KEJUJURAN YANG PERNAH HILANG

Rubrik Cerita Anak/Sastra Oleh

Cerpen: Sardono Syarief
(Guru SDN 01 Domiyang-Paninggaran-Pekalongan, Agupena Jawa Tengah)

“Reno! Tunggu!”seru Henri pada teman sekolahnya.

Mendengar namanya dipanggil, Reno menghentikan langkah.

“Ada apa?”tanya Reno begitu Henri tiba di hadapannya.

“Kau butuh uang tidak?”

“Ya, tentu butuh.”

“Kalau butuh, ikut aku!”

“Bagaimana caranya? Khalal tidak?”

“Tidak usah berpikir khalal atau tidak! Yang penting kau dapat uang.”

“Kalau tak jelas cara memperolehnya, aku tak butuh.”

“Ah, jangan berlagak kaya kau, Reno! Bukankah sepatumu sudah butut begitu? Sudah menganga di bagian ujung jari kakimu? Apa kau tak ingin ganti sepatu baru?”le-dek Henri seraya melirik sepatu yang dikenakan Reno.

“Memangnya kenapa?”

“Ha, ha, ha…..! Tak pantas!”tawa Henri menggoda Reno. “Masa bintang kelas 6 kok masih mau mengenakan sepatu butut semacam itu!”lanjutnya. “Kalau mau ikut aku, tentu sepatumu bakal bagus seperti punyaku.”

Pandangan Reno lurus-lurus ke arah kaki Henri. Benar juga. Sepatu Henri bagus. Tak ada yang berlubang sedikitpun seperti miliknya.

“Tapi, bagaimana cara mendapatkan uangnya, Hen?”desak Reno ingin tahu.

“M-u-d-a-h. Mudah!”seraya menempel ke telinga Reno, mulut Henri dimonyong-kan. Sehingga membuat Reno agak sewot. “Ha, ha, ha, ha……!”tawanya meledek.

Reno diam.

Henri dan Reno adalah teman sekelas. Mereka sama-sama duduk di bangku SD Negeri 01 Gumelar. Keduanya teman akrab sejak kecil. Rumah mereka saling berdekat-an. Sehingga keakraban keduanya seperti saudara.

Pada pagi yang cukup cerah itu Reno dan Henri tengah berangkat sekolah. Untuk bisa sampai ke sekolah, mereka harus menyusuri jalan desa. Nah, di tikungan jalan, te-patnya di bawah pohon manggis dekat SD itulah Henri menahan langkah Reno.

“Bagaimana? Mau ikut aku demi sepatu baru apa tidak?”

“Kalau ikut, apa yang mesti aku lakukan, Hen?”

“Kami ikut menjualkan jajanan lokal buatan Bu Suci. Dari Bu Suci, satu jenis jajan, diberi harga setoran Rp 1.250,00. Kami dapat menjualnya Rp 1.500,00. Berarti keuntungan kami Rp 250,00 tiap satu jajan. Nah, kalau kami bisa menjual seratus jajan. Berapa rupiah uang yang masuk ke kantong kami dalam sehari, Reno?”

“Wah! Cukup banyak juga ya, Hen?”

“Ya, iyalah… Maka dari itu, sepatuku bisa baru. Baju dan celana seragamku juga baru.”

“Semua kau beli dari hasil menjualkan jajan Bu Suci, Hen?”

“Ya, siapa lagi kalau bukan dari Bu Suci?”Henri meyakinkan hati Reno. “Bagai-mana? Mau ikut?”

Reno tampak diam untuk berpikir sejenak. Tak berapa lama dari itu bertanyalah dia,“Jajanan lokal apa saja yang dibuat oleh Bu Suci? Kapan kami bisa menjual jajanan tersebut? Bukankah dari pagi kami harus belajar di dalam kelas?”agak panjang perta-nyaan yang diutarakan Reno. Maklum. Karena Reno ingin tahu sejelas-jelasnya dari Henri.

“Ada klepon, ketan urap, tape goreng, singkong rebus, lepet, lopis, poci-poci, bongko, gemplong goreng, serabi, dan semar mendem. Semua asli jajanan lokal. Jajanan yang masih alami. Tidak tercampur bahan kimia. Tidak berformalin. Juga tidak banyak berpengaruh pada kesehatan tubuh pembelinya. Jelas?”

Reno mengangguk.

“Semua jajan tadi bisa kami titipkan ke kantin sekolah. Kami menjualnya pada saat  istirakhat tiba. Jelas?”

Reno mengangguk lagi.

“Apa yang akan kau tanyakan lagi sahabatku, Reno?”

“Cukup. Kalau begitu caranya, aku ikut, Hen.”

“Baik. Mari, kami ke rumah Bu Suci untuk mengambil jajanan! Setuju?”

“Lebih dari setuju,”jawab Reno mantap.

Sesaat kemudian, kedua anak itu berlalu menuju rumah Bu Suci. Rumah ibu pem-buat jajanan serba lokal itu berada di belakang SD tempat mereka bersekolah. Karena itu, sebelum bel tanda sekolah masuk, Reno dan Henri sudah bisa menitipkan barang dagangannya di kantin sekolah.

Hari pertama ikut berdagang, Reno dapat mengantongi uang Rp 20.000,00. Se-dangkan Henri Rp 30.000,00. Hari kedua, Reno mendapat untung Rp 25.000,00. Ada-pun Henri Rp 35.000,00. Hari ketiga puluh satu, Reno mengantongi sisa setoran dari Bu Suci Rp 30.000,00. Sementara itu, Henri tidak setor sepeser pun. Alasan Henri, semua uang setoran hilang. Henri bilang kepada Bu Suci, bahwa semua uang hasil berjualan terjatuh saat pulang sekolah.

“Maaf, Hen. Kenapa uang Bu Suci tidak kausetorkan semua? Apakah kau tidak takut dosa, karena telah tidak jujur?”tanya Reno di tengah perjalanan pulang.

“Takut pada siapa?”

“Pada Tuhan Yang Mahamelihat. Juga kepada Bu Suci. Karena kalaupun hari ini ia percaya pada alasanmu. Tapi di lain waktu Bu Suci pasti akan tahu kebohonganmu, Hen.”

“Alah, tidak peduli aku, Reno!”kilah Henri seperti tidak punya beban salah. “Hari ini aku butuh uang banyak. Maka uang Bu Suci aku sikat.”

“Ah, kejam sekali kamu, Henri! Curang kamu! Kamu telah menipu Bu Suci. Itu namanya korupsi, tahu?”kata-kata Reno agak tinggi.

“Korupsi apa? Uang tidak genap dua ratus ribu rupiah kok dikatakan korupsi. Ko-rupsi itu kalau jumlahnya jutaan hingga triliyunan rupiah, Reno.”

“Berapa pun jumlahnya, kalau bentuknya penyelewengan. Yaitu menyimpangkan uang milik orang lain ke diri kamu, dinamakan korupsi, Hen. Hukumnya sama. Sama-sama dosa, malu, serta hilangnya harga diri kamu di hadapan Bu Suci,”Reno diam sesaat. “Mengapa pikiranmu jadi berubah tidak jujur semacam itu, Henri?”

“Ah, tak ambil pusing, aku!”ujar Henri tidak mau mengakui kekeliruan sikapnya.

“Ya, sudah. Kalau ada apa-apa, aku tidak ikut tanggung jawab.”

“Termasuk tidak mau lagi berteman denganku, Reno?”

“Henri, kau tetap sahabat akrabku. Tetapi aku anti terhadap perbuatan curangmu.”

“Anti perbuatan korupsi, maksudmu?”

“Ya, aku anti korupsi. Apapun bentuk dan jenisnya. Siapa pun pelakunya, Hen.”

Mendengar jawaban Reno yang cukup tegas tadi, menangislah Henri di pundak Reno. Dia merasa menyesal telah berbuat curang terhadap Bu Suci. Ibu penjual jajanan lokal yang selama ini telah banyak menolongnya.***

Pekalongan, 6 Oktober 2016

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan Terbaru tentang Cerita Anak

2. Janji Kemenangan

Novelet Kado untuk Avira Oleh Sardono Syarief Jam istirahat pertama tiba. Avira,

NAMAKU JIGME

Erawati Heru Wardhani Namaku Jigme. Aku berasal dari sebuah desa kecil di
Go to Top