usaha sudah dilakukan untuk memastikan bahwa informasi yang disajikan sudah benar, maka bisa saja manuskrip dapat diterbitkan. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Go to Top