Menjaga Istiqomah Menulis dengan Jamaah

Rubrik Literasi Oleh

Ismail Suardi Wekke
STAIN Sorong & Agupena Papua Barat

Jika sebuah asa dipertahankan secara individu dan mandiri, maka perjuangannya akan sangat berat. Berbanding jika dilakukan dengan mitra atau bahkan secara bersama dalam komunitas. Beberapa kelompok, secara lebih luas lagi komunitas, atau lebih dari itu, perlu membangun kerjasama atas kesamaan minat dan keinginan. Termasuk karena alasan minat menulis. Ini bisa menjadi pengikat untuk berhimpun dalam sebuah kelompok. Menjadi sebuah kesempatan untuk saling mendukung.

Istiqomah adalah modal seorang penulis. Berupaya untuk terus konsisten mengawal cita-cita yang dimilikinya. Menulis sebagai aktivitas dengan tujuan menegakkan pilar ilmu pengetahuan adalah perjuangan yang harus dipertahankan. Tidak cukup dengan menyatakan diri sebagai penulis, lalu selesai. Bagian terpentingnya justru setelah itu, merawat semangat yang dimiliki. Dengan segala dinamika kehidupan, ada kalanya semangat itu membumbung. Pada kesempatan yang lain, hilang tanpa jejak dan tidak bersisa sedikitpun. Tantangannya adalah mempertahankan semangat itu dari waktu ke waktu sehingga dapat konsisten melahirkan karya secara berkesinambungan.

Akhir era orde baru, mengawali tumbuhnya komunitas Forum Lingkar Pena. Sekarang bahkan bisa saja disebut organisasi kepenulisan. Sekarang sudah melintasi negara. Para penulis menyatukan diri dalam organisasi untuk saling mendukung, menyemangati, dan membuka peluang. Termasuk, kesempatan belajar bersama. Tidak saja pelajar dan mahasiswa, diantaranya juga para buruh migran di penjuru dunia. Dengan organisasi seperti ini, saya menyebutnya jamaah, aktivitas menulis akan terasa ringan. Tidak lagi seberat jika dilakukan hanya seorang diri.

Begitu juga dengan Sahabat Pena Nusantara, baru saja menyelenggarakan silaturahmi di Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya. Pertemuan di penghujung Sya’ban tersebut sebagai langkah dalam merawat semangat para penulis yang tersebar di seluruh Indonesia. Bertemu, berbincang, dan saat pulang menumbuhkan kembali semangat yang sudah dimiliki. Sekaligus menyadari bahwa perjuangan yang dilakukan tidak sendiri. Ada orang lain dalam jumlah yang sangat banyak, juga melakukan perjuangan yang sama.

Dalam dua gambaran tersebut, sesungguhnya keterampilan menulis bukanlah sesuatu yang teramat susah. Cukup dengan kemampuan menulis dan membaca, maka sebuah karya dapat wujud. Hanya saja, jika menulis lalu selesai, tidak cukup hanya sampai di situ. Langkah yang susah selanjutnya adalah bagaimana melahirkan kembali karya berikutnya. Jangan sampai, hanya melahirkan satu karya saja. Lalu setelahnya vakum dan tidak ada sama sekali.

Begitu juga dengan kualitas karya. Walaupun sekian banyak karya tetapi tidak memenuhi standar mutu, maka tetap saja tidak akan bermakna. Pada sisi inilah kemudian jamaah diperlukan. Dengan adanya komunitas untuk saling belajar, maka bisa memberikan koreksi dan dukungan untuk peningkatan mutu. Maka, keterlibatan dalam komunitas ataupun organisasi yang khusus menyasarkan pada aktivitas kepenulisan akan memberikan kesempatan untuk terus mengasah diri.

Menulis bersama dalam bentuk antologi atau bunga rampai merupakan kesempatan untuk tetap berkarya. Saat menulis sendiri sebuah buku, tentu memerlukan waktu dan tenaga yang lebih. Sementara jikalau menulis buku bersama, masing-masing penulis hanya menyumbang satu bab, ini akan memudahkan untuk melahirkan karya. Nilai positifnya juga, akan banyak perspektif yang terhimpuan dalam sebuah buku. Sehingga karya tersebut lebih kaya dan juga memiliki khazanah keilmuan yang beragam.

Olehnya, jamaah menjadi kekuatan tersendiri. Sebuah karya akan lahir karena ada pemicunya. Maka, jamaah dapat menjadi pemicu itu. Minimal, akan ada rekan yang bertanya “apa progres yang dilakukan dalam kegiatan menulis?”. Ini akan menjadi alarm untuk senantiasa menyadarkan bahwa niat menulis yang sudan dicanangkan perlu diteruskan dalam bentuk aktivitas. ***

Lahir di Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan doktor di Universiti Kebangsaan Malaysia. Sekarang ini bertugas di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong, Papua Barat. Sejak 2010 ditugaskan sebagai pelaksana kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong sampai 2011. Sejak 2012 sebagai Kepala Pusat Penjaminan Mutu STAIN Sorong untuk periode 2012-2016. Kemudian, diangkat kembali untuk periode 2016-2020. November 2016 menjadi bagian Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Kini, menjadi Pengurus AGUPENA Papua Barat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Literasi

Rahasia Menulis

Ismail Suardi Wekke STAIN Sorong & Agupena Papua Barat Menulis menjadi keperluan
Go to Top